Sherly menyenggol lengan Iris yang mana membuat gadis itu terlihat kesal bahkan melotot kepadanya.
"Ponselmu terus nyala. Lihatlah ada yang menelepon," sembur Sherly kesal. Iris tampak tak peduli. Di sana tertera nama Daren. Tentu dia tak akan melupakan kejadian kemarin di mall.
"Masih aja ngambek. Udahan ngambeknya. Apa kamu mau Om Daren diambil sama tante-tante kemarin? Btw dia mantan istrinya, cantik dan seksi ternyata."
Iris melotot ketika mendengar pujian Sherly terhadap Fris. "Yak! Kamu temanku apa temannya? Aish, menyebalkan. Bahkan masih cantikan aku di sini," sahut Iris yang tak ingin kalah dengan mantan istri Daren itu. Sherly tertawa di sana.
"Ya sudah angkat teleponnya dong. Tumben kamu anggurin Om Daren. Kalau dia pergi sama cewek lain aja pasti cemburu. Sekalinya dibaikin malah sok jual mahal."
Bolehkah Iris memplester mulut temannya ini. Dengan cepat Iris pun menyambar ponsel yang tak bersalah itu. Sherly cekikikan, dia berhasil membujuk gadis ini.
"Apa?!" sembur Iris ketika panggilan sudah terhubung. Sherly meringis, pasti Daren terkena mental ketika bersama gadis ini.
"Pelankan suaramu Iris," tegur Daren. "Kamu ada di mana?"
"Ngapain tanya-tanya? Aku sibuk belajar. Bukankah Om Daren juga sedang sibuk sama mantan istri?" sindir Iris yang menguji kesabaran pria di seberang sana. Sherly memberikan dua jempol bagi Iris yang kali ini lebih berani dan tegas pada Daren.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa selain sebagai mantan istri dan mantan suami. Sekarang kita berteman," jelas Daren di telepon. Tentu hal ini sudah harus dia jelaskan kemarin. Namun, Iris tentu tak mau mengangkat panggilan telepon pria ini. Jika bukan paksaan Sherly, gadis ini masih tetap pada mode diamnya.
"Jadi ... sekarang posisimu ada di mana?"
"Kampus," jawab Iris singkat. Daren tau Iris masih kesal di sini. Tapi, kemarin dia benar-benar tak ingin terjadi keributan. Untuk itu dia terpaksa membawa Fris pergi.
"Bisakah kamu keluar sebentar? Aku sebentar lagi sampai di kampus."
Iris menegakkan tubuhnya. Daren ke sini? Ngapain? Seketika pikiran licik Iris pun mencuat.
"Maaf, aku sedang sibuk mengerjakan tugas bersama temanku," jawab Iris. Sherly melotot, padahal keduanya sedang free setelah kelas terkhir tadi.
"Teman? Temanmu yang kemarin? Bilang saja kamu ada urusan sebentar," kata Daren.
"Bukan. Itu Sherly. Temanku sekarang beda lagi."
"Siapa?"
"Sam," jawab gadis ini dengan senyum kemenangan di sana. Daren yang mendengar satu nama itu tanpa sadar sudah mencengkeram kemudi mobilnya. Dia masih ingat betul bagaimana perhatiannya Sam pada gadis ini.
"Hentikan omong kosongmu itu Iris. Aku tau kamu berbohong."
Sherly tampak takjub bagaimana cara Iris membuat Daren kesal sekaligus cemburu. Pembalasan yang setimpal untuk kejadian kemarin di mall.
"Untuk apa aku berbohong? Kami berada di kantin sambil makan siang juga. Sebenarnya dia cukup perhatian juga ternyata setelah aku pikir-pikir," kata Iris memuji Sam di sana. "Ah iya, jika Om Daren mau bicara dengannya tunggu sebentar ya. Dia sedang antri membelikanku makan siang," sambung Iris.
"Tunggu aku di sana!"
Putus Daren cepat. Iris mengernyit ketika panggilan terhenti. Dia kemudian menatap Sherly di sana.
"Jadi bagaimana? Om Daren akan ke sini?" tanya Sherly yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka.
Iris mengedikkan bahunya. "Mungkin. Tapi biarkan saja, aku tidak peduli," jawab Iris santai.
"Hai, girls."
Kedua gadis ini menoleh pada sosok yang duduk tepat di kursi sebelah Iris. Sam. Padahal baru beberapa saat lalu Iris menyebut nama pemuda ini di dalam panggilannya dengan Daren.
"Hai Sam," sapa Iris dan Sherly bergantian.
"Kalian sedang sibuk apa?" tanya Sam kepada keduanya.
"Tidak ada, Sam. Kami hanya mengobrol dan mencoba menikmati makanan di sini," jawab Sherly mewakili. Iris pun mengangguk setuju. Sekaligus untuk menunggu apakah Daren benar-benar akan datang.
"Weekend nanti apakah kalian sibuk?" tanya pemuda ini.
"Aku free," jawab Sherly. "Bagaimana denganmu?" tanya Sherly kepada Iris.
Sebenarnya dia pun tak ada kegiatan. Lagi pula Daren juga tak mengajak ke mana-mana. "Always free," jawab Iris dengan senyum terbaiknya.
"Bagus! Aku berencana mengajak kalian ke pantai. Pantai ini ada di kota sebelah. Aku yakin kalian pasti suka," kata Sam.
"Terdengar bagus. Anggap saja liburan setelah mengerjakan tugas. Sudah lama sekali kita tidak liburan," sahut Iris. Itu benar. Arvie sibuk dengan Cinta. Eden juga sibuk dengan pekerjaan. Dan di mana ada Eden, di situ pasti ada Milly. Untuk itulah Iris hanya bisa pergi liburan bersama teman-temannya.
"Iris."
Sebuah panggil dari arah belakang gadis itu membuat ketiganya menoleh. Seorang gadis yang berada di kelas yang sama dengan Iris dan Sherly tampak menghampiri keduanya.
"Kamu ditunggu di ruang pertemuan," ungkap gadis itu. Iris mengernyit bingung.
"Ditunggu siapa?"
Gadis tadi mengedikkan bahunya. Setelahnya dia pun pergi. Iris tak habis pikir dengan orang-orang aneh di dunia ini.
"Mungkin ada info mengenai lomba lagi," ujar Sherly yang diangguki oleh Sam. Iris pun berpikir demikian. Gadis ini pun mengemasi barang-barangnya.
"Aku pergi duluan ya. Hubungi aku jika kamu akan pulang Sherly."
"Oke."
Tak lupa juga Iris berpamitan pada Sam yang mana pemuda ini terus memperhatikan punggung Iris yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Kamu benar-benar menyukai Iris?" tanya Sherly langsung. Terlihat jelas jika Sam salah tingkah karena mendapat pertanyaan ini. Sherly pun hanya tertawa ringan di sana. "Kamu harus ekstra usaha untuk mendapatkan hatinya. Lagi pula sainganmu cukup berat saat ini," ungkap Sherly.
"Apa Iris menyukai seseorang sekarang?" tanya Sam penasaran. Sherly mengangguk. Dia ingin Sam tak terlalu terpaku pada temannya itu di mana yang pada dasarnya Iris tak pernah menganggap Sam melebihi teman.
"Siapa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Yang jelas jika kamu mau mendapatkan Iris, kamu harus berusaha lebih keras lagi," jelas Sherly. Sam pun mengangguk paham. Usaha.
Iris akhirnya sampai di ruang pertemuan. Baru saja gadis itu menutup pintu, pinggangnya langsung ditarik dan tubuhnya terhimpit ke dinding. Gadis itu membulat ketika tau siapa orang yang ingin bertemu dengannya itu.
"Sepertinya kamu terkejut," ucap Daren yang menangkap jelas ekspresi gadis ini. Iris segera menormalkan mimik wajahnya. Ingat, dia masih dalam mode kesal terhadap pria ini.
Iris hendak melepaskan pegangan Daren di pinggangnya, namun pria ini tak mau memindahkan tangannya itu. Iris tak berani menatap manik mata Daren secara langsung. Dia menghadap ke arah lain, mencari objek yang tepat untuk dia lihat selain Daren tentunya.
"Kamu mengabaikanku sekarang," kata pria ini kembali. Dia meremass pinggang gadis itu, Iris melotot dan akhirnya keduanya pun saling berhadapan. "Ada apa? Kemarahan karena kemarin masih berlanjut?" kata pria ini lagi.
Iris tak mau mengeluarkan suaranya, dia akan tetap diam. "Jadi ... kamu benar-benar bohong soal Sam tadi?"
"Kata siapa?!"
Sial! Iris keceplosan. Daren tersenyum tipis. Akhirnya dia mampu membuat gadis ini berbicara. "Aku memang bersama Sam di kantin. Bahkan kami sudah janjian untuk liburan ke pantai weekend nanti," terang Iris. Memangnya hanya Daren yang bisa jalan bersama Fris? Iris pun juga bisa.
Tatapan pria itu menajam, pegangan di pinggang Iris juga semakin erat. "Jangan pergi," kata Daren terdengar dalam dan penuh nada perintah. Iris tersenyum sinis, Daren yang egois.
"Aku akan tetap pergi," jawab Iris menantang pria ini.
"Jadi ini pembalasan karena kemarin?"
"Menurut, Om?"
Iris tersenyum menang. Daren menarik gadis itu yang membuat tubuh Iris berdempetan dengannya. "Jangan coba-coba pergi dengan siapa pun tanpa seijinku, Iris," peringat Daren.
"Tapi Om Daren bisa pergi sama Tante Fris," balas Iris.
"Aku dipaksa."
"Memang Om Daren aja yang mau. Apa Om pikir aku tidak bisa pergi bersenang-senang? Keputusanku tetap sama. Aku akan pergi liburan bersama Sam nanti," kata Iris sembari mencoba meloloskan diri dari kukungan pria ini.
Daren kesal, dia mendorong gadis itu cukup kuat ke dinding. Iris meringis sembari memegangi lengannya yang sedikit nyeri. Daren mengunci pergerakan gadis ini dan langsung menyambar bibiir merah muda milik Iris.
Serangan tiba-tiba ini membuat gadis ini kewalahan. Bahkan Daren menekan tubuhnya cukup kuat ke dinding. Dia mengabsen setiap jengkal mulut Iris. Ini benar-benar membuatnya pusing.
"Om ..."
Bahkan Daren tak memberikannya kesempatan bicara. Pria itu terus menyerang Iris hingga akhirnya gadis itu menyerah dan menunggu kekesalan pria ini reda. Ya, dia tahu Daren mencoba melampiaskan kekesalannya.
Iris mendorong tubuh keras Daren dengan tenaga kuatnya meskipun itu hanya mempu membuat pria ini melepaskan tautan bibiir keduanya. Kedua orang ini mencoba mengatur napas masing-masing. Iris memandang Daren kesal.
"Kita sedang ada di kampus Om. Om Daren jangan bertindak seenaknya. Bagaimana jika ada orang yang masuk dan melihat kita?" sembur Iris. Gadis itu mencoba memperbaiki penampilannya akibat keegoisan Daren.
"Kamu memaksaku melakukan ini. Jika perlu aku akan umumkan ke semua orang jika tak boleh satu pun pria yang boleh mendekatimu."
Bola mata gadis ini membulat sempurna. Kenapa Daren jadi lebih berani seperti ini?
"Mau Om Daren apa sih? Aku sudah katakan jangan sampai orang-orang tau apalagi keluargaku. Om Daren mau buat Iris dihukum oleh mereka?" protes gadis ini. Jika Daren nekat, Iris tau akhir dari kisah mereka sebentar lagi.
Pria itu menarik pinggang Iris yang mana membuat tubuh mereka saling berdekat. "Jika kamu tidak ingin mereka tau, maka ikuti perkataanku. Jika aku katakan tidak, berarti jangan kamu lakukan. Kamu sendiri yang memintaku untuk memberimu kesempatan bersama denganku bukan? Maka tugasmu adalah menurut padaku atau aku akan katakan jujur bagaimana sikapmu sesungguhnya di depan keluargamu nanti jika kamu terus membangkang saat ini," bisik pria ini tepat di depan wajah Iris.
Ini terdengar seperti ancaman. "Jadi ..."
"Ya. Aku memberimu kesempatan sekarang. Jika kamu menyia-nyiakannya maka bersiaplah menanggung resiko yang mungkin tak bisa kamu bayangkan Iris," potong Daren dengan cepat. Iris menelan ludahnya dengan susah payah. Ini terdengar menyeramkan sekarang.
Gadis ini hendak pergi, namun Daren melarangnya. "Kenapa? Kamu mau kabur dan pergi dariku lagi?" ucap Daren. Iris menggeleng pelan. Pria itu menyentuh bibir Iris yang selalu menjadi candu untuknya. "Aku masih ingat bagaimana kamu menggunakan cara licik dengan bibirmu ini, Iris. Aku tidak menyangka bisa terperangkap dengan kepintaranmu itu. Hal ini cukup menarik untukku."
Bulu kuduk gadis ini meremang. Apakah dia salah sudah menempatkan Daren pada titik tertinggi di dalam hatinya? "Jadi ... apakah weeekend nanti kamu akan tetap pergi ke pantai bersama teman priamu itu?"
Dengan cepat Iris menggeleng. Daren tersenyum dan mengangguk setuju. "Bagus. Weekend nanti datanglah ke rumah," perintah pria ini. Dengan ragu Iris pun mengangguk. "Berenang di rumah dan di pantai apa bedanya. Siapkan baju berenangmu, kita akan berenang bersama," lanjut Daren dengan senyum arti miliknya.
___
Jadi hari ini update lagi setelah semalam update ya. Semoga suka. Jangan lupa komen dan tap love ^^
INFO GIVE AWAY:
Jadi GA kali ini masih seputar cerita Om Duda Mesumku. Jangka waktu Give Away nya sampai akhir bulan nanti yakni 31 Juli 2021 (tolong inget tanggalnya ya).
AKAN ADA SALDO SHOPEEPAY/PULSA 25K BAGI 4 PEMBACA TERAKTIF.
Jadi kalau mau menang GA jangan lupa komen ya. Nanti aku akan cek siapa paling aktif komen dari part awal sampe tanggal 31 Juli 2021 nanti. Tentunya komennya juga aku perhatiin ini dan nggak asal komen ya ^^
25k memang nggak banyak, tapi ini lumayan buat telfon/sms keluarga, teman, pacar, mantan, atau musuh. Bisa juga buat belanja di s****e atau buat beli koin di app innovel/dreame juga bisa, loh. Lumayan kan 25k itu.
Oh iya, kalau banyak yang aktif dan komennya pada seru-seru, aku akan tambahin pemenangnya tapi nominalnya tetap sama 25k ya.
Pengumuman pemenang akan aku kasih tau tanggal 1 Agustus 2021.
So, yuk ajak teman lainnya untuk ikutan. Jangan lupa follow akunku biar dapat notif kalau ada cerita baru yang aku publish. Dan pastinya jangan lupa masukkan cerita Om Duda Mesumku di library/perpustakaan biar nggak ketinggalan update kisah Iris dan Daren.