Mengenal Allah

1995 Kata

Pagi di Seoul itu cerah tapi sejuk—jenis pagi yang membuat siapa pun ingin berjalan pelan-pelan, menyerap atmosfer kota sambil sesekali menghirup udara dalam-dalam. Setelah sarapan di hotel—menu campuran antara continental breakfast dan beberapa banchan Korea yang bisa dipastikan halal—rombongan kecil itu bersiap memulai hari mereka dengan misi khusus: menjelajahi jejak Islam di jantung negeri ginseng ini. “Kalau di Tokyo kita punya Tokyo Camii, di sini ada Seoul Central Mosque,” kata Nayla, yang tampaknya sudah membaca banyak artikel semalam. “Masjid utama di Korea Selatan, berdiri sejak tahun 1976. Kita harus ke sana.” Raisa menggendong Rafael yang masih mengucek-ngucek mata sambil sesekali menguap lebar. “Masjid tua ya berarti. Aku penasaran banget sih,” gumamnya. Khalil di sampingnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN