Kaligrafi

2051 Kata

Langit Palembang malam itu tampak murung, senada dengan wajah Arman yang baru saja turun dari ojek online di depan rumah kontrakan kecil yang kini menjadi “istana” barunya bersama Atika. Rumah itu sempit, berderet bersama rumah-rumah lain yang sama-sama terlihat seadanya. Dindingnya masih triplek separuh, dengan cat mengelupas dan pintu besi yang berderit saat disentuh. Sebuah kontras yang menyakitkan dibandingkan dengan rumah dua lantai bergaya Skandinavia yang dulu mereka tinggali selama beberapa bulan—yang tentu saja atas nama Arman tapi uangnya buksn hanya dari dia. Arman menyeret langkah dengan tubuh yang terasa berat, ditambah kausnya yang basah oleh keringat dan emosi yang belum juga reda sejak ia berteriak-teriak seperti orang kesurupan di depan butik Nayla. Video itu sudah viral.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN