Di Ujung Batas

1898 Kata

Adiknya sudah ia suruh pulang. Mira memastikan gadis itu tak pulang terlalu malam. Ia tahu benar kondisi kampung, jalanan yang makin sepi selepas Magrib, dan angkutan umum yang makin jarang lewat. Ia tak mau adiknya sampai di rumah dalam kondisi kelelahan, atau lebih buruk, mengalami hal-hal tak diinginkan. Ia masih kakak, dan rasa khawatir itu tetap ada meski amarah pada keadaan belum juga reda. Sebelum adiknya pergi, Mira menyelipkan selembar uang ratusan ribu yang dilipat rapi ke dalam amplop kecil. Jumlahnya tak banyak. Hanya satu juta. Tapi itu yang bisa ia berikan saat ini. "Buat Mamak," katanya singkat, menatap mata adiknya dengan sorot serius. Bukan untuk bayar hutang, bukan juga untuk menyenangkan hati siapa-siapa. Tapi sebagai bentuk kasih sayang dan rasa tanggung jawab kepada p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN