Singa Betina

1905 Kata

Angin siang menyapa lembut kulit Nayla saat ia tiba di taman belakang hotel, tempat lampu-lampu taman menggantung di antara pepohonan yang ditata rapi. Beberapa tamu tampak duduk santai di kursi taman yang tersebar, menikmati udara segar sambil berbincang ringan. Tapi sudut paling belakang taman itu, yang agak tersembunyi di balik dinding tanaman dan deretan bunga lavender, kosong. Di sanalah Arman berdiri menunggu. Tangan pria itu berada di dalam saku celana, wajahnya murung, dan langkahnya tampak gugup mondar-mandir, seperti seseorang yang belum yakin harus mulai dari mana. Saat Nayla mendekat, Arman langsung berhenti berjalan. Matanya menatap Nayla dengan sorot campur aduk: ada gugup, ada ragu, ada harapan kecil yang menari di dalam pupilnya. Tapi Nayla tetap tenang. Ia berjalan manta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN