Napas Oji terengah. Dia merasa terkena serangan jantung mendadak. Dipeganglah d**a kirinya. Kecewa dia pada Aksa yang tidak memberitahunya. Pantas Oji merasa Aksa selalu bersikap aneh setiap dia mendengar nama Ayra disebut Gibran. Apalagi setelah Ayra menghilang dari Gibran, Aksa pun seolah ikut menghilang. Gibran mencipratkan air di wajah OJi. Dia kesal melihat Oji seperti keranjingan jin. “Astaga. Cemen?” pekik Oji sembari mengusap kasar wajahnya. Cipratan air mengenai kemeja flanelnya. Gibran mengelus d**a. “Akhirnya elu baik-baik aja. Gue takut semua jin di galeri masuk ke tubuh elu.” Hidung Oji kembang kempis. Antara rela dan tak rela. “Lu aneh tahu nggak. Kemaren ngotot pengen tahu, di kasih tahu malah kayak gini.” “Jadi Ayra itu beneran Nayna?” Oji menghempas tubuhnya di sa

