Bab 10. Kena Pelet

1043 Kata
“Aku minta tolong padamu, untuk memintanya merespons pesan Luna.” Rena yang seenak jidat meminta bantuan sembari cengengesan membuat Luna kesal, hingga tangannya yang ringan langsung memukul lengan. Rena melirik dengan raut heran, padahal wanita tersebut hanya ingin menciptakan suasana baru. “Tentu, akan aku sampaikan padanya.” “Sebagai gantinya, bagaimana kalau kamu ikut makan malam dengan kami?” Tawaran itu benar-benar membuat kesabaran Luna yang setipis tisu habis. Hingga mendorong Rena semakin jauh, kemudian menutup pintu rumah dengan sangat keras. Bastian hanya bisa menarik napas panjang, sementara Rena berdecak kesal karena Luna yang bertindak berdasarkan emosi. “Dasar anak sialan itu!” maki Rena. Meski Luna sudah keterlaluan, tapi mendengar wanita tercinta dimaki begitu membuat Bastian langsung melirik sangat tajam. Rena yang menyadari tatapan itu menoleh dengan bibir tersenyum merasa bersalah. “Maaf, aku terbiasa seperti itu dengan Luna, tanpa memikirkan perasaanmu.” Bastian hanya memandang pintu tertutup dalam diam. Mendadak dia merasa, betapa beruntungnya tukang angkut perabotan yang bisa keluar masuk rumah Luna begitu mudahnya. “Tolong bujuk Luna, aku akan meminta Antonio supaya bisa bertemu dengan kalian.” Melihat Bastian yang mulai berbalik dan berjalan pergi membuat Rena menarik napas. Begitu pria tersebut sudah masuk ke dalam lift dan tak lagi nampak hidungnya, Rena langsung mengetuk pintu. “Buka pintunya sekarang, Bastian sudah pergi.” Begitu mendengar ucapan sahabatnya itu. Luna langsung membuka pintu dan menunjukkan raut masih kesal pada Rena. “Kamu ini ya, sudah bukan anak kecil lagi. Bicara baik-baik sekali pun merasa marah.” Luna tatap Rena yang memasuki rumah. “Bukankah orang yang paling tidak bisa bicara baik saat marah adalah dirimu?” Sindiran itu membuat Rena menoleh, namun kepala mengangguk mengakui. Meski terlihat sama-sama menunjukkan raut kesal, tapi mereka berdua kembali mengangkut perabotan bersama. “Nanti kalau Antonio membalas pesanmu, segera respon!” Itulah yang dipinta oleh Rena. Namun, saat malamnya tiba. Luna sedang memasak mie di dapur sembari mendengarkan musik, ia mendapat pesan dari Antonio. Bukannya merespons, Luna langsung menggeser dari layer supaya notifikasinya hilang. “Dia pikir aku tidak bisa membujuk Antonio apa? Aku bisa tanpa bantuan Bastian!” *** “Kamu sih gila!” Makian itu membuat tangan Bastian yang ingin meraih segelas wine terhenti begitu saja. “Bagian mana yang kamu sebut gila itu, hah!” Malam itu, Bastian nampak bertemu dengan Antonio untuk menghabiskan wine bersama di sebuah lounge bar hotel. Antonio meneguk whiski yang kadar alkoholnya berkali lipat lebih besar ketimbang wine. Bibir Antonio mengulas senyum menertawai. “Kamu melamar kekasihmu itu di tengah rel kereta, bertepatan dengan kereta hendak melintas pula.” “Orang waras mana yang melakukannya?” Bastian mulai mengambil gelas dan meneguk wine dengan santai. Dia tidak ingin mendebat soal orang waras yang mengajak menikah di tempat ekstrem, Bastian menyadari itu hal diluar nalar. “Aku pernah meninggalkannya, hanya tidak ingin menyesal untuk kedua kali saja, sesimpel itu.” Mata Antonio melirik. “Tidak ada yang simple jika itu menyangkut hati, Bastian.” “Lagian, wanita mana yang memilih balik dengan mantannya, sih?” Mendengar kemustahilan yang baru saja disebutkan oleh sang teman, tentu membuat Bastian mendelik tajam. “Kamu harusnya mendukung, bukannya malah membuat orang kesal.” Antonio mengedikkan bahu. Merasa kelakuan Bastian memang tidak sepantasnya didukung. “Dia belum cerai, Bro! Secantik apa sih sampai kamu tergila seperti orang kena pellet.” Tiba-tiba bibir Bastian tersenyum. Bukan karena gelas kembali terisi wine oleh pelayan hotel, bukan sama sekali. Tapi, sosok Luna tergambar bebas di dalam pemikirannya. “Tidak ada yang secantik dirinya.” Antonio menertawakan Bastian yang nampak tidak waras. Pria tersebut meneguk whiski lagi dengan lebih santai. Mendadak Antonio merasa penasaran dengan sosok Luna yang diminati oleh Bastian padahal status tidaklah begitu special menurut Antonio. “Apa dia orang yang pendendam?” Singgung Antonio dengan tangan mengoperasikan ponsel. “Siapa?” Mata Antonio melirik. “Wanita yang kamu cintai itu, sejak siang tadi tak ada respon darinya.” Bastian tersenyum miris, teringat dengan kontak yang baru saja diblokir oleh Luna selepas dia pulang dari apartemen wanita tersebut. “Dia pemegang kasta tertinggi.” Bastian membicarakan sifat Luna yang memang pendendam itu. Bastian mengambil gelas lagi, namun tidak meminum wine dengan terburu. “Datangi dia di kantornya, jika masih tidak merespons. Karyamu yang misterius itu akan dikenal baik oleh public lewat tangannya.” Melihat Bastian yang meminum wine dengan ekspresi yakin, membuat jiwa penasaran Antonio yang tinggi benar-benar tertantang. “Sepertinya lusa aku senggang.” Antonio langsung memutuskan hari begitu saja. *** “Kamu pakai orang dalam, ya?” Luna baru saja menduduki kursinya, tapi pertanyaan itu sudah terlontar dari mulut Yuda. Respon darinya tentu saja berupa helaan napas yang menandakan kekesalan. “Makan dulu kan bisa? Baru bicara.” Teguran yang disertai wajah tidak cocok dari Luna membuat Yuda memilih diam sejenak, kemudian mengangguk. Memutuskan untuk membiarkan perut mereka berdua kenyang dahulu. Yuda tatap Luna yang memanggil pelayan, setelah dapat buku menu Luna langsung memesan. Pria tersebut tak mengira, belum juga sebulan tapi surat gugatan cerai yang sudah didaftarkan itu berhasil. Bahkan dalam waktu dekat mereka akan menghadiri sidang. “Sudah itu saja.” Mendengar Luna yang memesan satu makanan saja membuat Yuda kaget. “Kamu tidak memesan untukku sekalian?” Luna menyerahkan buku menu pada pegawai, menjadikan wanita tersebut perantara antara dirinya dengan Yuda, padahal posisi Yuda hanya berjarak satu meja saja. “Aku pesan ini dan ini,” ujar Yuda. “Baik, ditunggu sebentar, ya.” “Kamu pakai orang dalam? Makanya prosesnya cepat.” Baru saja pegawai berjalan pergi membawa catatan menu mereka berdua. Tapi, Yuda tidak sabar untuk membahas perceraian dengan dirinya. “Papaku yang melakukannya, aku tidak tahu menahu.” Yuda menarik napas, padahal selama menikahi Luna pria tua yang kaya itu tidak mau turun tangan, bahkan sehari jadi wali saja itu seperti terpaksa. Malah sekarang ikut campur. “Kamu mengadu apa saja? Sampai papa ikut turun tangan?” Luna diam sejenak, mata menatap Yuda cukup serius. “Ya, orang tua mana yang tega saat tahu anaknya diselingkuhi. Bahkan suaminya lebih memilih wanita yang hamil dengan orang lain.” Sindiran itu mampu membungkam mulut Yuda. Sementara Luna mengalihkan pandangannya. Padahal ayahnya sampai campur tangan karena alasannya cuma satu, yakni Bastian yang ada niatan khusus padanya. Sosok menantu yang melancarkan segala bisnis dari bidang apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN