Malam itu di kamar hotel yang hangat dan tenang di Xi’an, kelimanya—Luna, Mira, Nayla, Raisa, dan Talia—akhirnya merebahkan tubuh dengan lega. Perjalanan mereka sejauh ini sudah terasa seperti sebuah pencapaian luar biasa, tapi tubuh dan kenyataan berbicara hal lain: mereka bukan lagi gadis-gadis dua puluhan yang bisa melompat dari satu kota ke kota lain tanpa jeda, hidup dari roti isi dan semangat backpacking semata. Tidak. Kini semuanya terasa... berbeda. Perjalanan panjang, jet lag, penyesuaian cuaca, dan bahkan persoalan mencari makanan halal di negara-negara non-Muslim mulai terasa sebagai tantangan harian yang cukup menyita energi. Luna menguap sambil menggulung rambutnya, duduk bersila di kasur dengan wajah serius tapi santai. “Jujur ya, aku ngerasa kita terlalu ambisius waktu bil

