Nayna tersipu tapi juga terharu. Apa Gibran benar-benar akan memperistrinya? Dia sudah lupa dengan orang yang memanggilnya berulang kali di balik telepon. Hingga Gibran mengakhiri panggilan dengan kasar. Sementara Nayna memijat pelipisnya sendiri. Kepalanya tiba-tiba sakit melihat Gibran dengan sorot matanya yang tajam. Gibran berdehem. Dia mendekatkan wajah menatap Nayna yang sedang tertunduk. Tapi Nayna masih menunduk, tapi tidak sedang menikmati mie, hanya sedang merasa bahagia, karena Gibran berlaku tegas pada Dewa. Juga karena Gibran menyebutnya calon istri Gibran semakin mendekat, hendak mencium pipi Nayna, tapi waktu berjalan lambat. Seketika Nayna menoleh karena napas Gibran terasa begitu dekat mengembus pipinya. Secara tidak sengaja bibirnya menempel pada bibir Gibran, membuat

