5. Makan Bersama

1346 Kata
5. Makan Bersama Yasmin mengaitkan jari-jemarinya di atas pangkuan, berulang kali membasahi bibirnya karena entah kenapa terasa begitu kering. Dan satu hal lagi yang tak luput dia lakukan sejak duduk di samping Tian adalah melirik lelaki itu lewat sudut mata. Sudah terlewat bermenit-menit sejak mereka keluar dari area ruko toko kue Yasmin, dan Tian masih mempertahan kebungkaman. Yasmin ingin membuka suara lebih dulu, bertanya basa-basi tapi khawatir Tian membalasnya dengan nada bak petasan. Pengang di telinganya. Akhirnya, Yasmin hanya melihat ke luar mobil, deretan gedung-gedung menyambut manik matanya, dan pepohonan rindang di pinggiran jalan. "Toko kamu sudah berapa lama?" Tian membuka suara, namun masih mempertahankan tatapannya ke depan. Raut wajahnya datar, berbeda sekali dengan Yasmin yang menoleh seketika. Wanita itu bahkan mengerjap sesaat tak percaya. "Sudah lima tahun," Yasmin menjawab, setelah dia biarkan beberapa saat untuk mengembalikan kesadarannya. Tian yang membuka pembicaraan lebih dulu adalah hal yang luar biasa menurutnya. Tian mengusap dagunya. "Nggak pernah didesain ulang. Gayanya kuno, pantas toko-nya sepi." Kali ini, ucapan Tian yang terdengar mencemooh di telinga Yasmin, membuat wanita itu hanya mampu ternganga. Yasmin tidak tahu, bagian mananya yang kuno. Karena tidak seperti yang Tian ucapkan, toko kue-nya justru baru direnovasi kurang dari dua tahun bahkan kini dua ruko menjadi satu. Dan sebenarnya, justru toko kue milik Yasmin yang paling laku di deretan ruko-ruko itu. Hanya saja, saat Tian datang tadi, memang sepi, karena belum jam istirahat siang. "Omzetnya kecil, nggak bisa buat ngembangin toko. Mami bilang, toko kamu udah mulai maju dari sebelum-sebelumnya." Tian kembali berbicara, membelokkan mobil ke kiri ke arah sekolah Clarissa. "Harusnya pandai-pandai dong, mengelola keuangan, biar bukannya gulung tikar tapi bisa buka cabang di mana-mana." Yasmin mengulum senyuman tipis. Dia merasa sedang dikuliahi, tapi rasanya menyenangkan jika itu Tian. Entah apa yang terjadi sebelum ini, hingga Tian menjadi sedikit cerewet tentang tokonya. "Toko udah renov belum ada dua tahun. Dan buat buka cabang memang dipikirkan. Tapi, itu kan harus dengan strategi matang, jadi biar aku, atau Riri nggak kewalahan nantinya." Yasmin menjawab, melirik ragu-ragu pada Tian, yang demi apa aneh sekali. Tian mendecap, sembari menepikan mobil, tepat setelah masuk gerbang sekolah Clarissa. "Udah renov kok masih kayak Toko lama." Yasmin ingin sekali mendecak tidak suka dan berseru. "Emang desainnya dibikin gaya kuno, meski nggak kuno banget." Namun kalimat itu hanya mampu mampir di dalam hatinya, tak kuasa dilisankan. Tian baru saja terlihat santai dengannya, kalau dia meladeni berdebat. Bukan hal tidak mungkin kalau Tian kembali bersikap menyebalkan. Akhirnya, Yasmin hanya menganggukan kepala, membiarkan begitu saja pendapat Tian. Dia melirik sekitar ketika Tian membelokkan mobil dan masuk ke dalam lingkungan sekolah Clarissa. "Tunggu di sini," Tian berpesan, membuka pintu mobil dan segera berjalan ke arah sekolah Clarissa yang nampak sepi. Tidak seperti yang Tian pesankan tadi, Yasmin memilih untuk turun dari mobil, bukan menyusul Tian yang sudah tak terlihat, tapi melihat-lihat sekitar sekolah. Dia berjalan ke arah pohon rindang di halaman, ada bangku panjang di sana. Dia belum pernah ke sekolah Clarissa, biasanya gadis kecil itu yang akan mendatanginya ke toko. Dan membayangkan suatu hari dia yang mengantar Clarissa ke sekolah dan menjemputnya, membuat sudut-sudut bibir Yasmin tertarik berlawanan. Clarissa, gadis manis itu sudah mencuri hati Yasmin sejak pertama kali bertemu. Awal berkenalan, Clarissa masih malu-malu bersembunyi di balik punggung Diana, namun ketika Yasmin tawari kue, diajak memilih kue kesukaan, gadis kecil itu kemudian nempel sekali dengannya. Dan keluar lah perangai yang sesungguhnya, ceria dan banyak omong sekali. Tapi, Yasmin tidak bosan, dia senang mendengar bocah manis itu berceloteh. Lalu, ketika tahu jika Clarissa anak Tian, Yasmin memang teramat terkejut. Ada berbagai spekulasi muncul di benaknya. Tentang banyak hal dibalik hadirnya seorang Clarissa di dunia. Namun kemudian dia justru tambah sayang, sesayang-sayangnya dengan Clarissa, Yasmin sudah menganggap Clarissa seperti putri kandungnya sendiri. Anak Tian juga pada akhirnya menjadi anaknya. Meski sampai detik ini, Yasmin tak mengetahui ibu kandung Clarissa. Diana tak pernah bercerita detail, hanya mengatakan Tian membawa Clarissa pulang ke Indonesia, dengan satu fakta jika ibu gadis manis itu sudah meninggal. Dan jangan ditanya, kenapa bisa hadir Clarissa. Bertahun-tahun Tian hidup di Amerika, yang menganut kebebasan. Seks bebas, tentu bukan hal tabu di sana. Tapi, apa pun keadaan Tian, Yasmin tetaplah menyayangi lelaki itu. "Clarissa sudah pulang," Ucapan itu membuat Yasmin segera menoleh, dan mendapati Tian berdiri di belakangnya beberapa langkah. Laki-laki itu tampak berwajah masam. Secepat yang dia bisa untuk menguasai diri, Yasmin mengukir senyum tipis. "Lho, sudah pulang?" Tian mengangguk. "Dijemput Mami," "Kalau begitu, mau nyusul pulang, biar makan siang di rumah, atau lain kali saja makan bersamanya?" Yasmin memberi penawaran. Tian mengembuskan napas kasar, berdecak. Merasa dipermainkan oleh sang Ibu. Dengan alibi menjemput Clarissa untuk diajak makan siang bersama, tapi nyatanya di belakang itu, Ibunya membuat rencana. "Makan siang aja." putus Tian. Itu bukan ajakan makan siang bersama kan ya, Yasmin sedikit sangsi. Pasalnya, tahu sendiri bagaimana Tian. Mengajak makan siang rasanya hal yang mustahil. "Kenapa diam. Ayo." Tian yang sudah berdiri di dekat mobil dan ketika menengok ke belakang tak mendapati Yasmin mengikuti, alhasil mendecak kesal. "Aku balik ke toko sendiri saja, Mas. Nggak pa-pa." Yasmin melangkah mendekat, mengukir senyuman tipis. Dia ingin makan siang berdua dengan Tian sejujurnya, jika ditawari. Tapi dari pada Tian nanti kesal karena waktunya terbuang, Yasmin tidak masalah untuk sendiri saja. Tian menghela napas berat. Membuka pintu sisi kemudi dan berucap, "Masuk," lalu tanpa perlu repot menunggu Yasmin menuruti ucapannya, dia sudah mengitari mobil dan duduk dibalik kemudi. Dia menekan horn beberapa