Jason menyesap minumannya pelan. Gelas kristal berisi wine halal itu hanya jadi pelengkap genggaman di tangannya—ia tak benar-benar menikmati rasanya malam ini. Pikirannya melayang ke satu titik yang sejak tadi tak bisa ia abaikan. Pusat perhatiannya tidak ada di sekitar para kolega yang silih berganti menyalaminya, tidak juga pada senyum ramah rekan-rekan bisnis yang menyambutnya seolah ia tak sedang diguncang masalah rumah tangga. Dan sama sekali bukan pada sosok Sonia yang berdiri tak jauh dari sudut ruang, mengenakan gaun hitam elegan, tapi tatapannya seperti peluru—terus menembus punggung Jason dari kejauhan. Ia tahu Sonia terus mengawasinya. Ia bisa merasakan intensitas sorotan itu seperti bara di kulit. Tapi ia memilih untuk tak memedulikan. Tidak malam ini. Tidak saat pikirannya s

