Gibran menunggu Nayna di depan kampusnya. Pandangannya fokus dari dalam mobil menuju gedung kampus yang terbuka. Senyumnya tak henti-henti terurai, dia benar-benar merasakan bahagia. Sesuatu yang dia anggap biasa ternyata pada kenyataannya begitu luar biasa. Angin mengalun lembut menerbangkan rambut gadis bermata coklat itu. Tapi, tiba-tiba dia mengernyit saat melihat tangan Nayna di tarik seorang pria. Ada rasa tidak suka saat dia melihat itu. Dia ingin marah ingin menendang pria itu dari hadapan Nayna. Tapi, dia tahu itu perlakuan yang tidak beradab. Nayna menghentikan langkahnya sesaat setelah Dewa menarik tangannya. “Apa?” “Aku mau ngomong.” “Kemaren bukannya udah, kamu mau ngomong apa lagi?” “Nay, please Nay.” “Dewa? Apa bang Aksa ngancem kamu?” Dewa menggelengkan kepala.

