Barra menghampiri istri yang sedang memasak. Duduk di kursi makan yang ada di sana. Tidak mengatakan apa pun. Annisa menoleh saat menyadari kedatangan suami, tersenyum. "Udah ngomong sama anak-anaknya?" "Kamu kok tega banget, sih? Bukannya bantu aku jelasin ke anak-anak terutama Kean, malah ninggalin aku gitu aja," kesal Barra. Tentu saja ia dicecar dengan banyak pertanyaan oleh anak-anaknya terutama Keandra, putri cantiknya yang cerewet. Annisa terkekeh. ''Mas 'kan biasanya paling pintar jawab pertanyaan. Katanya Mas jago meyakinkan klien sampai bisa dapet tender milyaran. Masa jawab pertanyaan anak aja gak bisa." "Aku lebih baik yakinin klien daripada yakinin anak kamu yang keras kepala itu." "Buah jatuh gak jauh dari pohonnya, Mas," sindir Annisa. "Jadi maksud kamu aku keras ke

