"Kenapa tidur di sofa semalam? Kau marah denganku?" tanya Yongtae di sela aktifitasnya sarapan bersama Han Rae.
"Aku ketiduran." Balas Han Rae dengan nada dingin.
Han Rae tidak terlalu banyak makan karna ia merasa mual. Hal yang biasa terjadi dipagi hari saat seseorang sedang hamil.
"Ketiduran? Benarkah? Aku tahu kau diam-diam mengambil ponselmu dan menghubungi Woojung, mengadukan semua tentangku padanya."
Han Rae seketika melebarkan matanya saat mendengar perkataan Yongtae, ia menatap Yongtae yang balik menatapnya tanpa ekspresi.
Han Rae hanya berharap Yongtae tidak tahu rencananya untuk kabur hari ini, karna seingat Han Rae, Han Rae tidak mengatakan apapun saat Woojung mengajaknya pergi, dan ia juga tidak meloudspeaker telfon.
"Kau seperti anak tk, yang mengadu pada orang tuanya." Ucap Yongtae dengan nada sindiran.
"Memangnya kenapa? Aku butuh seseorang untuk berbagi bercerita." Balas Han Rae mencoba bersikap biasa.
"Tapi berani sekali kau mengobrak-ngabrik tasku dan mengambil ponselmu, dan, mungkin maksudmu, kau butuh seorang pria untuk dijadikan selingkuhan, bukan teman berbagi cerita." Cibir Yongtae.
"Kau tahu? Sebenarnya kau tidak punya hak untuk mengambil ponselku. Ponselku itu aku beli menggunakan uangku sendiri, bukan uangmu. Jadi seharusnya kau tidak bisa merampasnya. Aku juga tidak gila sepertimu! Aku sadar statusku masih menikah, dan aku tidak mungkin melakukan itu!" Kata Han Rae dengan muka merah padam karna amarah yang ia letupkan. "Oh begitu?" gumam Yongtae.
Buk. Han Rae tersentak saat ia tiba-tiba dilempari ponsel oleh Yongtae. Itu ponselnya. Setelah membentur kepalanya, ponselnya jatuh kepangkuannya.
"Aku sudah mengembalikan ponselmu, dan kita lihat, seberapa sering kau menghubungi Woojung, dan hubungan kalian akan berakhir bagaimana." Kata Yongtae.
Han Rae hanya diam mendengar ucapan Yongtae, ia hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.
"Kau itu buruk rupa, miskin, dari kalangan keluarga rendahan, tapi kau tidak tahu diri dan merasa tersakiti. Seharusnya kau terima saja diperlakukan seperti apa olehku. Apa kau kira kau itu pantas untukku? Jangan berharap lebih!" Kata Yongtae dengan angkuhnya, hingga menohok perasaan Han Rae.
"Setidaknya hargai aku sedikit! Tidak usah aku! Hanya pernikahan ini saja!" Balas Han Rae.
"Untuk apa aku menghargaimu?! Apa lagi pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan?! Untuk apa?!" seru Yongtae.
"Kau itu juga sama tidak tahu diri! Kau sudah memakai hati Ayahku untuk menyelamatkan hidupmu!" Han Rae berujar dengan nada tak kalah tinggi dengan Yongtae.
"Itu hanya kecil! Dan bukan keinginanku didonorkan hati oleh Ayahmu! Kau bisa mengambilnya lagi jika kau mau! Dan aku bisa mendapatkan pendonor yang jauh lebih baik dari Ayahmu!" Han Rae melotot mendengar penuturan Yongtae yang benar-benar sudah kelewatan. Ia berjalan mendekati Yongtae, dan menghujani pria itu dengan beribu-ribu pukulan.
"Aku mau kita cerai! Ceraikan aku sekarang!" Teriak Han Rae.
Yongtae menggeram kesal kemudian mendorong Han Rae untuk menjauh darinya.
"Aku tidak akan menceraikanmu, karna kau sedang hamil anakku!" Yongtae ikut berteriak.
"Aku akan menggugurkannya sekarang agar kita bisa bercerai!" Han Rae melontarkan kalimat spontan di luar nalarnya karna sudah terlalu kalut.
Plak. Satu tamparan seketika mendarat dipipi Han Rae.
"Jaga ucapanmu. Kau sama saja mau membunuh nyawa tidak bersalah. Kau membuat pagiku benar-benar kacau!"
Setelah melontarkan perkataan tersebut, Yongtae langsung keluar dari dapur. Meninggalkan Han Rae yang sedang menangis sembari memegangi pipi kanannya yang memerah.
***
Yongtae menatap kosong keluar jendela ruangannya, ia sebenarnya marah karna semalam Han Rae menelfon Woojung. Namun marahnya jadi merembet kemana-mana. Karna ia tidak bisa terus terang kalau ia marah karna cemburu Han Rae menelfon Woojung. Lagi pula Han Rae menelfon Woojung karna ulahnya. Yongtae dengan mulut pedasnya dan emosinya yang sering tidak terkendali. Yongtae mengusap kasar wajahnya.
'Apa aku harus terus terang tentang perasaanku sekarang?'
Batin Yongtae sembari melirik jam tangannya, sudah jam 9:45.
Yongtae baru beberapa jam di kantor, tidak mungkin kalau sekarang ia sudah pulang.
'Nanti saja saat jam makan siang, aku pulang. Astaga Lee Yongtae, apa yang sudah kau lakukan tadi pagi? Sekarang Han Rae benar-benar membencimu.'
***
Woojung mengusap air mata Han Rae dengan lembut menggunakan sapu tangannya. Ia kemudian mengusap lembut kepala Han Rae.
"Jangan menangis ya? Kasian adik bayinya, pasti jadi ikut sedih dan menangis, melihat Ibunya menangis." Ujar Woojung.
"Memangnya bisa begitu?" Tanya Han Rae dengan suara yang terdengar sumbang.
"Tentu saja. Ikatan anak dan Ibu kan kuat. Apa lagi kalian sekarang berada disatu tubuh." Balas Woojung sembari tersenyum.
Han Rae tiba-tiba melepas cincin pernikahannya, dan melemparnya ke jalan raya. Mata Woojung melebar melihatnya. Pergerakan Han Rae sangat cepat hingga ia tidak sadar apa yang sudah dilakukan gadis itu. Kalau ia sadar, ia sudah mencegatnya. Cincin itu terlihat dilindas beberapa kendaraan, dan mungkin lambat laun cincin itu akan hancur.
"Han Rae apa yang kau lakukan?" tanya Woojung.
"Pernikahanku akan segera berakhirkan? Jadi tidak masalah aku melakukannya? Itu cincin terkutuk, tidak bagus kalau dipakai orang lain juga." Balas Han Rae.
"Bagaimana kalau suatu saat kau akan menyesal sudah melakukan itu?" Tanya Woojung lagi.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan menyesal." Balas Han Rae mantap.
"Han, bagaimana kalau suatu saat Yongtae menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan?" Woojung lagi-lagi bertanya.
"Woojung, kau sebenarnya mendukung siapa? Yongtae tidak akan pernah berubah. Dimatanya aku ini manusia rendahan Jung. Sampah." Kata Han Rae. Woojung menghela napasnya.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu." Ucap Woojung
Han Rae tiba-tiba memeluk Woojung, membuat Woojung terkejut. "Aku benar-benar lelah hidup bersama Yongtae."
***
Yongtae memasuki rumahnya, seraya menenteng sesuatu ditangannya. Sebuah kotak berwarna putih dengan corak-corak hati berwarna pink memenuhi seluruh kotak.
"Han Rae! Aku pulang!" seru Yongtae dengan nada ceria dari biasanya.
Namun tidak ada jawaban. Yongtae bisa merasakan suasana rumah yang sangat sepi seperti tidak ada penghuni.
Yongtae dengan terburu-buru meletakan kotak berisi kue yang ia bawa, ke atas meja di ruang tamu, dan langsung menelusuri rumah.
Dapur, taman belakang, kamar mandi, semua ruangan Yongtae cek. Hingga berakhir di kamar.
Cklek. Pintu kamar dibuka. Lutut Yongtae seketika terasa lemas, seolah semua tulang yang menopang tubuhnya runtuh begitu saja. Saat ia tidak melihat keberadaan koper Han Rae, juga barang-barangnya yang lain seperti laptop dan sebagainya.