bc

School Mystery

book_age12+
45
IKUTI
1K
BACA
mate
brave
student
bxg
mystery
highschool
another world
friendship
special ability
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Kehidupan remaja yang di penuhi oleh keanehan. Memiliki kekuatan dan kespesialan atau sering di cap indigo oleh orang-orang sangat tidak menyenangkan. Bagi mereka kehidupan orang-orang seperti itu pasti sangat menyenangkan, tetapi bagi yang menjalaninya, justru mereka serasa ingin menghilangkan saja kespesialan mereka itu.

Entah kespesialan itu membawa berkah, atau justru membawa bencana bagi pemiliknya. Pemikiran setiap orang berbeda-beda, begitu halnya dengan Kana. Kana sang gadis indigo pemilik mata batin dan kekuatan mistis yang jarang di temukan oleh remaja sebayanya.

Bagaimana kehidupan SMA yang di jalankan oleh Kana ketika orang-orang mengetahui bahwa ia memiliki sebuah kelebihan yang jarang di miliki orang lain? Apakah mereka akan bersikan baik pada Kana? Atau sebaliknya, mereka akan bersikap tidak baik pada Kana?

Penasaran?

--->>

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 01
Sang gadis indigo, pemilik dari mata batin dan kekuatan mistis yang jarang di dapati pada anak remaja umumnya. Sang gadis yang dapat bercengkrama dengan 'mereka' yang jarang bisa di lakukan oleh orang lain. Kanalyn Aldillaluna, kerap di sapa Kana, Kana sang gadis indigo yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan 'mereka'. Tahun ini Kana akan menginjakkan kakinya di bangku Sma kelas X. Hari ini ia akan melakukan tes masuk ke salah satu SMA favorit di kotanya itu. Sekolah itu tidak lah mementingkan kegiatan MOS seperti yang di lakukan pada sekolah lainnya. Mereka tidak akan membuang waktu untuk permainan semacam itu, mereka mengganti jadwal untuk kegiatan itu dengan mengadakan tes masuk pergelombang untuk para murid yang mendaftarkan diri di sekolah itu. SMA Bintang Cendekia, sekolah yang akan segera di huni oleh Kana, Kana memilih untuk bersekolah di sekolah itu bukan tanpa alasan. Ia tidak suka dengan keramaian sebab itu ia memilih bersekolah di sekolah itu, sebab kabar yang ia dengar bahwa akhir-akhir ini, SMA Bintang Cendekia mengalami penurunan drastis setiap tahunnya pada jumblah siswa yang mendaftarkan diri di sekolah itu. "Bagi para peserta yang akan melaksanakan seleksi gelombang bagian kedua tes masuk SMA Bintang Cendekia, di harapkan memasuki ruang tes dengan segera!" Terdengar suara yang menggelegar di lapangan SMA Bintang Cendekia. Para murid yang mendengar suara itu pun, berbondong-bondong untuk segera memasuki ruang tes. Kurang lebih setelah 2 jam lewat tes bagian kedua selesai mereka pun di perbolehkan untuk keluar dan berkumpul membuat barisan di lapangan sekolah. "Baik setelah kami memeriksa hasil kerja kalian, sepertinya kalian semua memenuhi kriteria untuk memasuki sekolah ini. Dengan itu kami mengucapkan selamat pada para murid yang telah mengikuti berbagai macam tes seleksi untuk menjadi murid di sekolah ini.-----------------------------------. Baik kalau begitu, sekian dari kami, dan mulai besok kalian semua di perbolehkan untuk bersekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah ini!" Ujar seseorang yang berdiri di podium dengan menggunakan pengeras suara. "Huft akhirnya selesai. Akhirnya selesai juga tesnya" kira-kira seperti itulah kericuhan yang terdengar oleh para murid yang baru selesai mengikuti tes masuk itu. Sedangkan Kana, Kana yang memang dasarnya adalah anak yang cuek hanya terdiam dan tidak menyahuti perkataan orang-orang yang ricuh itu. Kana melangkahkan kakinya di pekarangan gedung sekolah itu, namun entah mengapa hawa yang ia rasakan tiba-tiba berubah dari yang tadi biasa saja menjadi agak mencekam. Namun pikiran buruk Kana tentang sekolah itu dengan segera ia tepis. "Perasaan gue aja kali yah" gumam Kana pada dirinya sendiri. Tadinya ia ingin berjalan-jalan mengelilingi sekolah itu, namun niat itu terhentikan ketika seorang pria menghampiri dirinya. "Lo mau kemana?" Suara berat namun terdengar indah dan sexy terdengar oleh telinga Kana. Kana menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara yang tadi ia dengar. Nampak seorang pria bertubuh atletis sedang berdir di belakang tubuhnya sembari menatap dirinya tidak lupa dengan tatapan elang yang ia berikan pada Kana. Tatapan yang dapat menghipnotis setiap penatapnya dengan tatapan tajam setajam elang, ia menatap gadis mungil di depannya ini. Kana pun terhipnotis dengan tatapan yang dalam itu. Namun dengan segara ia mengembalikan kesadarannya agar tidak terhipnotis lebih dalam lagi pada mata pria di depannya ini. "Gue?" Tanya Kana mengangkat sebelah alisnya membalas tatapan tajam itu dengan tatapan cuek dan bodo amat. "Iya lo" jawab pria itu. Kana menatap dan menelusuri pria yang berhadapan dengan dirinya ini dari atas sampai bawah, tatapannya terhenti pada sebuah objek yang merupakan tagname pria itu. Pria bertage name Kalvin Andani Z. ini yang sedang berbicara dengan dirinya. Kana mencoba membaca biodata pria di depannya ini, namun sayangnya hal itu tidak lah bisa ia lakukan. Entah mengapa saat ingin membaca biodata pria ini, selalu saja terkunci setiap info tentang dirinya. "Gue mau keliling sekolah" jawab kana dengan nada cuek bahkan tanpa memandang orang yang sedang ia ajak berbicara itu. Terkesan tidak sopan mungkin, tetapi itulah Kana, ia merupakan sosok anak yang benar-benar cuek bahkan pada keluarganya saja ia cuek. "Kelilingnya besok, bakal di pandu sama senior kalian anak kelas XI, sekarang lo belum boleh masuk ke gedung sekolah. Taati aturan dan silahkan pulang" usir Kalvin pada Kana. Kana hanya memutar bola mata malas kemudian pada akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan Kalvin yang masih berdiri di hadapannya tanpa permisi sama sekali. "Woy Vin, sini bantuin kita di ruangan!" Teriak seorang pria mengagetkan Kalvin yang masih setia menatap punggung kepergian wanita yang ia temui tadi. Namun detik berikutnya Kalvin memenuhi panggilan temannya itu. Sementara Kana, setelah berbicara dengan pria bernama Kalvin tadi, ia memilih untuk segera kembali ke rumahnya saja. Sepertinya ia juga lupa bahwa siang ini akan ada janji dengan klien abangnya yang sempat tertunda beberapa hari lalu. ◇◇◇ "Morning bang" sapa Kana pada Sam, abangnya. Samy Glardio Adarine mahasiswa fakultas kedokteran semester 4. "Too dek" jawab Sam pada Kana, "Sini sarapan bareng abang" ajak Sam pada Kana, Kana menurut kemudian mendudukkan badannya pada kursi kosong samping abangnya. Sam dan Kana adalah putra dan putri dari pemilik perusahaan ternama di kota ini. Azhan Arkiano dan Jessa Atayra merupakan orang tua dari Sam dan Kana. Sam dan Kana hidup berdua di rumah besar yang di berikan oleh orang tua mereka. Karna kesibukan Azhan pada perusahaannya sehingga mengakibatkan ia tidak dapat menyempatkan waktu untuk anak-anaknya. Begitu pun Jessa, ia selalu mengikuti perjalanan bisnis suaminya itu. Dari kecil Sam dan Kana sudah mendapatkan kasih sayang dengan jumblah yang minim. Namun sayangnya, orang tua mereka sudah menjadi orang yang tamak, gila akan harta dunia dan lupa pada keluarga kecil mereka. Namun apa daya, Sam dan Kana sama sekali tidak dapat mencegah keinginan orang tua mereka, hanya dapat memberikan doa saja agar orang tua mereka dapat berubah. "Bang klien yang kemarin lusa gak sempet ketemuan, adek udah ketemu sama mereka kemarin. Katanya mereka bisa kok kalau ketemuan sama abangnya nanti siang aja" tutur Kana sembari mengambil roti bakar dengan selai coklat yang telah tersedia di atas piring miliknya. Sam menganggukkan kepalanya mengerti "Iya nanti abang dateng, tempatnya masih di cafe yang di janjiin sebelumnya kan?" Tanya Sam pada Kana. Kana mengangguk, sembari mengunyah roti yang ia pegang. Setelah makan beberapa saat kini mereka pun menghentikan ritual makan mereka. "Lo mau bareng abang atau mau berangkat sendiri dek?" Tanya Sam pada adiknya sembari membenarkan dasi yang terpasang di kerah kemejanya. Kana menoleh sekilas, "Berangkat sendiri" jawab Kana kemudian meninggalkan abangnya. Kana berangkat menggunakan angkutan umum menuju SMA Bintang Cendekia. Sebenarnya bisa saja ia ikut abangnya tadi, atau membawa kendaraan sendiri dari rumahnya. Tetapi rasanya ia malas jika harus menjadi pusat perhatian kalau membawa kendaraan sendiri atau di antar oleh Sam nantinya. Sekitar 30 menit menaiki angkutan umum, kini Kana telah sampai di SMA Bintang Cendekia. Kana melangkahkan kakinya bermaksud untuk memasuki gedung sekolah itu. Namun baru ingin melangkah saja rasanya hawa yang ia rasakan sudah menjadi berubah lagi. Dapat ia rasakan seperti ada 'sosok' yang sedang memperhatikannya. Namun entah dimana. Ia tidak ingin menggubris pemikiran itu terlalu lama, akhirnya ia memilih bodo amat akan perasaan itu, walau hatinya berkata 'jangan masuk' namun ini adalah sekolah barunya, sehingga ia tentu saja harus masuk ke dalam sana. Kana berjalan menuju papan mading untuk mencari tau di kelas mana ia di tempatkan. Setelah menemukan namanya ia pun dengan segera melangkahkan kakinya menuju kelas yang telah di tetapkan. Kana mendapatkan kelas X IPA2. Kana melangkah kan kakinya menuju kelas X 2 di gedung IPA. Kelas X ada di lantai paling bawah jadi tidak memerlukan waktu yang lama hingga ia menemukan kelasnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki kelas yang cukup ricuh itu. Saat memasuki kelas, banyak pandangan menatap ke arah dirinya. Namun bukan Kana namanya jika ia menggubris semua tatapan itu. Kana berjalan dengan cueknya menuju bangku kosong yang terletak di paling pojok ruang kelas itu. Sebenarnya ia tidak ingin duduk di tempat itu karna firasatnya sangat tidak enak, tetapi mau bagaimana lagi bangku kosong yang tersisa hanya itu saja. Kana mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku roknya. Ia membaca buku itu, namun pendengarannya mengarah ke pembicaraan yang di gosipkan oleh teman sekelasnya. "Lo denger gak kabar tentang hantu sekolah ini?" Tanya seorang siswi wanita berambut ikal kuda yang duduk di atas meja. "Denger lah! Tentang hantu yang bunuh diri di atap sekolah itu kan?" Jawab siswi lain yang duduk di kursi bangku yang mejanya di duduki oleh wanita berambut ikal itu. "Gue denger itu orang bunuh diri karna pacarnya selingkuh sama sahabatnya sendiri kan. Terus katanya arwah dia itu gak bisa tenang dan gentayangan di atap sekolah ini" tutur siswa laki-laki berpostur badan tinggi dengan rambut kecoklatan ikut nimbrung. "Bener banget, dan ada yang bilang kalau tragedi meninggal atau hilangnya seorang murid sekolah ini yang terjadi setiap tahun itu, ada hubungannya sama arwah itu" imbuh wanita berambut ikal itu. Kira-kira semacam itu lah obrolan yang di tangkap oleh pendengaran Kana. Kana menghela napas berat, setelah mendengar perbincangan orang-orang itu, Kana menjadi tidak tenang sekarang. Ia merasa tidak tenang bukan karna takut akan arwah itu, tetapi ia tidak tenang karna pasti dirinya akan terseret dalam hal mistis itu lagi. "Nyesel gue masuk sekolah ini ck" gumam Kana. ◇◇◇ Pagi ini seperti halnya pagi-pagi sebelumnya, Kana pun berangkat kesekolah menggunakan angkutan umum. Hari ini adalah hari ke enam Kana bersekolah di SMA Bintang Cendekia, namun sejauh ini arwah yang di katakan oleh teman sekelasnya sama sekali tidak datang untuk sekadar mengganggu ataupun meminta bantuan dirinya. Namun nampaknya hari ini agak sedikit berbeda dari hari sebelumnya, sebab kali ini Kana di datangi oleh arwah yang di bicarakan teman-temannya beberapa hari yang lalu. Pagi ini Kana berjalan menuju ruang guru yang terletak di lantai tiga gedung IPA, berdekatan dengan kelas XII IPA, dan berada tepat di atap sekolah ini. Memang letaknya agak aneh tapi begini lah denah yang telah di tetapkan oleh sekolah. Ketika hendak melangkahkan kakinya memasuki ruang guru, hawa yang ia rasakan seketika menjadi lebih dingin, napasnya juga menjadi tidak beraturan ia seperti mengalami sesak napas di tempat itu, hal ini merupakan pertanda bahwa sepertinya ada sosok 'mereka' yang sedang berada di dekat atau mempethatikan dirinya saat ini. Perlahan angin berhembus, semakin lama hembusan itu semakin menguat sampai menerbangkan dedaunan kering yang ada di bawah naik ke lantai yang ia tempati. Kana memberanikan dirinya, ia memejamkan mata seolah merapalkan sesuatu kemudian membuka kembali kelopak matanya yang tadi terpejam. Keringat dingin bercucuran di tubuh Kana, saat ini ia sedang berhadapan langsung dengan 'dia', sosok itu tampak sangat menyeramkan dengan luka di dahinya yang mengeluarkan darah terus menerus. Wajahnya nampak pucat dan bibirnya menyeringai, tetapi bukan seringaian biasa melainkan seringaian yang sangat menyeramkan, sebab bibir yang ia tarik untuk menyeringai sampai ke bagian telinganya. Perlahan-lahan tangan dari sosok itu naik dan hampir menyentuh tubuh Kana, namun belum sempat ia melakukan itu tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan sebuah garam pada makhluk itu sehingga mengakibatkan makhluk itu menghilang dalam sekejap. Kana membalikkan badannya mencari siapa yang baru saja membantu dirinya, ia menemukan seorang wanita kisaran berumur 25-30 tahun yang mengenakan seragam pengajar di sekolah ini. "Apa kau tidak apa-apa?" Tanya guru itu dengan nada yang terdengar cemas dan ekspresi kaget di sertai ketakutan. "Ya", Kana menjawabnya dengan singkat. "Terimakasih" sambung dirinya. "Tidak masalah, ikutlah dengan ku jangan berlama-lama di sini, ayo" ajak guru dengan tagname Qilany Andiena A. Kana berjalan mengikuti guru itu dari belakang. Mereka berjalan menuju ruang bahasa. "Masuk lah" titah guru itu pada Kana. Kana menurut dan masuk ruangan itu bersama dengan guru itu. "Ayo duduk, ingin minum apa? Atau camilan?" Tawar guru itu pada Kana. "Tidak usah bu" tolak Kana. Guru itu mengangguk tersenyum kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Kana. "Apa kau dapat melihat 'mereka'?" Tanya Qilany pada Kana. Kana menatap sekilas pada Qilany kemudian mengalihkan padangannya ke rak dimana buku-buku bahasa tertata rapih di rak berwarna coklat. "Ya aku bisa melihatnya" jawab Kana. Guru itu mangut-mangut mengerti. Kemudian guru itu kembali memberikan pertanyaannya "Benarkah? Sejak kapan kalau boleh tau kau mendapat kemampuan itu?" Tanya Qilany. "Sungguh, aku dapat melihat 'mereka' sejak aku berumur 5 tahun dan bukan hanya melihat, aku juga dapat berkomunikasi dengan 'mereka' bu" jawab Kana bergeming pada Qilany. Qilany percaya dengan yang di katakan oleh Kana. "Haha baiklah kalau begitu mulai sekarang kita akan menjadi teman" final Qilany pada Kana. Kana membolakan matanya menatap Qilany. "Maaf apa maksud dari perkataan ibu?" Tanya Kana pada Qilany. "Ya mulai sekarang kita berdua menjadi seorang teman, dan kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan ibu lagi, panggil saja sesuai nama ku" titah Qilany seenaknya sendiri pada Kana. Kana menatap cengo ke arah guru yang satu ini. "Maaf saja bu, tapi saya bahkan tidak mengenal ibu, jangankan mengenal mengetahui nama ibu saja saya tidak tau. Dan ini malah ingin berteman tiba-tiba" tutur Kana menatap Qilany. Qilany menyengir mendengar penuturan Kana. "Oh iya maaf saya lupa, kenalkan nama saya Qilany Andiena Atayra, panggil aja Qilany, Qila atau Lani juga terserah saja lah. Dan sekarang kita berteman kan Kanalyn Aldillaluna" tutur Qila membaca tagname yang terpasang di seragam Kana. Kana menghela napas gusar. "Baik saya malas berdebat, kalau begitu boleh saya tau alasan kamu mau berteman debgan saya?" Tanya Kana pada Qilany. "Kamu tau, saya juga dapat melihat 'mereka'" ujar Qila pada Kana. Kana mengernyitkan dahinya "Maksud mu 'mereka', para arwah-arwah itu?" Tanya Kana memperjelas. Qila menganggukkan kepala membenarkan jawaban Kana. Kana mangut-mangut mengerti. "Saya dapat melihat mereka, tetapi saya tidak dapat berkomunikasi dengan mereka. Katanya mata batin saya yang terbuka hanya setengah dan seiring berjalannya waktu akan terbuka seluruhnya dan dapat berkomunikasi dengan 'mereka', tetapi sampai saat ini saya bahkan belum bisa bahkan sekadar menyapa 'mereka'" jelas Qila tentang dirinya pada Kana. "Baiklah jadi alasan utama kamu ingin mengajak saya berteman itu apa?" Tanya Kana sekali lagi pada Qila.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

TERNODA

read
199.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook