"Sudah selesai," ucap Crystal. Diambilnya tisu dan mengelap bibir Saga. Saat dia memandang sang kekasih, Crystal menyadari tatapan kosong dari pria itu kadang-kadang melihat ke arah pintu seakan menunggu seseorang dan ya, dia tahu siapa orang yang ditunggu.
Ia kecewa tapi tidak memrotes mengingat Saga sedang sakit. Perasaan berkecamuk dalam diri. Crystal berada di hadapan Saga tetapi kekasihnya malah memikirkan orang lain. Bukankah dia sudah berjanji akan tetap mencintai Crystal meski sudah menikah dengan wanita lain? Kenapa sekarang dia tak menepati janjinya yang dulu?
"Crystal," suara Saga menginterupsi. Crystal terus menoleh, berharap dia mendapat perhatian dari sang kekasih.
"Sudah habis, kan makanannya?" tanya Saga. "Sekarang pergilah dari sini. Takutnya keluargaku akan datang dan membuat masalah, aku tak mau hal itu terjadi." Layaknya sebilah pisau menembus d**a. Hati Crystal terasa perih. Jelas sudah jika Saga tak mengingkan keberadaannya di tempat itu.
"Baiklah, kau memang tak membutuhkanku, kan?" Crystal tersenyum kecut. Dia bergegas menyimpan rantang makanan yang dibawa dan pergi selekas mungkin tanpa pamit.
"Nanti aku akan menghubungimu!" Saga setengah berteriak sebab Crystal telah keluar dari kamar inap. Beberapa langkah wanita itu berhenti. Ia buru-buru mengesat air mata dan kembali bergerak pergi. Di ujung koridor, Crystal bertemu dengan Lizzy yang baru saja datang. Mereka berdiam diri saling menatap satu sama lain.
Mata Crystal melihat ke tupperware sementara Lizzy melihat Crystal sedih. Tidak ada pembicaraan di antara mereka ketika Crystal angkat kaki meninggalkan istri dari sang kekasih. Lizzy kemudian berjalan ke arah sebaliknya. Baru saja menampakkan diri suaminya langsung berceloteh. "Kau dari mana saja? Aku khawatir karena kau tak ada?"
"Maaf aku pulang memasak," Lizzy beralasan.
"Ya setidaknya kau meninggalkan catatan," sahut Saga kesal.
"Maafkan aku." Saga menghela napas.
"Baiklah sekarang siapkan makanannya, aku lapar sekali." kening Lizzy mengkerut.
"Kau belum makan? Bukannya kau sudah makan dengan Crystal. Satu rantang makanan pasti sudah cukup membuatmu kekenyangan." Mata membulat Saga memberikan makna yang jelas buat Lizzy.
"Aku bertemu dengan dia tadi di koridor." Lizzy tersenyum smirk. "Sepertinya tanpa aku pun kau sudah bahagia."
"Tidak kau salah paham!" Saga membantah.
"Oh ya aku juga harus jujur padamu. Tadi pagi aku tidak hanya memasak untukmu tapi aku juga masak untuk Gail. Kami juga bertemu dan dia sangat suka dengan masakanku dan mengatakan jika-"
"Kau menemui pacarmu saat aku sedang sakit?" potong Saga. Raut muka Saga berubah menjadi kesal.
"Kenapa? Bukan hanya kau yang punya pacar," Lizzy meledek. Saga mengepalkan tangannya erat, Mencoba menenangkan diri dengan memilih membaringkan diri dan tak melihat istrinya. Lizzy juga diam, dia tak mau berbicara juga pada Saga.
Hingga sore menjelang mereka berdua tidak membuka percakapan. Saga seharian tidur, dia juga tak menyentuh makanan yang dibuat oleh Lizzy sama sekali tidak tersentuh. Karena itu Lizzy mengembuskan napas kasar. "Makananku jadi mubazir lagi," gumamnya.
Mata coklat milik Lizzy kemudian beralih dari Saga ke layar ponsel. Tanggal 31 Mei 2021 tercetak jelas dan membuat wanita itu untuk kedua kalinya menghela napas panjang. "Lizzy," suara Mahendra--Ayah Saga menginterupsinya. Pria itu baru saja masuk ke dalam kamar.
Dia lantas menoleh, memberikan senyuman pada Ayah mertua. "Ayah, kenapa tidak bilang kalau mau datang? Aku akan membangunkan Saga,"
"Eh tak usah, Ayah juga tak lama di sini. Bagaimana kabar Saga? Apa dia sudah baikkan?" tanya Mahendra.
"Iya Ayah. Dia lebih baik dari kemarin tapi karena tidak bisa kemana-mana Saga lebih sering tidur," Lizzy menjawab sedikit berbohong. Mahendra menganggukan kepala mengerti.
"Kalau begitu Ayah titip salam buat dia. Ini juga Ayah titipkan oleh-oleh buah, Ayah akan pergi." kening wanita itu mengkerut.
"Secepat ini?"
"Yah, sebenarnya urusan kantor belum selesai. Ayah cuma mau melihat saja kalian berdua," sahut Mahendra.
"Oh begitu, baiklah. Hati-hati di jalan Ayah,"
"Yah." Setelah itu tubuh Mahendra menghilang dari balik pintu. Pria yang memiliki sedikit keriput di wajahnya tampak tersenyum lebar. DIa senang akan kedekatan antara Lizzy dan Saga serta berharap dengan hal tersebut maka anak bungsunya akan menjauh dari kebiasaan buruk. Mahendra pun ingin sekali memiliki cucu dari Saga.