Prolog
Sudah satu Minggu Joivy tinggal dan menetap di negara ini. Berada di sini adalah pelariannya. Masalah yang datang bertubi-tubi dari tempat kelahirannya, membuatnya menyerah. Kini, ia memulai hidup barunya. Berharap kedamaian dan ketenangan menyertainya.
Bekerja, belanja kebutuhan dapur, pulang ke apartemen dan tidur. Begitulah aktifitas harian Joivy. Hidupnya berjalan lancar dan teratur tanpa gangguan apapun.
Sampai pagi itu tiba. Pintu depan apartemennya yang ia kira tidak berpenghuni terbuka lebar bersamaan dengan dirinya yang juga membuka pintu apartemen berniat pergi bekerja.
Joivy menatap pria itu yang tengah menatapnya pula. Pria muda memakai seragam dengan tas sekolah dipundak kanannya, pakaian tidak rapi dan menatapnya dalam diam. Datar tanpa ekspresi sama sekali. Demi keramahan sesama tetangga, Joivy tersenyum kearah pria muda itu. Sayangnya, senyumnya dibalas dengan kepergian.
Sial, ia seharusnya tahu negara ini bukan negaranya yang lama. Di sini terkenal individual nya. Harusnya ia tak menyapa tadi. Menyesalkan sekarang?
"Aku tidak akan menyapanya. Semoga tidak ada pertemuan seperti seminggu lalu yang sudah kulewati."
Harapan tinggal lah harapan. Tak sesuai perkiraan. Wajah itu hanyalah topeng. Joivy tidak pernah membayangkan kesehariannya akan sekacau ini. Dimana tenang yang ia cari? Tidak ada. Pria muda bernama El, alias Gael itu, tetangga depan apartemennya, selain pengganggu, dia juga b******k! Sialan!