"Ayo, Rara. Katanya mau meminta pertangungjawaban." Yeri tidak berhenti tertawa sepanjang perjalanan pulang setelah mengetahui siapa yang menabrak dan menumpahkan Americano ke baju Kirana. "Kubilang diam, Yeri." Kirana membuang pandangannya ke luar. Menghindari Yeri yang semakin menggodanya karena wajahnya yang memerah. Hasrat yang sebelumnya berkobar dalam diri Kirana, kini menghilang begitu saja. Seperti bara api yang tiba-tiba disiram air. Ia mati-matian menahan malu karena godaan Yeri. Belum lagi, ayahnya juga sempat menggodanya. Bahkan, menawarkan bantuan. "Kenapa tidak menerima bantuan appamu? Padahal, kamu bisa kan menemuinya untuk sekedar menagih maaf." Seperti menulikan telinganya atas perintah diam dari Kirana, Yeri tetap menggoda sang sahabat sambil tertawa geli. "Astaga!

