Bab 11. Kamu Bukan Pilihan

1019 Kata
“Jadi karena itu, papa ikut campur kali ini,” Yuda menyinggung dengan napas yang terhela, jemari juga sempat mengusap rambut. Pria ini nampak sedikit kesal dengan Keputusan pengadilan yang begitu cepat. Padahal paling lambat proses cerai itu sampai berbulan-bulan. “Kamu harus datang saat undangan datang,” ujar Luna. Pandangan Yuda tertuju pada Luna yang sedang memperhatikan makanan tertata di atas meja oleh pegawai. Sejujurnya Keputusan Yuda setuju untuk bercerai sedikit disesali. “Luna—” “Makan dulu.” Luna yang terlihat sudah lapar itu, terpaksa membuat Yuda mengurungkan niat untuk mengajak bicara. Mungkin saat tersebut kali terakhir mereka berdua bisa makan bersama. Yuda sendiri memulai kegiatan makan dengan santai, sesekali mata memperhatikan Luna yang begitu menikmati. “Aku akan antarkan undangan persidangannya jika sudah dikirim,” singgung Yuda. Luna melihat melalui ponsel, lipstiknya yang sedikit hilang. “Beri tahu saja kalau sudah datang,” sahut Luna mulai menyibukan diri. Yuda sendiri diam sejenak, melihat Luna yang selalu memperhatikan penampilan. “Aku tidak tinggal bersama orang tua,” lanjut Luna memberi tahu sembari menyimpan lipstick miliknya ke dalam tas. Dahi Yuda mengerut. “Lantas, kamu tinggal dengan siapa? Temanmu, Rena itu?” “Bukan. Aku tinggal sendiri di apartemen.” Mengingat apartemen miliknya yang sangat besar dan elit itu, membuat Luna yakin kalau Bastian membohongi dirinya. Luna meminjam uang untuk menambah tabungannya, namun dengan uang yang dimilikinya itu tetap tidak akan sanggup membeli apartemen di sana. “Di mana?” tanya Yuda nampak penasaran, ‘’ya, mungkin suatu hari aku akan bertamu.” “Bukankah hubungan kita berakhir setelah sidang dimulai?” Yuda diam, mendengar Luna yang nampak ingin segera resmi bercerai. “Katanya kamu kembali bekerja,” singgung Yuda memilih mengalihkan topik, “ayo, aku antar!” Luna menatap jam di tangannya sejenak. Habis ini ia ada jadwal lain yang mendesak, kalau menunggu taksi pasti menyita waktu. Luna yang mengambil tas dan mulai berdiri membuat Yuda merasa ditolak. “Katanya mau antar? Kenapa masih duduk?” Begitu mendengar Luna menyinggung, Yuda langsung mengulas senyum dan mulai berdiri. “Aku bayar makanannya dulu.” Setelah membayar tagihan makanan. Yuda benar-benar mengantar Luna ke kantornya dengan mobil yang biasa digunakan. Sesekali Yuda menengok ke arah Luna saat mengemudi. Pria tersebut merasa senang karena Luna mau satu mobil, setidaknya Yuda masih ada kesempatan untuk memasuki hati Luna kembali. “Setelah Erna melahirkan, aku akan langsung menceraikannya.” Yuda tiba-tiba saja bercerita, tapi Luna sama sekali tidak menanggapi. Dirinya hanya sibuk membetulkan sabuk pengaman yang sedikit longgar. Luna yakin kalau kursi ini telah dikuasai oleh Erna yang memangku Hafiz. Yuda melirik. “Lalu, kita bisa rujuk kembali.” Mendengar perkataan konyol yang terlontar oleh Yuda direspons tawa sinis oleh Luna. “Kenapa tertawa? Kamu senang dengan rencanaku, Luna?” “Kamu pikir lelaki di dunia ini cuma kamu ya, Yuda. Ngotak dikit jadi orang.” “Sekali pun di dunia ini kehabisan pria, lalu hanya ada dirimu saja,” ujar Luna kemudian menggelengkan kepala, “kamu tidak akan jadi pilihan.” Yuda mencengkram setir mobil dengan erat, pria tersebut merasa terhina oleh ucapan Luna. Setelah tiba di depan kantor galeri, Luna tidak berterima kasih sama sekali dirinya langsung turun dari mobil dan berjalan pergi dengan raut kesal. Begitu juga dengan Yuda yang kesal hingga tidak mengucap sepatah kata lagi. “Luna, ada tamu yang mencari kamu.” Begitu memasuki kantor, seorang curator seperti dirinya memberi tahu. “Di mana orang yang mencariku?” “Di lantai atas, di ruangan kerjamu.” Luna menyempatkan diri untuk tersenyum, meski hati sedang kesal karena Yuda. “Terima kasih.” “Oke.” Luna langsung berjalan cepat menuju lift, merasa tertarik dengan tamu yang tidak memberi tahu identitas itu pada curator lain. Luna berharap bisa membuka galeri atau pameran pelukis dengan bakat terpendam. Namun, begitu lift terbuka dan Luna mendekati ruang kerjanya. Di tempat santai pojok jendela itu, terlihat Rena tengah duduk bersama seorang pria yang dirinya duga Antonio. “Luna!” Begitu menyadari keberadaannya, Rena langsung tersenyum senang dan segera menghampiri dirinya. Sementara pria Bernama Antonio itu menoleh dengan berekspetasi Luna hanya wanita dengan kecantikan sederhana yang biasa berkeliaran di sekitar Bastian. “Kamu dari mana saja?” tanya Rena berbisik sembari menarik tangannya. “Dia Antonio?” tebak Luna. Rena tak menyahut, malah terus menariknya untuk mendekat. Kalau diberi tahu, bisa-bisa Luna langsung kabur ke ruang kerja dan mengunci pintunya. Mata Antonio terpaku oleh Luna yang dilihat memakai setelan rok motif houndstood itu. Tanpa sadar pria tersebut mendekat dan mengulurkan tangan pada Luna. “Perkenalkan aku Antonio.” Rena menarik napas pelan, merasa percuma membawa Luna mendekat dengan mulus. Namun, Antonio malah langsung mengenalkan diri membuat Luna melirik pada Rena. “Oh, ini yang namanya Antonio.” Bibir Antonio langsung mengulas senyum. Merasa baru pertama kali melihat wanita paling cantik dan menarik selama bernapas di bumi yang fana ini. Luna tatap Antonio dengan sedikit tajam. Mau melampiaskan ketidak sukaan terhadap Bastian, itu artinya Luna tidak professional sebagai seorang curator. Jadi, Luna langsung menjabat tangan Antonio. Luna mengulas senyum. “Saya Luna, senang bertemu dengan Anda.” *** “Kamu jadi menemui Luna di kantornya?” Mulut Bastian memang bertanya, namun mata dan focus sepenuhnya jatuh pada tongkat biliar yang Bersiap mengenai sasaran. “Sudah.” Bastian tersenyum ketika dia berhasil memasukkan bola dengan nomor urut 9 ke dalam kantong meja biliar. Kemenangan telah Bastian kantongi, hingga menghentikan permainan dan menatap Antonio yang nampak melamun. “Ketemu hantu dalam perjalanan?” singgung Bastian. Mengingat Antonio yang datang tepat saat magrib. “Bukan, hanya saja …,” ujar Antonio dengan bibir mulai tersenyum, “aku bertemu wanita cantik.” “Kamu jatuh cinta?” Bastian mengikuti Antonio yang menyandarkan pinggang pada pinggiran meja biliar. Antonio masih saja tersenyum. ‘’Aku rasa seperti itu. Tapi, dia sepertinya cukup popular.” “Selama belum jadi istri orang, masih ada kesempatan. Bahkan yang sudah pun, masih bisa cerai,” ujar Bastian dengan bibir tersenyum, mengingat sosok Luna. Antonio juga ikut tersenyum. “Benar sekali. Selagi masih belum nikah, aku akan bersaing habis-habisan.” Mata Antonio melirik ke arah Bastian yang telah resmi jadi rival dalam urusan hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN