15

2014 Kata
Han Rae mengompres Yongtae, kemudian mengoleskan minyak hangat pada perut dan d**a Yongtae. Pria itu beberapa kali bersin dan tubuhnya menggigil. Pulang dari kerja, Yongtae langsung tumbang. Woojung bilang dari awal Yongtae memang sudah tidak sehat, saat makan siang, Ia hanya makan sedikit. Saat bekerja minum 2 cangkir kopi tanpa cemilan sampingan, untuk mengisi perut yang baru terisi sedikit makanan. Obat yang Woojung berikan selepas meeting hanya pengaruh sementara. Sepertinya Yongtae terkena gejala flu. "Han Rae..." panggil Yongtae dengan nada lirih. "Apa?" tanya Han Rae yang sedang memijat telapak tangan Yongtae yang kaku. Mungkin karna terlalu banyak mengetik dan menanda tangani berkas. "Padahal aku menginap di rumah Woojung, niatnya melakukan banyak hal untukmu, agar kau mau pulang. Tapi aku malah sakit." Kata Yongtae. "Melakukan banyak hal apa?" tanya Han Rae. "Ya melakukan banyak hal, yang meyakinkanmu, kalau aku sudah berubah, dan benar-benar ingin membangun rumah tangga yang baik dan sudah seharusnya. Bukan hanya demi anak kita, tapi karna aku memang sudah-" Yongtae tiba-tiba menghentikan kalimatnya. "Sudah?" tanya Han Rae. Yongtae terdiam sejenak sembari menelan ludahnya. Ia kemudian memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya membuka matanya dan menatap Han Rae. "Su-sudah... sudah, mencintaimu." Yongtae berujar dengan lirih. "Hah? Kau bilang apa?" tanya Han Rae. Yongtae berbicara dengan nada yang sangat kecil, sehingga Han Rae mendengar ucapannya dengan samar. "Ah itu tidak penting. Kapan-kapan saja aku bilangnya, momentnya tidak pas." Kata Yongtae. "Kau selalu saja aneh. Mana tanganmu yang lain? biar aku pijat." Kata Han Rae. Yongtae pun akhirnya segera memberikan tangannya yang lain, yang belum dipijat. Dan Han Rae pun mulai memijatnya. "Kau tidak ngidam? Tidak ingin sesuatu?" tanya Yongtae. "Tidak, aku tidak ingin apa-apa." Balas Han Rae. "Tidak ingin menciumku, atau apa?" Yongtae kembali bertanya. Han Rae memicingkan matanya pada Yongtae. "Aku mau kau cepat sembuh. Dan pulang." Ucap Han Rae. "Kau juga ikut?" tanya Yongtae dengan mata berbinar. "Ya tidak. Aku tetap disini." Balas Han Rae. "Hei, kau istriku. Kau seharusnya pulang bersamaku, bukannya tetap tinggal di rumah mantanmu." Kata Yongtae dengan tidak terima. "Aku belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi kemarin. Sebelum aku kesini." Jawaban Han Rae sukses membuat Yongtae terdiam. *** "Maaf ya Jung, aku merepotkanmu." Ujar Han Rae sembari duduk di depan Woojung, yang tengah menyantap lasagna. "Merepotkan apa?" tanya Woojung sembari mendongakan kepalanya menatap Han Rae. "Ya... Yongtae jadi ikut menginap disini, ditambah dia sakit pula." Balas Han Rae. Woojung tertawa kecil. "Aku senang rumah ini jadi ramai. Biasanya aku sendirian di rumah, tidak ada yang bisa diajak ngobrol, sekarang bahkan ada Edward. Tentu saja aku malah senang." Kata Woojung. "Ada Edward? Dia menginap lagi? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Han Rae. "Kau kan tadi sibuk mengurus Yongtae, bahkan dari sore sampai belum makan malam. Edward tidak mau menganggu, jadi begitu datang dia langsung masuk ke kamarku dan mengerjakan tugas sekolahnya. Katanya tugasnya menumpuk sekali." Jelas Woojung. "Kenapa dia menginap disini lagi?" tanya Han Rae lagi. "Dia butuh bantuanku untuk menerjemahkan hangul sekaligus bahasa yang masih belum ia mengerti." Balas Woojung. "Ooh... begitu, jadi sekarang ada Edward di kamarmu?" "Hum, tapi