Part 32Selamat Jalan, Kekasih “Abang, kenapa wajahnya murung begitu?” Andini mengelus rambut yang sebagian besar sudah berwarna putih itu penuh kasih sayang. Memijit lembut kening belahan jiwanya yang sedang terbaring sakit. Suaminya itu langsung diam saja begitu sang putri keluar dari kamar tidur orang tuanya. “Abang kepikiran dengan biaya kuliah Mentari nanti. Sedangkan warung kita hanya cukup untuk biaya sehari-hari saja. Abang juga sudah lama tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk keluarga kita.” Hendra menatap wajah sang istri yang duduk di kursi dekat kepalanya berbaring. Andini memeluk leher suaminya, menciumi pipi yang pucat itu. Lalu, meletakkan wajahnya di sebelah wajah lelaki belahan jiwanya itu. Cintanya tak pernah luntur sedikitpun, walaupun sang suami kini tidak tampan dan

