"“Kan, teman kamu dari Jakarta juga sedang berlibur di sini, ‘kan?” tanya Abah. “Bukan teman Arkan, Bah,” terang Enin. “Itu temannya Irfan. Kemarin kita kan sudah bertemu dengan teman Irfan itu.” Abah tertawa. Ternyata dia salah menyebut nama cucunya. Arkan hanya garuk-garuk kepala. Setelah beberapa lama mengobrol dan melepas rindu. Nayna dan Dinda sudah berada di dalam kamar yang akan mereka tempati. Hari makin larut. Dinda sudah terlelap membelakangi Nayna yang sedang gusar, karena teringat pada Gibran yang mendadak berubah. Suaranya terdengar begitu sendu saat meneleponnya. Dia mencoba mengirim pesan padanya. [Malam.] Beberapa kali mencoba merangkai kata. Akhirnya kata itu saja yang terkirim. Menunggu beberapa saat. Tak ada balasan. Kata tersebut memang tak memerlukan jawaba

