1. Mahar untuk Sebuah Kehancuran
Oakhaven selalu punya cara untuk terasa mencekam di bulan November. Kabut tebal merayap di antara celah-celah gedung pencakar langit, menelan cahaya lampu jalan, dan menyisakan kesunyian yang dingin. Di dalam ruang makan kediaman Montclair, suasana tak jauh berbeda. Udara di sini terasa berat. Setiap perabot marmer dan lukisan klasik seolah menekan dadaku, membuatku sulit bernapas.
Suara denting sendok perak di porselen malam itu terasa lebih nyaring dari biasanya. Setiap bunyi kecil itu bergema di telingaku, mengingatkan pada sesuatu yang menakutkan." ATAU lebih simple: "Setiap bunyi kecil itu terasa menyakitkan di telingaku. Aku menunduk, memandangi potongan daging di piringku yang sudah kehilangan uap panasnya, membiarkan rambutku jatuh menutupi wajah. Aku tidak punya selera makan. Bagaimana bisa aku makan ketika mereka sedang menentukan harga hidupku?
Di ujung meja yang panjang, Ayah—Robert Montclair—duduk tegak dengan punggung yang kaku. Dia mengenakan setelan rumah yang mahal, tapi wajahnya tampak jauh lebih tua malam ini. Garis-garis di keningnya seperti guratan kegagalan yang coba ia sembunyikan di balik otoritasnya. Di sampingnya, Adrian, kakak laki-lakiku, duduk dengan kemeja yang terkancing rapi hingga ke leher. Tangannya terus memutar-mutar gelas red wine, menciptakan riak kecil di cairan merah gelap itu. Dia kelihatan gelisah, matanya tidak pernah benar-benar menatapku, tapi aku tahu itu bukan karena rasa bersalah. Dia hanya takut rencana bisnisnya terganggu oleh sikap keras kepalaku.
"Davina," suara Ayah akhirnya memecah keheningan. Rendah, berat, dan tidak menerima bantahan apa pun.
Aku benci nama itu. Terlalu formal, terlalu jauh. Bagi mereka, aku bukan Vina lagi. Aku Davina—aset yang bisa dipindahtangankan. Sudah lama sekali aku tidak mendengar ada yang memanggilku "Vina" di rumah ini. Dulu, sewindu yang lalu, Adrian akan berlari-lari di taman belakang, memanggil nama kecilku itu sambil menarik tanganku untuk bermain. Saat itu, dia adalah kakak laki-laki yang berjanji akan menjagaku dari monster apa pun.
Tapi sekarang? Adrian telah berubah menjadi monster itu sendiri. Dia berubah menjadi pria asing yang hanya peduli pada neraca keuangan dan citra keluarga di mata publik Aethelgard. Nama 'Vina' ikut dikubur dua tahun lalu bersama Daniel. Yang tersisa hanya Davina—kosong dan siap dijual.
"Saham Montclair Group anjlok lagi pagi ini," Ayah melanjutkan pembicaraannya tanpa memedulikan apakah aku mendengarkan atau tidak. "Proyek di Distrik Selatan terancam ditarik oleh konsorsium kalau kita tidak mendapatkan suntikan modal besar sebelum kuartal depan berakhir. Kau tahu apa risikonya bagi keluarga ini jika itu terjadi, Davina?"
"Artinya Ayah akan kehilangan reputasi hebat sebagai pengusaha tahun ini, dan Adrian harus merelakan koleksi mobil sport-nya berkurang satu unit?" jawabku datar. Aku tetap menunduk, menatap pola bunga pada piring porselen yang seolah-olah sedang menertawakanku.
"Jaga mulutmu, Davina!" Adrian membentak, tangannya menghantam meja hingga gelas-gelas di atasnya bergetar hebat. "Ini bukan soal mobil atau reputasi receh! Ini soal harga diri keluarga Montclair! Ribuan karyawan di seluruh penjuru Aethelgard bisa kehilangan pekerjaan kalau perusahaan kita bangkrut. Kau mau memikul beban dosa itu di pundakmu?"
Aku tersenyum sinis, sebuah tawa pahit yang tersangkut di tenggorokan. Harga diri? Atau ketakutan mereka karena tidak mau turun kasta dan hidup sebagai orang biasa? Panggilannya tadi—Davina—terasa seperti tamparan setiap kali diucapkan. Dia benar-benar sudah menghapus jejak persaudaraan kami demi angka-angka di bursa saham.
Ibu—Abigail—yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba menjangkau tanganku. Jemarinya yang ramping menyentuh kulitku, tapi terasa dingin. Seperti patung marmer yang menghiasi rumah ini.
"Sayang, dengarkan Ibu," suaranya lembut tapi mengandung racun yang halus. "Daniel sudah tidak ada. Sudah dua tahun berlalu sejak kecelakaan tragis itu. Kamu tidak bisa terus mengunci diri di kamar, hidup seperti orang mati. Daniel tidak akan pernah kembali ke Oakhaven meski kamu menangis sampai matamu buta setiap malam."
Rasanya seperti ada yang menampar mukaku dengan kasar. Berani-beraninya dia membawa nama Daniel ke tengah obrolan bisnis yang busuk ini. Daniel Bennet adalah satu-satunya orang yang memanggilku "Vina" dengan nada paling lembut, nada yang membuatku merasa benar-benar hidup dan berharga. Daniel adalah napasku, dan kehilangan dia adalah alasan kenapa aku berhenti peduli pada dunia ini.
"Jangan sebut nama dia di ruang makan ini," desisku tajam, akhirnya mendongak dan menatap Ibu dengan mata yang memerah. "Jangan gunakan kematian Daniel sebagai senjata untuk membenarkan ketamakan kalian. Jadi, katakan saja langsung. Siapa pria kaya yang ingin kalian jadikan tempat untuk menggadaikan hidupku kali ini?"
Ayah berdehem sebentar, merapikan letak pisau dan garpunya dengan presisi yang menjengkelkan. "Keluarga Lockwood. Mereka telah mengajukan penawaran yang tidak mungkin kita tolak. Bukan sekadar investasi, tapi aliansi permanen yang akan mengunci d******i kita di Distrik Selatan. Mereka meminta sebuah pernikahan."
Seluruh persendianku mendadak kaku. Nama itu... Lockwood. Di Aethelgard, nama itu adalah sinonim dari kekuasaan mutlak yang dibalut kegelapan.
"Siapa?" tanyaku, meski suaraku nyaris hilang ditelan ketakutan.
"Leonard Lockwood."
Jantungku seakan berhenti berdetak selama satu detik yang menyiksa. Leonard Lockwood. Pria yang menjadi pembicaraan hangat di setiap pesta kalangan atas Oakhaven, bukan karena kebaikannya, melainkan karena kekejamannya yang dingin. Aku ingat dia dari desas-desus di universitas pusat dulu. Dia adalah mahasiswa S2 yang legendaris—pria yang punya tatapan tajam dan aura yang membuat orang-orang di sekitarnya secara naluriah menepi.
"Dia pria kasar, Yah," suaraku mulai bergetar saat ingatan tentang rumor itu muncul kembali. "Semua orang di kota ini tahu wanita di sekelilingnya berganti setiap minggu seperti baju yang ia pakai. Bahkan... Josephine Carter. Dia mati sebulan sebelum nikah mereka. Ada yang bilang Leonard yang membunuhnya. Kalian mau aku berakhir di dalam peti mati yang sama dengan Josephine?"
"Itu cuma gosip sampah yang disebarkan oleh kompetitor bisnisnya, Davina!" Adrian menyela dengan cepat, matanya berbinar penuh nafsu akan kekuasaan. "Leonard itu praktis. Dia butuh seorang istri dengan latar belakang bersih dan elegan untuk pencitraan di depan dewan komisarisnya yang kolot. Dia tahu kau sedang berduka, dan dia tidak peduli. Dia tidak menuntut cintamu. Kau bisa tetap menyimpan foto Daniel di dompetmu, menangisinya setiap malam di kamar yang terpisah, asal secara hukum namamu berubah menjadi Lockwood. Adil, kan?"
Adil? Aku ingin muntah mendengarnya. Adrian bicara seolah aku hanyalah barang inventaris yang sedang dialihkan kepemilikannya kepada seorang monster yang mungkin saja seorang pembunuh.
"Ya sudah," kataku akhirnya, nada suaraku datar dan hampa. Aku sudah terlalu lelah untuk melawan dinding batu yang mereka bangun di sekelilingku. "Nikahkan saja aku dengan monster itu. Toh, aku juga sudah tidak punya nyawa lagi untuk dipertahankan. Jika aku mati di tangannya nanti, setidaknya saham kalian sudah aman, bukan?"
Malamnya, Margaret—atau yang biasa aku panggil Megie—datang ke kamarku. Dia masuk lewat pintu belakang yang biasa kami gunakan sejak remaja. Begitu melihatku duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong, Megie langsung memelukku erat. Isak tangisnya pecah di bahuku.
"Vina... kau gila ya? Kenapa kau menyerah begitu saja?" Megie bertanya di sela tangisnya, tangannya menggenggam jemariku yang dingin.
"Aku capek, Megie. Ayah dan Adrian tidak akan pernah berhenti menekanku sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau," jawabku lemas. Suaraku terdengar seperti orang yang sudah menyerah pada maut.
"Tapi ini Leonard Lockwood, Vina! Pria itu gelap! Dia bukan pria sembarangan yang bisa kau acuhkan setelah menikah nanti. Kau tidak dengar gosip soal Josephine Carter? Dia ditemukan tak bernyawa di dasar jurang sebulan sebelum janji nikah diucapkan! Pria itu obsesif, Vina!" Megie memegang bahuku kencang, mencoba menyentak kewarasanku kembali.
Aku cuma menggeleng kepala pelan, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan kabut Oakhaven yang semakin tebal. "Aku cuma ingin tenang, Megie. Mungkin di mansion besarnya yang sunyi itu, aku bisa menghilang pelan-pelan tanpa ada lagi suara Ayah yang membicarakan saham. Biarkan saja monster itu mengambil ragaku, karena jiwaku sudah lama pergi bersama Daniel."
"Kau akan dikurung, Vina. Tidak ada jalan keluar dari pria seperti dia," bisik Megie dengan nada ngeri yang membuat bulu kudukku meremang.
Saat Megie ingin bicara lagi, ponselku yang tergeletak di meja rias bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sama sekali tidak kukenal. Dengan tangan gemetar, aku membuka pesan itu. Duniamu serasa runtuh seketika saat membaca satu baris kalimat di sana:
"Jangan menangis lagi di balkon, Vina. Masuk sekarang. Udara malam Oakhaven tidak bagus untuk kesehatan calon pengantinku."
Darahku seolah membeku di dalam pembuluh nadiku. Aku langsung lari menuju balkon, menatap tajam ke bawah, ke arah gerbang besar mansion keluarga Montclair yang dijaga ketat. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, sebuah SUV hitam terparkir diam di seberang jalan. Mesinnya tampak mati, tapi aku tahu ada seseorang di dalam sana yang sedang mengawasiku. Seseorang yang tahu nama yang hanya orang terdekatku yang pakai. Seseorang yang tahu persis apa yang sedang kulakukan di dalam kamarku sendiri.
Padahal aku tidak pernah mengenalnya secara pribadi. Tapi kenapa Leonard Lockwood seolah sudah memiliki setiap inci dari kehidupanku bahkan sebelum pernikahan ini dimulai?
Aku langsung masuk kembali ke kamar, menarik pintu balkon dan menguncinya rapat-rapat dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungku berdegup sangat kencang, menghantam rusukku seolah ingin keluar. Leonard Lockwood bukan sekadar pria kejam yang dijodohkan denganku. Dia sudah mengawasiku sejak lama, menunggu saat yang tepat untuk menjadikanku miliknya.
Dan besok, pelarian konyolku dari kenyataan pahit ini akan benar-benar berakhir di tangannya.