Pagi Kelabu

1781 Kata

Rani Aku tidak mengerti, sebenarnya ada apa dengan diriku. Meski yang sedang aku hadapi saat ini adalah suamiku sendiri, tapi rasanya aku masih saja malu. Apalagi, aku seperti tidak bisa mengendalikan diriku ketika hentakan demi hentakan aku rasakan di pusat inti tubuhku. Kemahiran Abang membuatku benar-benar lemah tak berdaya, kini aku benar-benar terkulai lemah, sama seperti dirinya juga yang langsung ambruk menimpaku. "Berat, Abang," bisikku sambil menepuk pundaknya pelan, setelah lebih dari satu menit aku membiarkannya dengan posisi seperti itu. "Capek nggak?" Tanyanya, lalu memindahkan tubuhnya dariku. Seketika kami saling bertatapan. Mata indah dan sedikit tajam miliknya itu selalu membuatku tersipu, tiap kali dia menatakup seperti ini. Dikecupnya kening, pipi, lalu turun ke b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN