13

3089 Kata
Han Rae dengan hati-hati membuka jas hitam Yongtae, menyisakan kemeja putih yang sudah sangat berantakan tidak karuan. Mereka jadi pulang menggunakan mobil Yongtae. Bahkan pria itu sampai lupa melepas kunci dari mobil karna terburu-buru ingin menghampiri Han Rae tadi. Han Rae kemudian mengambil handuk kecil yang ia rendam pada air hangat, setelah memerasnya, Han Rae meletakan handuk kecil itu pada kening Yongtae. Yongtae masih belum sadar juga. Han Rae menghela napasnya, ia beranjak berdiri dari kursi disamping ranjang untuk melepas sepatu Yongtae. Cklek. Pintu kamar tamu tiba-tiba terbuka, dan rupanya Woojung yang sudah membuka pintu. "Bagaimana kondisi Yongtae?" tanya Woojung. "Dia belum sadar." Balas Han Rae.                 "Sebenci-bencinya kau terhadap Yongtae, kau tetap mau mengurusnya ternyata." Kata Woojung diselingi senyuman kecil. "Aku hanya menolongnya, sebagai sesama manusia." Balas Han Rae, sembari menatap Yongtae. "Aku tinggal dulu ya? Aku mau siapkan teh hangat." Ujar Woojung. "Tunggu, tunggu, aku ikut, sepertinya Yongtae akan bangun-" Blam, ckrek. Woojung seolah tidak mendengar ucapan Han Rae. Ia malah menutup pintu bahkan menguncinya. Han Rae berlari kearah pintu, menggedornya sembari memutar-mutar knop pintu. "Woojung!" teriak Han Rae. "Han Rae." Sebuah suara serak tiba-tiba memanggil Han Rae. Semua pergerakan Han Rae seketika terhenti dan kepalanya sontak tertunduk. Han Rae hanya berdiam diri di depan pintu, dengan posisi membelakangi Yongtae. Ia sangat takut dengan Yongtae. Apa lagi ia sudah membuat masalah. Pergi dari rumah. Han Rae bisa membayangkan gesper yang mungkin melayang pada punggungnya. Ia tidak menyadari Yongtae sudah beranjak dari ranjang dan berjalan mendekatinya. Han Rae tersentak saat tiba-tiba ada tangan yang melingkar pada bahu dan pinggangnya, juga dagu yang bertumpu pada bahunya. "Lepaskan aku. Aku minta maaf sudah pergi, tapi lepaskan aku, jangan paksa aku pulang." Ucap Han Rae dengan nada lirih dan ketakutan. Nada suara Han Rae juga ucapannya terasa sangat menyakitkan dihati Yongtae. Seolah seribu belati menancap dihatinya. "Aku yang minta maaf." Ucap Yongtae. "Aku memang bukan suami yang baik. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal, kita bangun rumah tangganya demi anak kita." Han Rae terdiam sejenak saat mendengar perkataan Yongtae. "Aku ingin..... seseorang yang juga mencintaiku, bukan hanya karna anak ini. Bukannya aku egois. tapi-" kalimat Han Rae langsung terpotong oleh kalimat Yongtae. "Aku akan melakukannya." Ucap Yongtae. "Kau berbohong, aku tahu! Kau hanya merayuku agar pulang dan kau bisa menjadikan aku bahan hinaan dan siksaanmu lagi!" kata Han Rae. Han Rae dengan kasar melepas kedua tangan Yongtae yang merengkuh tubuhnya, hingga lengan Yongtae sedikit tercakar. Kemudian Han Rae mendorong Yongtae menjauh darinya. "Aku tidak berbohong Han, aku serius." Kata Yongtae. "Aku sampah, aku p*****r dimatamu, aku rendahan. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan itu. Kau yang bilang sendiri aku tidak pantas untukmu, apa lagi untuk kau cintai." Kata Han Rae. "Aku salah saat itu! Aku salah! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu! Aku terlalu marah karna kau menelfon Woojung, aku minta maaf." Kata Yongtae. "Aku tidak pernah mengerti dengan sikapmu. Kau sering bersikap manis, tapi berujung kau menyakitiku lagi, apa dengan begitu aku dapat mempercayaimu lagi? Mungkin sekarang kau minta maaf, tapi besok?" kata Han Rae. Yongtae mengacak rambutnya frustasi karna tidak bisa meyakinkan Han Rae juga. "Aku semalaman mencarimu! Sampai tidak tidur! Aku menangisimu, aku mengkhawatirkanmu! Sebelum kau pergi aku sudah ingin minta maaf! Tapi kau malah pergi! Aku lelah! Aku pusing! Dan sekarang kau begini padaku! Kau sama sekali tidak menghargai usahaku mencarimu semalaman! Apa susahnya hanya memaafkan aku?! Lalu kita pulang!" "Apa susahnya kau bilang?!" Teriak Han Rae sembari mendorong dan memukul d**a Yongtae, hingga pria itu mundur. "Apa susahnya kau bilang setelah apa yang kau bilang?! Kau benar-benar tidak tahu caranya menghargai wanita!" Han Rae kembali berteriak. "Aku sudah minta maaf, dan aku berjanji akan berubah! Aku ingin memulai semuanya dari awal! Aku ingin membangun rumah tangga yang benar denganmu! Itu kan yang kau mau?! Apa usahaku untuk mencarimu kurang meyakinkan semuanya?!" Yongtae akhirnya tak kalah berteriak. Cklek. Woojung tiba-tiba masuk ke kamar, dan menarik tangan Han Rae untuk lebih menjauh dari Yongtae. "Bukan begitu caranya minta maaf dan berjanji." Ucap Woojung. "Jangan ikut campur!" seru Yongtae. "Aku harus ikut campur karna kau bisa menyakiti Han Rae, emosimu tidak terkontrol." Balas Woojung. Yongtae menggertakan giginya. Ia tiba-tiba mendorong Woojung dan hendak memukulnya, namun Han Rae segera melindungi Woojung, hingga pukulan Yongtae melesat mengenai kepala Han Rae, gadis itu seketika langsung terjatuh ke lantai. "Kau benar-benar tidak tahu diri." Ucap Woojung sembari menatap tajam Yongtae. Sedangkan Yongtae hanya bisa diam mematung. "Han Rae, kau tidak apa-apa?" tanya Woojung sembari membantu Han Rae berdiri. Han Rae hanya menggelengkan kepalanya sembari menundukan kepalanya. Ia merasa pening sekarang. "Kau istirahat di kamarku saja." Kata Woojung sembari mengusapi kepala bagian kiri Han Rae yang terkena pukulan. Ting tong. Ting tong. "Halo, halo, apakah ada orang? Ini Edward, mau bertemu Kak  Han Rae." "Tuan, ada tamu." Pembantu Woojung tiba-tiba datang memberitahu. Woojung pun akhirnya bergegas keluar kamar untuk melihat siapa yang datang. *** "Kau siapa?" tanya Woojung sesaat setelah ia membukakan pintu, untuk tamu yang datang tersebut. "Aku Lai Edward, pria tampan se Taiwan." Balas Edward sembari tersenyum lebar. Woojung memutar kedua bola mata malas. "Bukan itu maksudku. Bagaimana kau tahu rumah ini, dan ada keperluan apa kau mencari Han Rae? Kau mengenalnya?" tanya Woojung. "Oh, aku adik bohong-bohongannya Kak Han Rae. Aku tadinya mau datang ke rumah Kak Han Rae, tapi Kak Han Rae bilang dia sudah tidak tinggal di rumahnya yang lama, jadi dia memberikan alamat rumah ini." Kata Edward. "Adik bohong-bohongan? Ah, tapi memangnya ada urusan apa kau dengan Han Rae?" Woojung kembali bertanya. "Aku ada tugas biologi, besok harus dikumpul. Aku mau minta diajari Kak Han Rae, karna banyak kalimat yang tidak aku mengerti. Aku kan bukan Korea." Kata Edward menjelaskan. "Oh, tapi Han Rae sedang sakit kepala." Balas Woojung. "Apa? Kenapa?" tanya Edward. "Hanya pusing biasa." Balas Woojung. "Boleh aku menjenguknya? Kebetulan aku membawa dua dus kue donat, masih hangat, mungkin saja Kak Han Rae suka." Kata Edward. "Oh, ya sudah, silahkan masuk." Ucap Woojung. "Omong-omong, Kakak siapanya Kak Han Rae?" tanya Edward sesaat setelah ia memasuki rumah Woojung. "Eungg... aku Kakaknya." Balas Woojung, berbohong. "Kakaknya lebih cantik dari adiknya, kkkk..." komentar Edward diselingi kekehan. "Kalau Han Rae dengar dia bisa merajuk padamu." Kata Woojung. Edward seketika menutup mulutnya. "Yah meskipun lebih cantik Kakaknya, yang perempuankan tetap Kak Han Rae, kkkk..." ucap Edward. Woojung hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Edward. Bahasa Koreanya masih belum bagus, tapi ia sudah cukup banyak berbicara. Woojung mengantar Edward ke kamarnya, dimana ada Han Rae di sana tengah mengompres kepalanya dengan handuk yang diberi es batu. Disamping ranjang berdiri Yongtae yang hanya diam sembari memperhatikan Han Rae. Rambut coklat Yongtae sangat acak-acakan, dan kedua tangannya terus terlipat di depan d**a. "Oh Kak Yongtae juga ada disini. Jadi kalian tinggal disini ya sekarang?" tanya Edward. "Tidak, kami hanya menginap sebentar." Balas Yongtae tanpa menatap Edward. "Nuna, kau tidak apa-apa?" tanya Edward sembari berjalan mendekati ranjang. Han Rae tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Hanya pusing sedikit, nanti juga sembuh. Nanti kita jadi belajarnya." Kata Han Rae. "Kalau masih pusing jangan dipaksakan. Oh iya, aku bawa donat, niatnya untuk cemilan saat belajar. Tapi kalau Kakak begini..... dimakan sekarang saja." Kata Edward. "Ya sudah disimpan saja untuk cemilan nanti. Aku kan sudah bilang ini hanya pusing ringan, nanti juga sembuh." Balas Han Rae sembari tersenyum tipis. Yongtae tiba-tiba menatap Edward dengan tatapan tajam. "Hei bocah, kau mau belajar dengan Han Rae?" tanya Yongtae. "Iya, kami sudah janjian sejak semalam. Kak Yongtae baik, mulai membolehkan Kak Han Rae pegang ponsel, jadi aku bisa lebih banyak minta bantuan padanya. Kemarin juga Kak Han Rae mengajarkan aku cara melawan Ibu-Ibu galak penyewa kamar yang menagih biaya sewa dengan brutal." Kata Edward. "Dia mengajarkan hal yang tidak baik namanya." Timpal Yongtae. "Tapi bulan ini aku jadi bisa jajan lebih banyak." Balas Edward. "Aku kira kau orang kaya." Gumam Yongtae. "Orang tuaku memang kaya, tapi aku tidak. Aku kan belum kerja. Kalau uangnya masih dari orang tua, dibaginya tetap dibatasi." Kata Edward. Yongtae akhirnya memilih diam, dia tiba-tiba hendak mengelus kepala Han Rae, namun Han Rae segera menghindar. Edward mengernyitkan keningnya melihat itu. Ia tiba-tiba mendekatkan dirinya lebih dekat pada Yongtae. "Sudah aku tebak, Kakak belum mandi, bau asam. Pantas Kak Han Rae menghindar. Diakan sedang hamil Kak, bisa mual bahkan sampai muntah." Kata Edward gamblang. Tawa Woojung tanpa bisa ditahan pecah. Entah Edward yang memang polos, atau dasarnya mulutnya memang tajam. Yang jelas itu berhasil membuat Yongtae menggeram kesal dengan nada rendah, hingga Edward tidak menyadarinya. "Adik bayi pasti suka dengan donat yang aku bawa. Ayo dimakan Kak." Kata Edward sembari menyodorkan kantung plastik berisi dua dus donat yang ia bawa. "Nanti, buat cemilan saat kita belajar saja." Ucap Han Rae. Tak lama tawa Woojung pun mereda, ia kemudian menatap Han Rae. "Kau istirahat saja Han, kalau masih pusing. Edward bisa belajar denganku. Satu kotak donatnya untukmu, satunya lagi untukku dan Edward belajar." Ujar Woojung. "Ide yang bagus! Kak Woojung pasti sepintar Kak Han Rae juga, karna biasanya Kakak beradik tidak jauh berbeda." Timpal Edward. "Kakak adik?" gumam Han Rae sembari menatap Woojung bingung. Woojung kemudian mengedip-ngedipkan matanya, mengisyaratkan, jika ia sedang berbohong. "Lalu donat untukku?" tanya Yongtae tiba-tiba. "Kak Yongtae berbagi dengan Kak Han Rae." Balas Edward. *** Woojung dan Edward belajar di ruang tengah. Sebenarnya Woojung tidak terlalu bagus dalam pelajaran biologi. Kecuali bab tertentu mungkin. Ia lebih banyak makan donat dan menerangkan bagian yang Edward tidak mengerti seadanya. Sedangkan Yongtae baru saja selesai mandi, Woojung dengan berbaik hati mau meminjamkan bajunya. Yongtae mandi cukup lama, memastikan ia benar-benar sudah tidak bau asam. Padahal menurut Yongtae ia masih wangi. Selesai mandi, Yongtae pergi ke kamar Woojung untuk melihat kondisi Han Rae. Han Rae terlihat tertidur, namun dengan posisi duduk, dan bersandar pada headboard. Ditangannya ada donat rasa coklat yang hanya tinggal seperempat, dibagian pinggir bibir gadis itu juga penuh coklat. Yongtae menggelengkan kepalanya. Han Rae paling tidak bisa menahan rasa kantuknya. Ia berjalan mendekati Han Rae. Yongtae mengambil sisa donat yang ada di tangan Han Rae, dan memakannya. Ia kemudian mengambil tisu untuk membersihkan jari-jari juga bibir Han Rae dari coklat dan sisa minyak. Han Rae sama sekali tidak bergerak ataupun terusik, meskipun bibir Yongtae sudah mendarat diatas bibirnya, dan membuat pergerakan yang sangat lembut. "Aku tidak pernah punya pengalaman apapun soal perempuan, berkencan. Aku jadi memang tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan baik, bagaimana caranya mencintai pasangan dengan baik. Aku benar-benar bodoh dalam semua hal itu. Apa yang harus aku lakukan?" Yongtae kemudian keluar kamar setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, tak berselang lama, Han Rae membuka matanya. "Lalu maunya dia sebenarnya apa? Au, bibirku perih.’’ Gumam Han Rae. *** "Kau pernah berkencan?" tanya Yongtae pada Edward, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam. Seharusnya ini tugas pembantu Woojung, tapi Yongtae bilang dia yang mau masak. Jadi pembantu Woojung bisa pulang lebih awal. "Tentu saja pernah, masak pria tampan sepertiku tidak pernah berkencan?" kata Edward dengan angkuhnya. "Mmmhh, jadi berapa kali kau pernah pacaran?" tanya Yongtae lagi. "14 kali." Balas Edward jujur. Byur. Wush. "Astaga!" Edward berteriak histeris saat Yongtae tanpa sengaja menuangkan terlalu banyak air ke wajan, hingga api langsung naik ke atas. "Kenapa terkejut sekali?" tanya Edward. "14 kali? Diusia semuda ini?" Yongtae bertanya balik dengan tidak percaya. "Eum, memang kenapa?" Edward bertanya lagi dengan kening mengkerut. "Ck, kau pasti playboy." Ucap Yongtae. "Tidak, aku hanya kasihan pada gadis yang sudah menyatakan perasaannya, jadi setiap ada yang menyatakan perasaan padaku, aku terima, tapi kami hanya berkencan seminggu. Mmmhhh... tapi ada satu orang gadis yang benar-benar aku sukai, dan kami pacaran cukup lama, sekitar satu tahun lebih, tapi karna aku harus kesini, jadi kami putus. Kami tidak bisa berhubungan jarak jauh, apa lagi masih remaja labil begini.’’ Cerita Edward. “Kalau Kakak sendiri bagaimana? Pernah pacaran?" "Tidak pernah. Aku tidak pernah pacaran sampai akhirnya menikah dengan Han Rae." Kata Yongtae. "Jadi kau dan Kak Han Rae tidak pacaran?" tanya Edward. "Kami menikah karna dijodohkan." Balas Yongtae. "Kenapa kau tidak pernah pacaran? Sampai akhirnya dijodohkan. Memangnya Kakak tidak laku ya?" Edward seketika bungkam, saat mendapat tatapan tajam dari Yongtae. "Pasti..... sebelumnya kalian tidak saling mencintai ya? Tapi pasti sekarang sudah. Seperti di drama-drama." Yongtae menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Edward. "Aku..... malah sedang bertengkar dengannya. Tadi Han Rae menghindar dariku, bukan karna bau tahu!" kata Yongtae. "Tapi Kakak benar-benar bau tadi! Aku tidak bohong!" timpal Edward. "Ck. Eum, bocah, kau kan sudah sering berkencan. Aku tidak pernah sama sekali. Ajarkan aku bagaimana caranya memperlakukan gadis yang dicintai." Pinta Yongtae. "Perlakukan dia seperti Ibumu." Ucap Edward. "Eum, aku hampir tidak pernah bersama Ibuku." Kata Yongtae. "Memang selama ini kau tidak pernah menyukai seorang wanita?" tanya Edward. "Tidak." Balas Yongtae. "Kau gay?" kata Edward dengan salah satu alis terangkat. "Kau gila? Ck, jangan alihkan pembicaraan!" kata Yongtae. "Iya, maaf." Ucap Edward. "Jadi ajarkan aku. Aku akan menambah uang jajanmu, bahkan aku bisa membayarkan sewa kamarmu." Kata Yongtae. "Oh itu baru bagus." Sahut Edward sembari tersenyum lebar. *** 'Pertama perlakukan wanita dengan lembut. Kadang wanita itu susah dimengerti maunya apa, bisa semuanya serba salah. Apa lagi saat hormon mereka sedang tidak stabil, seperti sedang menstruasi atau hamil juga mungkin. Kalau dia buat kesal, harus sabar, jangan emosi. Nanti lama-lama dia akan luluh melihat kita sabar menghadapinya.' "Aku tidak ingin udang, amis." Ucap Han Rae sembari duduk di kursi meja makan. "Tapi ini bagus untuk Ibu hamil, Yongtae juga memasaknya pedas, tidak akan terasa amis." Timpal Woojung. Yongtae mendengus karna Woojung yang lebih dulu membalas ucapan Han Rae. "Jadi kau mau apa Han?" tanya Yongtae dengan nada suara selembut mungkin. "Aku mau makan sesuatu yang asam-asam pedas." Balas Han Rae. "Ini udang asam-asam pedas." Kata Yongtae. "Tapi akukan tidak mau udang." Balas Han Rae. "Tomyam? Nanti aku buatkan." Kata Yongtae, Han Rae menggelengkan kepalanya. "Tidak ah, nanti menunggumu masak lagi lama." Ucap Han Rae. "Mau pesan?" tawar Yongtae. "Tidak mau. Aku mau makanan rumahan. Masakan dari luar itu tidak baik. Kau mau meracuni anakmu?" ujar Han Rae. "Ya setidak-tidak amannya, tidak akan sampai meracuni anak kita." Timpal Yongtae. "Aku mau puddingnya saja." Kata Han Rae sembari menunjuk pudding coklat yang sengaja Yongtae buatkan khusus untuk Han Rae. "Ya sudah, aku potongkan ya?" tawar Yongtae. "Ah tidak usah, nanti aku gendut." Kata Han Rae. "Ibu hamil wajar gendut." Ucap Yongtae. "Jadi kau memang ingin aku gendut?! Agar kau bisa menghinaku kalau aku jadi semakin jelek?!" seru Han Rae Yongtae mengepalkan tangannya, tapi Edward dari belakang, menepuki punggungnya. Mencoba membuat pria itu tenang dan bisa menahan emosinya. Yongtae kemudian menghela napasnya, berusaha menenangkan diri. "Jadi kau mau apa? Tidak mungkinkan kau tidak makan?" tanya Yongtae. "Ya sudah aku makan udangnya saja." Balas Han Rae. 'Sialan, seperti mengerjai aku.' Batin Yongtae. *** 'Mereka suka dipuji, tapi jangan berlebihan, kesannya nanti dibuat-buat. Biasa saja... misalnya kau memujinya cantik, tapi secara spontan. Tidak usah, kau cantik seperti bidadari yang turun dari surga, bla bla bla. Tidak hanya fisik yang bisa dipuji, kebaikannya, perbuatannya. Tapi sekali lagi ingat, jangan berlebihan. Kalau wanita membuat salahpun harus diingatkan, bukan dipuji. Tapi diingatkannya baik-baik, kecuali kalau dia membangkang.' "Aku tidak mau tidur denganmu." Ucap Han Rae sesaat setelah ia membereskan kasur, yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. "Lalu mau tidur dimana? Mau tidur dengan Woojung? Suamimu kan aku. Aku juga tidak bisa tidur di sofa, ada Edward. Kau tahu badannya panjang sekali, seluruh sofa dikuasai. Kau tega menyuruhku tidur dilantai? Padahal aku saja sedang sakit." Kata Yongtae. Han Rae mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah mau bagaimana lagi? Lagi pula kenapa Edward jadi menginap? Dia tidak bilang mau menginap." Gerutu Han Rae. "Jangan cemburut, aku..." Yongtae menggantungkan kalimatnya sejenak. 'Aku gemas, tapi rasanya menjijikan sekali untuk mengucapkannya.' "Kau jadi tambah jelek." Ucap Yongtae dan spontan ia menutup mulutnya. "Aha, aku sudah tahu kau akan berkata begitu." Timpal Han Rae datar sembari berbaring di ranjang. "Tidak, maksudku. Kau akan lebih bagus tersenyum." Kata Yongtae. "Aku sedang kesal kenapa malah disuruh tersenyum?" tanya Han Rae sinis. "Aku dengar, tersenyum meskipun terpaksa bisa memperbaiki mood meskipun sedikit." Balas Yongtae. "Tidurlah. Kau aneh sejak pagi." Ucap Han Rae. Yongtae menghela napasnya, kemudian berbaring disamping Han Rae. Yongtae menatapi punggung Han Rae. Ya, gadis itu tidur membelakanginya. "Punggungmu bagus." Komentar Yongtae asal. "Mmh." Balas Han Rae. "Bahumu bagus." "Rambutmu bagus, hanya terlalu tipis." "Pinggangmu juga bagus meskipun sedang hamil." "Tubuhmu bagus, sexy- au!" Yongtae mengerang kesakitan saat lengannya tiba-tiba dicubit oleh Han Rae, yang tiba-tiba berbalik saat Yongtae mengomentari tubuhnya. Sungguh ia benci itu. "Sakit! Aku kan sedang memujimu, kenapa malah dicubit sih?" protes Yongtae. "Tidak sopan berkata begitu!." Balas Han Rae. "Aku kan berniat memuji! Apa salahnya? Harus kau berterimakasih karna aku memuji tubuhmu sexy." Kata Yongtae. "Kau niat romantiskan? Jauhi pikiran jorokmu dulu." Kata Han Rae. "Aku tidak berpikir jorok, memangnya itu hal jorok? Aku hanya bicara apa adanya. Aku juga mau bilang, matamu bagus, hidungmu bagus, bibirmu bagus, sayang kening dan pipimu lebar, kakimu bagus, pahamu bagus, dadamu bag- - AU!" Yongtae memegangi selangkangannya yang baru saja ditendang oleh lutut oleh Han Rae, sampai-sampai kalimatnya terpotong. "Sakit Han! Nanti kalau adik bayi yang diperut tidak punya adik bagaimana?!" seru Yongtae. "Jaga dong ucapanmu!" teriak Han Rae. "Aku itu hanya mau memuji! Menghina salah, memuji salah! Wanita itu memang sulit dimengerti ya?" keluh Yongtae. "Bukan sulit dimengerti! Kau yang salah!" seru Han Rae. "Aku salah apa lagi astaga?!" balas Yongtae. *** "Kau yakin tips yang kau beri pada Yongtae seperti itu?" tanya Woojung. "Iya Kak. Aku sudah bilang jangan berlebihan." Balas Edward. "Ya sudah kau tidur di kamarku saja kalau keberisikan." Kata Woojung yang diangguki semangat oleh Edward. Mereka pun segera pergi dari depan kamar tamu. "Oke fine! Kau cantik, kau hanya cantik!" "Hanya cantik?! Jadi aku tidak baik?!" "Ya kau cantik dan baik, puas?!" "Kalau tidak tulus memujiku, tidak usah sok-sokan memuji! Akh! Lepaskan aku!" "Mengoceh lagi aku bungkam mulutmu. Mumpung bibirku sedang kering." "Tidak mau! Yongtae lepas!’’     "Ash sial! Meskipun sudah di kamar, pertengkaran mereka tetap terdengar. Sialan, bagaimana caranya aku bisa tidur kalau begini?" keluh Edward. "Kau bisa bicara kasar juga rupanya." Timpal Woojung. "Ya tentu saja bisa.’’ Balas Edward sembari menatap aneh Woojung. "Jadi selama ini kau pura-pura polos?" tanya Woojung. "Aku tidak pura-pura polos, aku hanya belum mengerti Bahasa Korea dengan baik, dan aku suka bicara apa adanya." Balas Edward. ‘’Sumpah, aku kira kau anak polos yang manis.’’ Kata Woojung, Edward memutar kedua bola matanya malas. ‘’Aku sudah dewasa meskipun masih dibawah umur. Bahkan sepertinya aku jauh lebih tidak polos dibanding kau.’’ Timpal Edward. ‘’Ah kau benar. Ya sudahlah, tidur sekarang, sudah malam, besok kau sekolah.’’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN