Nayna keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Rambut basahnya di balut handuk. “Udah,” ucapnya sembari berjalan melewati Gibran. Wanginya tertinggal di setiap jejak yang dia lewati. Membuat Gibran tersenyum tipis. Dia berjalan mengikuti Nayna, kemudian membalikkan tubuh gadis itu. Dan langsung melahap bibirnya. Belaian demi belaian, Nayna rasakan lembut di bagian atas dan bagian bawah bibirnya. Berulang kali. Aroma mint dari mouthwash merangsek masuk ke kerongkongan. Gibran mencengkram pinggul Nayna. Membuat desahan itu tak terelakkan. Gibran menjatuhkan tubuh Nayna ke kasur, meski dia tak melepaskan pagutannya. Gibran semakin rakus meraup seluruh wajah Nayna. Meninggalkan jejak di setiap tempat. Hingga Beralih ke leher. Namun, pintu terdengar di gedor dengan kencang berulang kal

