Yongtae sontak melepas tautan bibirnya dengan gadis itu. Matanya melebar saat melihat pria dengan wajah lembut khasnya berdiri di bawah panggung dengan mata menyalang.
Yongtae buru-buru turun dari panggung untuk menghampiri pria bersurai coklat itu.
"Aku kira kau sudah mau berubah, tapi kau malah..... begini?" ujar pria itu, sembari menatap Yongtae dengan tatapan tidak percaya.
"Aku malah apa? Bukankah kau juga sudah main gila dengan Han Rae?" tanya Yongtae sembari berdecih sinis.
"Aku tidak pernah main gila dengan Han Rae. Kami sadar posisi. Han Rae sudah menikah, dan aku juga sudah menjadi mantannya." Kata pria itu.
"Lalu yang terjadi tadi siang apa hah?" Yongtae kembali bertanya dengan sinis.
"Itu hanya kecelakaan. Aku yang mulai, aku yang salah, aku terbawa suasana saat itu." Balas pria itu.
Yongtae kemudian hanya terdiam mendengar penuturan pria yang tak lain adalah Woojung itu.
"Satu yang perlu kau tahu, aku masih mencintainya, kalau kau masih menyakiti Han Rae, aku tidak segan untuk mengambilnya darimu." Kata Woojung mengancam.
Yongtae menatap tajam Woojung, namun tak lama ia tertawa kecil meremehkan.
"Meskipun dia nanti hamil anakku?"
Woojung seketika melebarkan matanya saat mendengar perkataan Yongtae.
"Apa maksudmu huh?!’’ Pekik Woojung.
"Apa ya?" Yongtae berkata dengan nada menyebalkan.
"Kau pasti melakukannya dengan paksaankan?!" Seru Woojung sembari mendorong bahu Yongtae.
Yongtae malah menggendikan bahunya.
"Yaaa... bisa dibilang begitu sih." ucap Yongtae dengan enteng. Woojung mengertakan giginya.
"Aku tidak peduli. Han Rae tidak pantas untuk b******n sepertimu. Aku beri peringatan sekali lagi, aku masih tetap mencintai Han Rae, entah apapun yang sudah terjadi padanya. Dan jika kau menyakitinya lagi, aku tidak main-main untuk mengambilnya darimu."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Woojung bergegas pergi meninggalkan Yongtae yang hanya diam mematung di tempat.
Yongtae mengepalkan kedua tangannya.
"Berani sekali dia itu," gumam Yongtae.
***
Woojung menatap kartu ucapan yang dibuat Yongtae itu, rasanya ingin ia remas dan buang ke tong sampah, tapi ia merasa tidak pantas melakukannya. Bagaimana jika Yongtae akhirnya berubah?
Han Rae harus melihat kartu ucapan ini. Meskipun setelah kejadian tadi, ia merasa ragu. Yongtae benar-benar b******n.
Woojung jadi khawatir bagaimana kondisi Han Rae sekarang, perasaannya benar-benar tidak enak, apa lagi setelah Yongtae mengatakan jika mereka sudah berhubungan, dan dengan paksaan.
"Ya Tuhan lindungilah Han Rae."
***
Yongtae memasuki rumah dengan langkah lung lai. Ia kemudian bergegas ke kamarnya. Begitu membuka pintu kamar, ia bisa melihat Han Rae sudah tidur dengan posisi meringkuk, dan seluruh tubuh tergulung selimut.
Ucapan Woojung masih terngiang dibenak Yongtae, dan itu benar-benar menganggu pikiran Yongtae.
Yongtae berjalan mendekati Han Rae. Ia membuka selimut yang membungkus tubuh Han Rae. Bahkan gadis itu belum membersihkan tubuhnya.
Yongtae membuka jeketnya, kemeja hitamnya juga celana jeansnya. Menyisakan hanya celana pendek selutut.
"Mandi malam-malam sekali-sekali tidak apa-apakan?" gumam Yongtae. Ia kemudian meraih tubuh Han Rae dari dalam selimut dan menggendongnya.
Gadis itu tidak terganggu sedikitpun, hanya bergumam dan tampak sedikit merinding karna merasakan hawa dingin menyergap kulitnya.
Yongtae tersenyum simpul sebelum akhirnya ia berjalan memasuki kamar mandi. Yongtae kemudian menyiapkan air hangat di dalam bath up, tidak banyak, hanya seperempat dari bath up.
Sebelum akhirnya memasukan Han Rae ke dalam bath up. Kaki Han Rae seketika menyentak merasakan air disebagian tubuhnya, namun gadis itu tetap tidak terbangun juga.
Yongtae menggelengkan kepalanya melihatnya.
Yongtae akhirnya mengambil puff dan menuangkan sabun cair disana. Setelah membuat busa yang cukup banyak, Yongtae mulai menyabuni Han Rae dengan hati-hati.
Selesai menyabuni Han Rae, Yongtae menyiram tubuh Han Rae dengan shower untuk membersihkan busa-busa yang berada ditubuh Han Rae, dan akhirnya Han Rae terbangun darinya. Mata Han Rae seketika melebar melihat kondisinya, juga keberadaan Yongtae yang tengah menggosok tubuhnya menggunakan tangannya untuk menyingkirkan busa-busa yang tersisa.
"Ap-apa yang kau lakukan?" Tanya Han Rae dengan tergagap.
"Memandikanmu. Memangnya kau tidak bisa lihat?" balas Yongtae dengan enteng.
Ia kemudian menarik tangan Han Rae pelan agar merubah posisinya jadi duduk. Yongtae lalu menyiram kepala Han Rae, Han Rae hanya bisa diam sembari menundukan kepalanya.
"Kau tidak risih apa tidur dengan kondisi tubuh lengket? Atau kau malah suka tubuhmu kotor dengan sisa-sisa…?"
Han Rae seketika mendongakan kepalanya, menatap Yongtae dengan tatapan risih dan pipi memerah. Sedangkan Yongtae malah menyeringai tipis. Tak lama Yongtae mengulum senyuman lebar seraya mencubit pipi kanan Han Rae. "Jangan malu, kau akan terbiasa nanti.’’
***
Yongtae membaringkan tubuh Han Rae diranjang, setelah ia selesai mengganti sprai, selimut juga sarung bantal dengan yang baru dan bersih. Yongtae kemudian langsung berbaring disamping Han Rae yang hanya diam terduduk.
"Ayo tidur." Ucap Yongtae.
"Aku mau pakai baju dulu." Balas Han Rae sembari akan turun dari ranjang.
Namun Yongtae tiba-tiba meraih pergelangan tangan Han Rae.
"Tidak perlu. Lepas handukmu, lalu kita tidur." Titah Yongtae.
"Aku tidak mau, aku mau pakai baju." Kata Han Rae dan mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Yongtae. Yongtae berdecak, akhirnya ia terpaksa menarik tangan Han Rae lebih keras, hingga Han Rae berbaring di sampingnya. Yongtae kemudian segera meraih pinggang Han Rae, membuat tubuh mereka saling berdekatan.
Yongtae menarik selimut hingga sebatas bahunya dan bahu Han Rae, ia kemudian melepas handuk yang Han Rae kenakan di dalam selimut, sebelum akhirnya melemparnya sembarangan ke lantai. Yongtae kemudian mengeratkan pelukannya pada Han Rae.
"Kenapa kau selalu bersikap aneh?" gumam Han Rae.
Yongtae hanya diam tidak menjawab, dan malah menutup matanya.
***
Yongtae dan Han Rae bangun bersamaan karna mendengar deringan telfon Yongtae yang berulang. Yongtae dengan malas beranjak duduk, kemudian mengambil celananya yang berada di atas meja nakas untuk mengambil ponsel dari sakunya.
"Halo, Ibu, ada apa?" Tanya Yongtae pada si penelfon.
"Kau sedang apa?"
"Baru bangun tidur."
"Astaga, sudah jam 8 sekarang!"
"Memangnya ada apa?"
"Ibu Han Rae masuk rumah sakit!"
"Apa? Kenapa bisa?"
"Penyakit jantungnya kambuh."
"Astaga, aku akan segera kesana. Kirimkan alamatnya rumah sakitnya Bu nanti."
"Iya, iya, cepatlah datang."
Pip. "Ada apa?" tanya Han Rae, yang melihat kepanikan.
"Ibumu masuk rumah sakit." Balas Yongtae.
Han Rae melebarkan matanya, ia segera turun dari ranjang, namun saat akan berdiri ia malah terjatuh.
"Astaga Han Rae, hati-hati." Ucap Yongtae sembari ikut turun dari ranjang, dan meraih tubuh Han Rae untuk dibawa ke kamar mandi.
***
"Sial, ban mobilku bocor." Gerutu Yongtae saat ia mengecek kondisi mobilnya. "Pasti dari semalam, tapi aku tidak sadar karna agak mabuk. Astaga, bagaimana ini? Bisa meledak di tengah jalan, rumah sakitnya jauh."
"Lalu bagaimana ini?" Tanya Han Rae gelisah, ia ingin cepat-cepat pergi ke rumah sakit.
"Kita naik kereta bawah tanah saja. Aku pesankan taxi ke stasiun." Balas Yongtae.
Mereka sama-sama menggigiti kuku-kuku mereka karna merasa gelisah. Sepuluh menit berlalu, taxi pesanan Yongtae pun akhirnya datang.
"Lompat ke punggungku." Titah Yongtae.
"Apa?" tanya Han Rae.
"Kau belum bisa jalan benar, masih lecetkan? Cepat naik, jangan buang waktu." Balas Yongtae.
Han Rae akhirnya melompat ke atas punggung Yongtae, dan pria itu setengah berlari keluar dari pekarangan rumah mereka mendekati taxi.
***
Yongtae menurunkan Han Rae begitu mereka memasuki kereta, namun kursi sudah penuh. Jadi Han Rae dan Yongtae terpaksa berdiri.
Diawal kereta tidak terlalu penuh, namun begitu ke stasiun kedua, kereta mulai penuh, dan semakin penuh saat mereka sampai ke stasiun ketiga.
Yongtae dan Han Rae terpisah diantara orang-orang, karna dari awal masuk kereta, mereka sudah berdiri berjauhan.
Yongtae jadi khawatir dan kelimpungan mencari Han Rae, masalahnya ia tahu gadis itu belum bisa banyak bergerak terutama melangkah. Ditambah penumpang yang saling berhimpitan begini, membuat Yongtae semakin khawatir.
Han Rae bisa saja mengalami pelecehan. Seharusnya ia mendorong Han Rae masuk ke gerbong khusus wanita, tapi karna kereta hampir jalan, Yongtae tidak bisa berpikir lagi.
Setelah mengedarkan pandangannya cukup lama, ia akhirnya bisa menemukan Han Rae yang tengah terhimpit orang-orang. Bahkan Han Rae sampai tidak bisa menggapai pegangan tangan diatas. Yongtae melangkah maju mencoba mendekati Han Rae, dan begitu ia merasa sudah bisa meraih Han Rae.
Kedua tangan Yongtae terulur dan terselip dibelakang kedua ketiak Han Rae. Secara tiba-tiba Yongtae mengangkat tubuh Han Rae ke atas untuk menariknya dari kerumunan. Sontak Han Rae dan menumpang yang lain terkejut melihat aksi Yongtae. Wajah Han Rae merah padam karna merasa malu, tapi Yongtae dengan santai malah meletakan Han Rae di atas pundaknya, hingga kepala gadis itu terantuk atap kereta.
"Maaf ya, istriku sedang sakit. Dia bisa sesak napas kalau berdesakan." Ujar Yongtae sembari tersenyum kikuk.
Sebenarnya ia juga malu melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi? Rasa khawatirnya mengalahkan rasa malunya.
Han Rae meringis dan hanya bisa memegangi rambut Yongtae, dengan cara meremasnya pelan.
***
Hingga sampai ke lima stasiun, Han Rae dan Yongtae akhirnya sampai tujuan. Yongtae kemudian meraih kedua tangan Han Rae yang sedari tadi memegangi rambutnya. Dengan susah payah mereka keluar dari kereta, Yongtae harus menekuk lututnya dan Han Rae merundukan tubuhnya.
"Turunkan aku." Ucap Han Rae dengan nada berbisik sesaat setelah mereka sudah kelur dari kereta, dan tengah berdiri di depan stasiun menunggu taxi pesanan Yongtae.
"Sebentar, sampai taxi pesananku datang." Balas Yongtae.
"Ck, aku malu begini. Lagi pula kau tidak berat apa?’’ Kata Han Rae.
"Yah sedikit. kau berat, berat sekali sih sebenarnya. tapi dari pada menggendongmu ulang untuk menghampiri taxi."
Han Rae menghela napasnya. Tak butuh waktu lama, pesanan taxi pun sampai. Yongtae buru-buru mendekati taxi, kemudian berjongkok terlebih dahulu, agar Han Rae bisa turun dari bahunya.
"Kau harus memijat bahuku nanti." Ucap Yongtae sebelum akhirnya bergegas memasuki taxi.
***
"Maaf Ibu, kami telat. Mobil Yongtae bannya bocor, tidak ada ban cadangan. Kalau mau ditambal akan lebih lama. Jalanan juga sedang macet karna ini hari libur. Jadi kami naik kereta tadi." Ibu Han Rae hanya tersenyum mendengar ocehan putrinya.
"Ya sudah tidak apa-apa. Ibu juga sudah baik-baik saja, untung pas sekali Ibu Yongtae sedang mampir ke rumah. Jadi Ibu bisa langsung ditolong." Ujar Ibu.
Han Rae menghela napas lega kemudian menatap Ibu Yongtae.
"Terimakasih banyak." Ucap Han Rae sembari membungkukan tubuhnya hormat pada Ibu Yongtae.
Ibu Yongtae tersenyum lebar.
"Tidak perlu sungkan begitu. Kitatakan keluarga. Omong-omong kenapa kau di gendong Yongtae tadi?" tanya Ibu Yongtae.
"Ahhh..." Han Rae melirik Yongtae yang malah mengerjapkan matanya. Tapi tak lama pria itu kemudian tersenyum.
"Kalian banyak berdoa saja agar hasil kerja kerasku, ah tidak, kerja keras kami, cepat membuahkan hasil." Ujar Yongtae sembari mengelus perut Han Rae.
Mata Ibu Han Rae juga Yongtae seketika melebar.
***
"Kenapa kau bilang begitu?" Tanya Han Rae, ditengah perjalanan pulang dari rumah sakit.
Setelah Ibunya dinyatakan sudah bisa pulang, Han Rae dan Yongtae akhirnya juga pulang. Padahal sebelumnya Han Rae ingin pulang ke rumah Ibunya saja dan menjaga Ibunya. Namun Ibu Han Rae malah tidak mau, dan menyuruhnya pulang bersama Yongtae.
"Memangnya kenapa kalau aku bilang begitu? Kenyataannya kau bisa hamil kapan saja," ujar Yongtae.
Han Rae menggembungkan pipinya.
Tak lama kereta berhenti di salah satu stasiun, dan penumpang langsung membludak masuk.
Yongtae sontak memegangi pinggang Han Rae, untuk melindunginya dari dorongan orang-orang. Setelah semua penumpang masuk, dan pintu kereta tertutup.
Yongtae memagari Han Rae menggunakan kedua tangan yang berada dikedua sisi tubuh Han Rae, juga menggunakan punggungnya. Agar Han Rae tidak berdesakan, atau bersentuhan dengan penumpang lain yang kebanyakan laki-laki. Han Rae mendongakan kepalanya untuk melihat Yongtae, dan pria itu tiba-tiba menundukan kepalanya hingga pandangan mereka bertemu, namun Han Rae buru-buru membuang mukanya kearah yang lain.
Yongtae tiba-tiba menekan kening Han Rae menggunakan salah satu tangannya, agar punggung Han Rae menempel didadanya. Yongtae kemudian melingkarkan kedua tangannya pada bahu dan pinggang Han Rae.
Seorang pria tua tiba-tiba memaksa untuk mendekati Han Rae, sontak saja itu membuat Yongtae segera melindungi Han Rae.
***
"Han Rae!" panggil Yongtae sembari membuka sweater hitamnya. Tak lama Han Rae muncul dengan mulut penuh es krim. "Kau makan es krimku ya?" Tanya Yongtae sembari berdecak kesal.
"Ini es krimmu? Tapi aku juga beli beberapa hari yang lalu dua baskom." Balas Han Rae.
"Itu rasa apa?" Tanya Yongtae lagi.
"Oreo." Balas Han Rae singkat.
"Oh ya berarti milikmu. Hei, kau tidak lupa untuk memijatku kan? Pundakku sakit sekali." Kata Yongtae sembari berbaring di ranjang.
"Aku mau makan es krim dulu sebentar." Kata Han Rae.
"Jangan karna tadi aku manjakan, kau jadi berani menunda perintahku." Kata Yongtae.
Han Rae menghela napasnya. kalau sudah begini ia bisa apa?
"Ya sudah, aku kembalikan es krim ini di kulkas." Kata Han Rae. "Cepat!" seru Yongtae.
Han Rae dengan terburu-buru ke dapur untuk meletakan es krimnya kembali ke kulkas. Sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk memijat Yongtae. Begitu sampai di kamar, Han Rae bisa melihat Yongtae yang sudah dalam posisi tengkurap.
"Naik saja ke punggungku, jangan ke bagian bawahku, karena kurus dan tajam, nanti sakit." Ujar Yongtae.
"Iya." Balas Han Rae sembari berjalan mendekati ranjang.
ia kemudian dengan hati-hati duduk diatas punggung Yongtae, bagian pinggang, sebelum akhirnya mulai memijat pria bersurai coklat yang tengah asik bermain dengan ponselnya.
From: Woojung
Bisa tidak? Aku bertemu dengan Han Rae sebentar? Atau biarkan dia kembali bekerja di kantorku.
To: Woojung
Mau apa? Aku tahu isi otakmu sudah busuk. Setelah kejadian kemarin malam, masih berani kau meminta bertemu dengan Han Rae?
From: Woojung
Aku sebenarnya tidak mau jujur kenapa aku mau bertemu dengan Han Rae. Tapi aku rasa, aku memberitahumu saja. Aku ingin memberikan buket bunga juga kartu yang sudah kau beli pada Han Rae. Bunganya masih segar karna aku rawat.
To: Woojung
Jadi kau mengambilnya? Dan kau membaca isi kartunya?
From: Woojung
Maaf jika sudah lancang. Jadi bagaimana?
To: Woojung
Buang saja semua itu. Apa yang aku katakan di dalam kartu, sekarang sudah berubah.
From: Woojung
Kenapa? Hanya karna kejadian kemarin, perasaanmu pada Han Rae jadi berubah dalam sekejab begitu?
To: Woojung
Bukan urusanmu.
From: Woojung
Kau sudah tidur dengannya, sama saja kau sudah menjadikannya milikmu kan?
To: Sialan Woojung
Belum tentu.
Read
"Han," panggil Yongtae.
"Ya?" sahut Han Rae.
"Apa kau pernah berjanji untuk menikah sekali seumur hidupmu, seperti kebanyakan wanita?" tanya Yongtae.