Bab 9. Ibarat Roti Berjamur

1006 Kata
“Status kami tidak sama.” Pandangan mata Luna melamun. Diana menelisik ekspresi darinya lama, lantas menyentuh permukaan tangan Luna. Begitu kepalanya menoleh, ibu tirinya ini langsung mengulas senyum. “Sejujurnya kamu masih cinta sama Yuda?” Luna membalas tatapan ibunya tak kalah lekat. “Bukankah hati tidak seperti batu?” singgung Luna dengan tangan satunya meremas permukaan sofa. “Tidak mudah melupakan seorang suami.” Jemari Diana mengusap tangannya. “Biar mama tanya, memangnya Yuda adalah suami yang terbaik?” Sejenak Luna membisu, otaknya sedang mengobrak-abrik data, mencari letak kata terbaik dari seorang Yuda terhadapnya. Nihil, itulah yang dirinya dapatkan sampai kepala menggeleng. Yuda hanya peduli pada diri sendiri, kedua pada Hafiz. Bibir Diana kembali mengulas senyum. “Jadi, apa yang membuat kamu sungkan melupakan Yuda, Luna?” “Meski berhasil melupakan Yuda, tapi Ma. Ada penghalang terbesar dalam hubunganku dengan Bastian nanti.” “Siapa? Neneknya?” Tebakan dari Diana yang sangat tepat ini, membuat Luna mengangguk lagi. Di hadapan ibu tirinya ini, entah sudah berapa kali Luna melakukannya. “Penghalang itu, ibarat seekor bayi kanguru. Neneknya berlindung di kantung Bastian.” Diana mulai menepuk tangannya, mungkin inilah nasihat yang sebenarnya ingin dikatakan. “Jadi, Luna. Selagi Bastian mencintai kamu, neneknya sekali pun tidak akan mampu mengganggu kamu.” Jika cinta Bastian telah mencapai batasnya, maka nasib Luna ibarat roti yang jamuran sebelum tanggal kadaluarsanya. Kemungkin untuk dibuang sangatlah besar. *** *** Demi memenuhi perabotan di apartemen yang belum lengkap, membuat Luna mengunjungi pusat peritel peralatan rumah tangga dan furniture yang kebetulan jadi satu lokasi. “Kulkas ini bagus, Luna.” Tentu saja Luna tidaklah pergi sendirian, ia menarik Rena untuk turut serta dengannya. Terlebih sahabatnya ini begitu pandai membandingkan harga dengan produk lain, jadi Luna sekalian bisa mengirit. “Aku mau satu set meja makan ini.” Setelah selesai berkeliling membeli barang dari yang dibutuhkan sampai diambil hanya karena lucu saja. Rena mengajak Luna ke salah satu butik di sekitar untuk mencoba produk terbaru. “Selagi ada di sini, kan. Jadi, sekalian beli saja.” Luna menarik napas, meski begitu dirinya mengikuti Rena yang berjalan memimpin. “Aku beli pakai kartu milik ibuku, jadi harus punya batasan sendiri,’’ komennya. Rena menarik tangannya karena jalannya lambat. “Sudahlah, Luna. Aku yang bayar, jadi pilih saja apa yang kamu mau.” Mendengar hal itu, Luna menyipitkan mata. “Kamu sudah baikan dengan ayahmu?” Sahabatnya ini langsung menghindari tatapan mata Luna. Dirinya tahu kalau hubungan Rena dengan sang ayah tidak pernah akur, sehingga keuangan Rena dibekukan. “Uang dari mana kamu? Hasil gesek tembok semalam,” tuduhnya. “Mulutmu ini selalu kurang ajar,” komen Rena sembari menggelengkan kepala. Tubuh Luna dan Rena terpaksa mematung ketika beberapa pakaian berserak di hadapannya. Begitu mata memandang sosok yang dikenal sedang membuang pakaian lainnya dari display toko. “Dasar butik murahan, orang miskin saja dibiarkan masuk.” Rena langsung menunjukkan raut kesal. Orang yang sedang menghina tak lain adalah Anisa, nenek dari Bastian. Sosok penghalang terbesar yang disebutkan oleh Luna. “Panggilan manajernya sekarang!” Luna menatap sahabatnya yang sangat ingin memaki, mungkin jika orang lain, maka Rena akan menyebut nenek Bastian sebagai orang tua yang sudah bau tanah. Namun, Rena memilih menahan diri untuk tidak memaki. “Ibu Anisa memasuki butik ini, berarti kita berasal dari kasta yang sama.” Namun, Luna tidak bisa diam saja dihina seperti itu. Rena otomatis melirik ke arahnya, merasa kaget karena Luna yang malah menanggapi. Anisa tersenyum sinis, hingga wajah yang keriput itu semakin menunjukkan usia aslinya. “Tidak perlu panggil manajer, jika Ibu Anisa merasa tidak pantas satu butik denganku, maka ….” Tatapan Luna tertuju pada pintu butik yang sengaja terbuka lebar, tentunya untuk menyambut para tamu dari kalangan mana saja, terpenting tampilan dan dompet mereka menunjukkan status. “Memang Keputusan Bastian untuk menikahimu itu sebuah kesalahan terbesar! Dasar anak haram!” Mata Luna terpejam sejenak, ketika kata itu memasuki telinganya. Dua kata yang berhasil menusuk hatinya ini, membuat Luna menatap tajam ketika matanya terbuka. “Sayangnya, bukan aku yang menginginkan Bastian,” sahutnya dengan angkuh. Luna mengambil tangan Rena untuk melanjutkan langkah kaki mereka berdua. Namun, dirinya sempat berhenti sejenak. “Ah, satu lagi. Tolong beri tahu Bastian untuk berhenti menemuiku.” Bibir Luna mengulas senyum sinis. “Itu pun jika Ibu Anisa punya kendali atas Bastian.” Setelah mengatakannya, Luna langsung melangkah pergi membuat Rena mengikuti dirinya. “Luar biasa,” puji Rena sembari mengacungkan jempol. Namun, Anisa yang nampak tidak terima itu terburu berlari ke arahnya hanya untuk menjambak rambut Luna dari belakang. Tubuh Luna tentu saja tertarik hingga belakang. Rena melototkan mata dengan kaget luar biasa. “Luna!” *** “Kamu marah sama aku juga?” Sore itu, Luna yang sedang menerima barang dari kurir toko perabotan hanya membisu dan mengabaikan Bastian. Pria ini langsung datang ke apartemennya begitu mendengar apa yang terjadi di butik. “Tolong letakkan di bagian kiri,” ujar Rena mengatur dari dalam rumah. Bastian menatap Luna yang masih diam dengan raut marah. “Haruskah aku meminta nenekku untuk meminta maaf padamu?” Luna mulai merasa terganggu dengan kehadiran Bastian, hingga mengangkat pandangan dan begitu tajam. “Orang miskin seperti aku, tidak sanggup menerima maaf dari kalangan atas macam kalian.” Helaan napas dari Bastian langsung terdengar. “Apa yang harus aku lakukan, Luna? Supaya kamu mau bicara lagi dengan aku.” “Berhenti menemui aku.” Tanpa berpikir panjang lagi, Luna langsung mengutarakan rasa kesalnya dengan mengusir Bastian. “Jangan begini, Luna. Masa kamu memintaku berhenti menemui calon istri sendiri.” Luna mengabaikan Bastian lagi, tangannya menceklis apa yang didatangkan oleh petugas di hadapannya. “Kamu sudah janji untuk menikah dengan aku.” Begitu Bastian membahas, Luna mendadak emosi lagi. “Kamu memaksa aku!” Rena yang mendengar suara teriakan dari Luna, memutuskan meninggalkan kegiatan dan keluar rumah. Melihat situasi antara Bastian dan Luna yang terlihat buruk. “Bukankah kamu punya nomor pelukis Antonio?” tanya Rena langsung mendorong tubuhnya untuk memberi jalan. Kepala Bastian mengangguk, meski pandangan mata tertuju pada Luna. Menyaksikan langusng mantan kekasih yang sangat marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN