Langit Oakhaven hari ini abu-abu pekat—seperti ikut merayakan kemalanganku. Tidak ada hujan, hanya kabut yang menggantung rendah, menyelimuti puncak-puncak gedung pencakar langit dengan selubung duka. Di kejauhan, Katedral St. Jude yang megah di pusat kota tampak seperti raksasa batu kuno yang menganga, siap menelan siapa pun yang cukup bodoh untuk melangkah masuk ke dalam perutnya yang dingin.
Aku berdiri di depan cermin besar setinggi tiga meter di ruang ganti katedral. Di sekelilingku, tiga orang penjahit sibuk memperbaiki lipatan gaun pengantinku, jarum-jarum pentul di mulut mereka terlihat seperti taring kecil. Gaun ini karya desainer ternama Aethelgard—sutra putih murni dihiasi ribuan kristal kecil, berkilau setiap kali aku bernapas. Cantik, memang. Di mata dunia, ini gaun impian. Tapi bagiku, sepuluh kilogram kain ini seperti baju besi—kurungan indah untuk memamerkan aset terbaru keluarga Montclair.
"Tolong, jangan terlalu kencang," bisikku saat salah satu penjahit menarik tali korset di punggungku.
"Harus pas, Nona. Pinggang Anda harus terlihat sempurna di kamera," jawabnya dingin tanpa melonggarkan tarikannya sedikit pun. Rasanya tulang rusukku akan patah, memaksaku menahan napas dan berdiri tegak seperti boneka porselen.
"Kau tampak sangat sempurna, Davina," suara Ibu terdengar dari arah pintu.
Dia masuk dengan gaun champagne yang berkilau, wajahnya berseri seperti baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Tidak ada jejak kesedihan di matanya, tidak ada rasa bersalah karena telah menjual putrinya sendiri.
Aku tidak menyahut, hanya menatap bayanganku di cermin. Riasan wajahku seperti topeng tebal. Foundation mahal menutupi pucat kulitku, lipstik merah seperti lukisan senyum di wajah mayat. Mataku terlihat cekung meski sudah ditutupi eyeshadow berkilauan. Sosok di cermin itu bukan Davina. Itu orang asing yang siap dikorbankan.
"Tersenyumlah sedikit, Sayang. Seluruh elit Aethelgard ada di luar sana. Para fotografer menunggu momen ini," Ibu mendekat, merapikan kerudung pengantinku yang panjangnya menyapu lantai. Jemarinya yang dingin menyentuh bahuku tanpa kehangatan.
"Kalian mendapatkan apa yang kalian mau, kan? Saham Montclair naik bahkan sebelum janji suci diucapkan," suaraku terdengar serak di telingaku sendiri, parau karena terlalu banyak menangis di makam Daniel tadi pagi. "Kenapa aku harus tersenyum untuk transaksi bisnis yang sukses?"
Ibu menghela napas. Senyumnya lenyap, digantikan tatapan pragmatis yang selalu aku benci. "Berhentilah menjadi martir, Davina. Leonard Lockwood adalah pria paling berkuasa di negara ini. Kau harusnya bersyukur dia memilihmu setelah rumor buruk tentang tunangannya dulu. Ini adalah kesempatanmu untuk memulai hidup baru."
Hidup baru? Atau masa lalu yang dipaksa mati? Ibu bicara seolah-olah melupakan Daniel adalah semudah mengganti saluran televisi.
Pintu terbuka lagi, dan Adrian masuk. Dia mengenakan tuksedo hitam yang sempurna, rambutnya disisir klimis, dan wajahnya tampak segar—wajah seorang pria yang hutang judinya baru saja dilunasi. Dia mendekat dan mengulurkan lengannya padaku.
"Waktunya, Davina. Ayah menunggumu di depan pintu altar."
Aku menatap lengan Adrian. Dulu, aku selalu merasa aman saat menggandengnya. Dulu, dialah yang melindungiku dari anjing tetangga yang galak. Sekarang, menyentuh kain jasnya saja membuatku ingin mencuci tangan. Dia bukan lagi pelindungku; dia makelar yang menjualku. Tanpa sepatah kata, aku melangkah maju, membiarkan kain sutra menyeret langkahku keluar, berdesir di lantai marmer seperti bisikan hantu.
Koridor katedral panjang dan dingin. Udara di sini berbau dupa tua dan lilin yang meleleh, aroma yang lebih mengingatkanku pada kematian daripada pernikahan. Musik organ mulai bergema dari aula utama—melodi megah seperti jeritan teratur.
Saat pintu ganda aula dibuka, ratusan pasang mata berpaling ke arahku.
Kilatan kamera dari jurnalis yang diizinkan masuk membuat mataku perih. Aku melihat wajah-wajah tamu undangan di sisi kiri dan kanan. Mereka adalah rekan bisnis Ayah, saingan Leonard, dan sosialita kota yang haus gosip. Tatapan mereka bukan tatapan bahagia. Ada yang menatap dengan iri, ada dengan kalkulasi bisnis, ada dengan rasa kasihan merendahkan. Mereka tahu aku dijual. Mereka semua tahu.
Di ujung altar, Leonard Lockwood berdiri menungguku.
Dia tampak mengintimidasi dalam setelan hitam pekat yang dijahit khusus untuk tubuh tegapnya. Cahaya dari lampu gantung kristal di langit-langit katedral memantul di rambut gelapnya, menciptakan aura yang nyaris bersifat religius namun gelap. Dia tidak bergerak, tidak tersenyum, tidak terlihat gugup seperti pengantin pria pada umumnya. Dia hanya berdiri dengan tangan terjalin di depan tubuhnya, menatapku seolah aku adalah mangsa yang akhirnya berhasil dipojokkan di sudut hutan setelah perburuan panjang selama sepuluh tahun.
Ayah mengambil tanganku dari Adrian dan membawaku menyusuri jalanan tengah yang ditaburi kelopak mawar putih. Setiap langkah terasa seperti menancapkan paku ke peti matiku sendiri. Kakiku gemetar di balik gaun tebal ini, tapi cengkeraman tangan Ayah di lenganku memaksaku terus berjalan.
Saat kami sampai di hadapan Leonard, Ayah menyerahkan tanganku kepadanya.
"Jaga dia," ucap Ayah, sebuah formalitas kosong.
Leonard menerima tanganku. Jabat tangan itu terasa dingin. Dia menggenggam dengan erat, jemarinya yang panjang dan kasar melingkupi telapak tanganku yang berkeringat dingin. Itu bukan genggaman kasih sayang; itu peringatan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada jalan untuk kembali.
Upacara dimulai. Suara pendeta yang membacakan ayat-ayat suci terasa seperti dengungan lebah di telingaku. Aku tidak benar-benar mendengarkan. Pikiranku melayang ke makam Daniel yang basah oleh embun pagi ini. Bayangan mawar putih yang diremas hancur oleh Leonard kembali menghantuiku. Apakah Daniel melihatku sekarang? Apakah dia membenciku dari surga karena aku berdiri di sini, bersumpah pada pria yang mungkin telah mengakhiri hidupnya?
"Leonard Lockwood, apakah kau bersedia menerima Davina Montclair sebagai istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dari hari ini sampai maut memisahkan?"
"Aku bersedia," suara Leonard memotong dengan cepat, tegas, dan penuh otoritas. Suaranya menggema di dinding batu katedral, tidak menyisakan ruang keraguan sedikit pun.
"Davina Montclair, apakah kau bersedia..."
Tenggorokanku tercekat. Lidahku terasa kelu. Hening menyelimuti katedral. Aku melirik ke arah tamu undangan. Di barisan paling depan, keluarga Lockwood duduk dengan wajah kaku seperti patung lilin. Di sudut belakang, aku melihat Megie. Matanya merah, dia menatapku dengan tatapan hancur sambil menggigit bibirnya. Dia memegang ponselnya erat, seperti sedang menunggu instruksi dariku untuk lari dan menghentikan kegilaan ini.
Tapi lari ke mana? Leonard memiliki Oakhaven dalam genggamannya.
"Davina?" Pendeta mengulang namaku, sedikit mendesak.
Cengkeraman Leonard di tanganku semakin menguat, meremas tulang-tulang jariku hingga terasa sakit. Matanya menatapku dengan intensitas yang mengerikan, menuntut jawaban yang sudah dia beli dengan harga mahal. Tatapan itu berkata: Katakan, atau keluargamu hancur hari ini juga.
"Aku... aku bersedia," bisikku pelan, suaraku nyaris hilang ditelan musik organ.
Leonard mengambil cincin platinum bertahtakan berlian hitam dari kotak beludru. Dia menyematkannya di jari manisku. Cincin itu terasa dingin dan berat, seperti borgol kecil yang mengikatku seumur hidup.
"Dengan ini, aku nyatakan kalian sebagai suami istri."
Tepuk tangan membahana di seluruh katedral, namun bagiku, itu terdengar seperti suara runtuhnya sebuah bangunan. Leonard menarikku mendekat. Dia tidak mencium bibirku. Dia membungkuk dan mencium keningku lama sekali, menghirup aroma rambutku dengan cara yang membuatku merinding.
"Selamat datang di nerakaku, Vina," bisiknya di telingaku, sangat pelan hingga tidak ada orang lain yang mendengar, namun cukup jelas untuk meruntuhkan sisa pertahananku.
Aku menggigil hebat. Saat kami berbalik untuk berjalan keluar katedral, aku melihat seorang wanita berdiri di dekat pilar besar di barisan tengah.
Dia berbeda dari tamu lainnya. Dia mengenakan gaun merah mencolok—satu-satunya warna yang berani menantang dekorasi putih dan hitam di ruangan ini. Gaun itu ketat, memamerkan lekuk tubuhnya dengan provokatif. Rambut pirangnya tergerai, dan matanya menatapku dengan kebencian yang begitu murni hingga kulitku terasa terbakar.
Itulah Valeria Crowe. Wanita yang menurut desas-desus adalah selingkuhan Leonard, atau mungkin pemilik hati Leonard yang sebenarnya sebelum aku datang. Dia tidak menangis. Dia hanya mengangkat gelas wine-nya sedikit ke arahku dan tersenyum tipis—senyum meremehkan yang menjanjikan penderitaan. Tatapannya seolah berkata: Kau hanya boneka pajangan, Davina. Tempatmu hanyalah sementara.
Resepsi pernikahan diadakan di Ballroom Hotel Grand Oakhaven. Pesta paling mewah yang pernah kulihat, penuh dengan menara champagne, bunga impor, dan makanan yang tidak tersentuh. Namun aku merasa seperti pajangan yang diletakkan di atas panggung lelang. Leonard membawaku berkeliling, memperkenalkanku pada rekan bisnisnya, pejabat tinggi Aethelgard, dan orang-orang yang hanya melihatku sebagai aksesori baru keluarga Lockwood.
"Ayo berdansa, Istriku," ajak Leonard saat musik waltz dimulai. Dia tidak menunggu jawabanku, langsung menarikku ke tengah lantai dansa.
"Kau lelah?" Leonard bertanya saat kami bergerak berputar. Tangannya melingkar di pinggangku, bukan dengan lembut, tapi posesif. Dia menarik tubuhku begitu rapat hingga tidak ada jarak tersisa. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan teratur, kontras dengan jantungku yang mau meledak. Dia mengendalikan setiap langkahku. Jika aku mencoba mundur, dia menahanku. Jika aku melambat, dia memaksaku mengikuti temponya.
"Aku ingin pulang," jawabku singkat tanpa menatap matanya. Aku fokus pada kancing jasnya, tidak sanggup melihat wajah kemenangan itu.
"Kita akan pulang," ucapnya. "Tapi bukan ke rumah ayahmu. Ke rumah kita. Ke The Black Ridge."
Nama itu membuatku teringat mansion Lockwood yang terletak di atas bukit paling sunyi di Oakhaven. Tempat yang dikelilingi hutan cemara hitam dan pagar besi yang tinggi, tempat tidak ada tetangga yang bisa mendengar jika seseorang berteriak.
Pesta berakhir saat tengah malam mendekat. Saat kami keluar dari hotel, SUV hitam yang sama sudah menunggu. Angin malam menyapu wajahku, membawa serta kenyataan bahwa kebebasanku benar-benar sudah habis. Leonard membukakan pintu untukku, dan saat aku masuk, aku menyadari gaun pengantinku yang putih bersih kini telah ternoda sedikit lumpur di bagian bawahnya—mungkin terkena cipratan saat kami berjalan keluar tadi.
"Jangan khawatirkan gaunnya, Vina," ucap Leonard saat dia duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Suaranya datar, tanpa emosi. "Kau tidak akan membutuhkannya lagi. Mulai besok, kau hanya akan memakai apa yang aku ingin kau pakai."
Mobil mulai bergerak meninggalkan keramaian kota, mendaki jalanan berliku menuju puncak bukit. Oakhaven perlahan menghilang di balik kabut, menyisakan kegelapan hutan yang semakin rapat dan menelan cahaya lampu jalan. Aku menatap keluar jendela, melihat siluet nisan-nisan di kejauhan saat kami melewati pinggiran kota, tempat hatiku terkubur.
Selamat tinggal, Davina Montclair. Selamat datang di dalam sangkar, Vina Lockwood.