Nayna menatap rumah berpagar hitam itu. Dia kembali menarik napas, menenangkan dan meyakinkan diri. Harryana dan Susan sudah lebih dulu masuk. Sementara Aksa menunggu Nayna. “Dek?” Nayna mengangguk. Melangkahkan kaki. Seraya mengucap Bismillah …. Aksa dan yang lainnya sudah berada di depan pintu kamar Gibran. Menunggu Nayna siap mengetuk pintu. Nayna kembali menarik napas. Ketukan itu terdengar pelan. “Kak.” Nayna kembali menarik napas. “Kak, ini aku.” Gibran yang sedang duduk di pojok sembari memeluk lutut itu menajamkan telinga. Suara lembut itu ingin dia dengar kembali. Berharap ini bukan halusinasinya. “Kak, buka pintunya dong.” Nayna memejamkan mata. “Nayna kangen,” lanjutnya. Gibran mendekatkan telinga ke daun pintu. “Kalau kakak nggak buka pintunya aku pulang lagi deh.