kali karena kursi di sampingnya tak juga Yasmin tempati. Ingin mengomel sejujurnya, karena Yasmin terlalu lama berpikir. Dia menoleh ke arah Yasmin, melihat langkah wanita itu terlihat begitu ragu-ragu,"Cepat." pintanya, yang akhirnya membuat Yasmin segera menempati posisi di sampingnya. "Aku nggak pa-pa kok, balik ke toko sendiri. Nggak perlu diantar." Tian menoleh sekilas, "Siapa yang mau antar kamu ke toko." Yasmin menelan ludah susah payah, dia geregetan dengan percakapan antara dirinya dan Tian. Canggung sekali. Dia tahu, masih ada sekat terlampau tebal di antara mereka. Dia juga tahu, hati Tian masih tertutup rapat untuknya. Tapi, kalau Yasmin ingin hubungan mereka sesantai teman, apa itu sulit. Lidahnya untuk mengucap maaf, terasa masih kelu sekali. Terakhir dia mencoba, satu hari sebelum resepsi. Dan yang dia dapatkan, tatapan tajam Tian yang seolah menguliti dirinya. Sekali lagi, Yasmin diam. Nanti kalau Tian menurunkannya di jalan, dia akan berbesar hati menerima. Namun kemudian keningnya mengernyit ketika bukannya menghentikan mobil di tepi jalan dan mengusirnya, Tian justru mengarahkan mobil ke deretan kedai-kedai makan. "Kita makan di sini saja," Tian menghentikan laju mobilnya di lahan parkir dekat pohon. "Jangan menunggu aku menyuruh turun, baru kamu turun. Kamu bukan anak kecil yang sedikit-sedikit diarahkan untuk ini itu." Tian mengangkat sebelah alis ke arah Yasmin, ketika wanita itu mengangguk, dia mendecih pelan dan turun dari mobil. Kali ini, seperti yang sudah Tian ucapkan tadi, Yasmin mengikuti dirinya. Berjalan depan belakang memindai kedai-kedai dan berpikir menu makan siangnya kali ini. "Soto bogor, kamu mau?" Tian menghentikan langkah, menanti jawaban Yasmin. "Boleh," Yasmin mengulum senyum samar. "Dan kenapa mata kamu merah?" Tian sedikit merendahkan tubuh, untuk lebih menelisik manik mata Yasmin yang baru dia sadari sedikit memerah. Refleks, Yasmin mengusap matanya. "Kelilipan debu, sepertinya." dustanya. Padahal sejak turun dari mobil, dia tak bisa menyembunyikan buncahan bahagia yang akhirnya menjalar ke bola matanya penuh haru. "Jangan dikucek," Tian mencekal pergelangan tangan Yasmin yang mengusap-usap mata. Dia menurunkan tangan Yasmin dan semakin mendekatkan wajah. Lalu meniup mata wanita itu. "Sudah lebih baik?" tanyanya. Yasmin mengangguk, membungkam bibirnya teramat rapat. Dia bisa melihat dengan jelas bola mata Tian yang memantulkan dirinya. Garis rahang lelaki itu yang dilihat dari jarak sedekat ini, tampak ditumbuhi rambut-rambut halus. Dan Yasmin begitu ingin mengusapnya, lalu menanamkan satu kecupan penuh cinta di rahang itu. Namun, tentu saja. Itu hanya sebatas angan bagi Yasmin. "Lagian, kok bisa kemasukan debu, bulu mata sepanjang itu." Tian kembali menegakkan tubuh, sudah melepas cekalan tangannya. Kemudian berjalan ke arah kedai Soto Bogor yang tadi dia bicarakan. Dengan gaya santai, seolah hal yang dia lakukan tadi tidak ber-efek apa pun. Meninggalkan Yasmin yang akhirnya meneteskan sebulir bening air mata. Dia bahagia. Tak peduli kalimat menyebalkan apa yang Tian suarakan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN