“Please kak Jangan. Nanti aku marah loh.” Gibran tak mendengar Nayna. Dia terus mendekat, hingga bibirnya dan bibir Nayna hanya berjarak satu senti. Tapi, Nayna pura-pura bersin, agar pria itu menjauh darinya. Kemudian tertawa saat Gibran menjauhkan wajahnya. Nayna segera bangkit. “Aku harus pulang.” “No.” Gibran menahan tangannya. “Aku nggak mau sesuatu terjadi di antara kita. Logika aku masih menguasai, kak.” “Kak Gibran butuh kamu.” “Besok aku ke sini lagi. Pagi-pagi banget. Aku janji.” “Nggak.” Gibran berjalan ke arah pintu. “Kamu nggak boleh ke mana-mana.” Gibran mengunci pintu itu. Nayna tergemap. Mendadak salivanya tercekat di tenggorokkan. “Kakak, aku nggak mau buat dosa dan bikin kecewa mama, papa, sama bang Aksa,” ucapnya. “Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu sayan

