Sabiya mengetuk-ngetuk ponselnya di dagu. Sesekali menggigit bibir bawah, menandakan ada sesuatu yang membuatnya cemas. Berkali-kali mencoba memikirkan langkah yang diambilnya namun hasilnya tetap sama, Sabiya dilema. Entah perbuatannya kali ini akan membuat Romeo marah atau tidak. Mengingat sifat cemburuan suaminya yang sudah mendarah daging. Ingin menyampaikan yang sejujurnya pun Sabiya merasa keberatan. Sudah bisa mengira-ira wajah serta tatapan seperti apa yang akan ditunjukan oleh Romeo. Ini nekad, Sabiya tahu. Dan cukup menyulut emosi jika saja Romeo tahu. Tapi untuk kali ini saja, biarkan Sabiya menjadi istri nakal yang tidak izin untuk kepergiannya. Yang terpenting tidak ada niat lain untuk kepergiannya kali ini. Dan semoga saja Romeo tidak tahu. Maka tidak akan ada pertengkaran

