Malam itu, The Black Ridge bersinar lebih terang dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang tamu menyala terang sekali, memantulkan cahaya ke setiap sudut marmer dan emas—kemewahan yang menyilaukan mata. Tapi bagiku, cahaya itu terasa dingin. Aku merasa seperti dipajang di etalase. Aku berdiri di samping Leonard di dekat pintu masuk utama. Tanganku melingkar di lengannya yang kokoh, dibalut jas tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Aku mengenakan gaun malam velvet berwarna merah marun—pilihan Leonard, tentu saja. Dia bilang warna ini membuat kulitku terlihat pucat sempurna. "Ingat skenarionya, Vina?" bisik Leonard tanpa menoleh, bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipis ke arah jalan masuk. "Senyum. Angguk. Dan setuju dengan semua perkataanmu," jawabku pelan. "Bagus. Jika kau melakukan

