"Masih ada kami disini, kami mendukung mu, jangan selalu lihat kebelakang. Lihatlah kedepan selalu, disana dirimu melihat kebenaran dan kebahagiaan yang sangat sangat berharga"
"Mommy jangan Hikss... jan.. ngan" tangis Queen semakin menjadi saat melihat momnya membakar kertas dengan korek api untuk menjatuhkannya ke kotak itu.
"Mom JANGAN!!" Teriak Queen berlari kearah Mom nya yang hendak menjatuhkan kertas itu.
Queen dengan segera menangkap kertas yang masih terbakar itu dengan tangan kirinya. Dia memejamkan matanya menahan rasa perih akibat luka bakar yang diterimanya.
Digenggam erat erat kertas itu sampai api nya mati dan bara dari kertas pun tak ada sudah lenyap di habisi dengan tangan Queen.
Theo memperhatikan interaksi yang membuat nya sakit hati melihat keluarganya hancur. Melihat adik nya kesakitan.
Theo rasanya sudah tidak tahan dengan kelakuan Reta yang kelewat batas terhadap Queen. Theo juga bingung pada Queen, dahulu dirinya sempat mengajak Queen pergi dan tinggal bersama berdua. Theo mengusulkan itu agar Mom mereka tidak lagi melukai Queen. Tetapi Queen memanglah keras kepala dia tidak ingin pergi dia berkata 'Jika aku pergi, masalah ini akan semakin berlarut bang, jadi aku mau berjuang dulu, aku mau menghilangkan rasa benci Mom dan Anta kepada ku, aku juga mau merasakan pelukan seorang ibu pada ku bang sangat sangat ingin, walaupun nanti aku bukan menjadi Queen tapi biarkan aku merasaka sedikit pelukan seorang Ibu bang' itulah yang di ucapkan Queen saat Theo berusaha mengajaknya.
Queen sangatlah tangguh diluar tetapi di dalam hati kecilnya dia sangat terluka. Entah kenapa dia bilang bahwa walaupun nanti aku bukan menjadi Queen, lantas jika bukan menjadi Queen dia akan menjadi siapa? Theo tak habis pikir dengan jalan pikiran Queen.
Tanpa sadar air mata Theo jatuh dan lama lama itu membuatnya sadar akan jatuhnya air. Theo menghapus air mata nya kasar. Jika Queen melihat nya seperti ini, dia akan marah melihat Abangnya menangis. Dia ga akan membiarkan Theo menangis dia akan sangat sedih.
Theo melihat kearah Queen dan mom. Baru saja melihat, emosi dan amarah dalam diri Theo langsung naik saat melihat tangan Reta yang mengudara hendak menampar Queen
Theo berlari kearah Queen dengan cepat Theo menggantikan posisi jadi depan Queen dan melindungi Queen dibalik tubuh nya.
Reta terkesip saat melihat putra sulungnya mencekal pergelangan tangannya dan melindungi diri Queen dibelakang nya.
Reta gelagapan saat melihat tatapan tajam yang diberikan putra nya ntuknya. Nyalinya langsung ciut seketika.
"Theo.. Mom.." ucap Reta terbata bata ketakutan.
Theo mengangkat satu alisnya dan menghempaskan tangan Reta dengan agak kasar. Sebenarnya dia tidak ingin melukai perasaan wanita yang dulu telah melahirkannya keduni ini, tetapi dia tidak suka jika ad yang melukai adiknya.
"Sekali Mom sentuh Princess ku, aku akan membawanya pergi" ancam Theo ke Reta, mengapa Theo memberi ancaman itu? Karna Reta tidak menginginkan Theo pergi apalagi bersama Queen.
"Theo jangan nak" tahan Reta memegang lengan Theo agar dia tidak pergi.
Theo masih memeluk tubuh mungil Queen, nafasnya sudah agak tenang dan tidak menangis lagi. Theo melerai pelukannya terhadap Queen, menatap Queen khawatir.
"Apa sakit sayang?" Tanya Theo memegang tangan kiri Queen yang terbakar.
'Tidak bang, jangan meremehkan Leader deh, aku sayang abang' batin Queen saat melihat tatapan khawatir Theo saat melihat lukanya. Sesekali ia meringis melihatnya.
"Kok abang yang kesakitan?" Tanya Queen polos.
"Kan Queen yang kena bang Eyo" tambahnya membuat nya terlihat lebih gemas.
Karna tak tahan dengan tingkah adiknya dia mencubit pangkal hidung adiknya sesekali tersenyum. Sedangkan yang di cubit malah kelihatannya kesal. Tetapi ada kelegaan tersendiri di hati Queen saat melihat abangnya melupakan sedikit kekhawatirannya dan tersenyum.
"Princess mau ikut abang kekantor?" Tanya Theo ke Queen.
"Mau bang sekalian mau main hehe sekali kali" Queen menerima ajakan Theo dengan antusias sehingga membuatnya melompat lompat dan menepuk tangannya gembira.
"Yaudah let's go little girl" Theo merangkul pundak Adiknya possesive dan keluar dari rumah.
Tanpa mereka sadari, mereka melupakan seorang Wanita yang sedari tadi menahan amarhnya dan kebenciannya didepan putra sulungnya.
"Kau! Telah merebut semua yang ku punya!!" Desis wanita itu tajam menatap punggung Queen yang menjauh bersamaan dengan Theo disampingnya.
Ada yang tahu? Siapa wanita itu? Jika kalian menjawab itu adalah Reta, Mom nya Queen and Theo. Kalian benar dia Reta yang menyumpah serapahi Queen.
•••
"Abang aku mau Beli ice cream dulu disitu baru ke kantor abang huaaa abang" Queen merengek meminta ice cream yang jual nya dekat dari kantor abangnya tetapi abangnya menyuruh nya membeli nanti saja kerja bisa menyuruh OB atau yang lainnya.
"Nanti abang suruh OB beli princess" ucap Theo ntah yang keberapa kalinya.
"Maunya ama abang Eon" lirih Queen menatap seorang anak perempuan kecil yang sedang memakan ice cream bersama abangnya mungkin.
"Please" bujuk Queen lagi lagi dan lagi.
Akhirnya Theo pasrah dan menuruti permintaan Adik kecil nya itu.
"Ayok" theo menarik tangan Queen untuk menuju toko Ice cream.
Sungguh Queen sangat bahagia, dia akan membeli ice cream dan memakannya bersama abangnya.
"Yeye makasih abang" ucap Queen mengecup pipi Theo dan berlari deluan ke toko ice cream. Theo hanya geleng geleng saja melihat tingkah adiknya itu.
"Queen awas!!" Teriak Theo.
"Kenap. . . Awsshh" ringis Queen saat bokongnya menyentuh Aspal dan tangannya yang melepuh tadi terkena sedikit gesekan aspal.
Yah Theo memperingati Queen 'Awas' karna didepan Queen ada orang dan jadilah Queen nabrak.
Bokong Queen langsung menyentuh Aspal yang hangat, tiba tiba sebuah tangan terulur untuk menolongnya.
Queen mendongak saat melihat uluran tangan itu. Queen samar samar melihat wajah nya karna terhalang Sinar matahari.
"Gw bantu" suara bas dan berat milik laki laki yang nabrak gw tadi.
"Makasih" ucap Queen tulus tapi tak menerima uluran tangan laki laki itu.
Queen langsung berdiri sendiri, yakali jatoh doang si tolong. Leader jatuh doang kok mintol alias (minta tolong). Nanti diejek sama anggota BD lagi.
Queen melihaat laki laki itu narik ulurannya lagi karna ga gw ambil,"Lo beneran gpp" tanya laki laki tadi.
"Iyah Gpp" jawab Queen cuek dan dingin.
"Ma. . " ucan laki laki itu terputus karna bang Theo datang dan membolak balikkan badan Queen.
"Isshh abang kenapa? Pusing ih!!" Kesal Queen karna bang Theo buat kepala nya pusing.
"Apa yang sakit princess ga ad kan? Bener kan ga ad yang serius kan sayang?" Theo memberikan pertanyaan beruntun dengan cepat.
"Gpp bang Eon, sekarang ayo beli Ice cream" ajak Queen, Theo mengangguk dan tetap meneliti tubuh Queen memastikan tidak ada yang terluka.
"Manis, gemes gw liat nya, jadi sayang kan" Gumam laki laki tadi menatap Queen yang menjauh.
"Pandangan pertama ini mah namanya eaakk" gila mungkin yah ini cowo karna tiba tiba ngomong sendiri ckck.
"Yaampun gua lupa mau ke Supermarket, malah udah telat lagi!"
•••
Di tempat Queen dan Theo mereka lagi memesan Ice cream nya dengan duduk di dekat jendela. Queen bersandar di pundak abangnya sedangkan abangnya mengelus rambut Queen sayang.
"Abang aku sayang abang" ucap Queen dengan gemas.
"Abang juga sayang Queen abang" theo mencubit pipi adiknya itu.
"Sakit dicubit abang" okeh Queen mulai kesal.
"Mana yang sakit hm?" Tanya Theo lembut.
"Ummmm" Queen menggembungkan pipi kanan nya yang tadi di cubit Theo.
"Ini?" Tanya Theo lagi, Queen ngangguk doang.
Cupp..
Theo mengecup pipi adiknya sayang menghilangkan rasa sakit itu. Padahal Theo tidak tau itu tidak sakit.
"Masih sakit?" Tanya Theo lembut mengelus pipi Queen.
Queen menormalkan Pipi nya lagi dan tersenyum. "Ga kok hehe"
Queen beruntung setidaknya Abang nya masih menyayangi nya.
"QUEEN KANGEN!!!" teriak seseorang dari belakang Queen dan Theo.