Karena rumor yang menimpanya belum menemukan titik terang sampai hari ini, Kirana akhirnya memutuskan untuk tidak datang ke kampus terlebih dulu. Segala sesuatu mengenai perkuliahan, sebisa mungkin ia selesaikan di rumah dengan dibantu Yeri. Siang ini, mereka tengah sibuk mengerjakan tugas-tugas yang seperti enggan berakhir. Kirana sudah mengacak rambutnya hingga berantakan. "Mengapa sulit sekali!" pekiknya. Dirundung banyak permasalahan, belum juga dengan tugas. Pikirannya semakin kacau saja. Kantung mata yang semakin membesar juga wajahnya yang tampak pucat selalu menjadi kekhawatiran keluarganya. Tetapi, Kirana tetap mengatakan semuanya baik-baik saja. "Ra, ponselmu terus berbunyi. Apa tidak sebaiknya diangkat? Mungkin, itu sesuatu yang penting." Kirana yang tengah menulis terpaksa