mungkin sudah tidur. Sekarang sudah jam 10. Pelajar seharusnya sudah tidur jam segitu." Han Rae menganggukan kepalanya. "Kau mau makan?" tanya Woojung. "Aku tidak lapar. Tadi bubur Yongtae tidak habis, jadi aku yang habiskan." Balas Han Rae. Woojung menganggukan kepalanya mengerti. Ia kemudian melipat kedua tangannya di atas meja makan, menatap Han Rae sembari tersenyum. "Bagaimana hubunganmu dengan Yongtae? Sudah membaik?" tanya Woojung. Han Rae terdiam sejenak. "Entahlah. Aku tidak tahu. Hubungan kami biasa saja." Balas Han Rae. "Kau masih berpikir untuk berpisah dengan Yongtae?" kali ini raut wajah Woojung lebih serius. Sedangkan Han Rae malah hanya terdiam mendengar pertanyaan Woojung selanjutnya. "Ak-aku tidak tahu." Gumam Han Rae. "Pantang bagi setiap orang, mengambil keputusan, disaat ia sedang marah, kecewa dan sedih. Karna otak mereka sedang buntu saat itu. Kau harus pikirkan baik-baik." Kata Woojung.  "Kenapa kau malah sangat ingin aku bertahan dengan Yongtae?" Tanya Han Rae. "Aku masih ingat kau bilang ingin rumah tanggamu dengan Yongtae bisa bertahan. Jadi aku rasa itu yang akan membuatmu bahagia. Aku senang melihatmu bahagia, jadi... tentu saja aku mendukung kalian untuk mempertahankan rumah tangga kalian." Balas Woojung. "Tapi kalau Yongtae saja seperti kemarin, bersikap dan berkata kasar, aku mana bisa bahagia?" kata Han Rae. "Kau lihat saja dulu. Seseorang bisa kapan saja berubah." Kata Woojung. "Kalau dia tidak berubah juga?" tanya Han Rae dengan tidak yakin. "Tanganku selalu terbuka untukmu." Balas Woojung. *** Han Rae menatap Yongtae yang sudah terlelap. Ia sudah tidak sepucat sebelumnya. Yongtae tidur dalam posisi menyamping, salah satu tangannya menumpu pipinya, dan mulutnya sedikit terbuka untuk membantunya bernapas. Hidung Yongtae mulai tersumbat, karna ia mulai pilek. Yongtae juga sudah tidak dikompres lagi karna demamnya sudah turun. Salah satu tangan Han Rae terulur untuk mengusap kebelakang rambut Yongtae, sebelum akhirnya beralih mengusap pipi kiri Yongtae, yang semakin hari semakin tirus. Yongtae tiba-tiba menggeliat, dan bergerak gelisah, ia mengingau dengan mata yang terbuka-tutup. Han Rae dengan sigap menenangkannya, dan berakhir membawa pria itu ke dalam rengkuhannya. Yongtae balik membalas pelukan Han Rae dengan erat sembari menenggelamkan wajahnya pada d**a Han Rae. Masih dengan sesekali bergumam. Namun Han Rae terus menepuki dan mengusapi punggung juga kepalanya, hingga lamban laun igauan Yongtae berhenti. Dan hanya terdengar napas Yongtae yang mulai teratur. 'Apa yang Woojung katakan benar? Yongtae akan berubah? Tapi aku masih takut.' Batin Han Rae. *** Han Rae mengenakan Yongtae dengan kaos yang masih baru dan bersih, setelah selesai membersihkan tubuh pria itu. Hanya bagian atas saja. Tak lama Yongtae bersin dan Han Rae buru-buru mengambilkan tisu. Sekarang seluruh tubuh Yongtae lemas, dan dia tidak bisa melakukan apapun selain berbaring dan duduk. Itu pun kalau duduk harus bersandar. Kalau mau ke kamar mandi harus dituntun. Han Rae tidak menyangka Yongtae akan separah ini jika kena flu. "Han Rae." panggil Yongtae dengan suara seraknya. "Mmh?" sahut Han Rae yang sekarang tengah sibuk membereskan sisa air hangat dan handuk yang dipakai untuk membersihkan Yongtae tadi. "Terimakasih." Ucap Yongtae. "Untuk?" tanya Han Rae. "Karna sudah merawatku." Balas Yongtae sembari menarik keatas kedua sudut bibir pucatnya. "Aku merawatmu, hanya atas dasar menolong sesama manusia." Kata Han Rae. Yongtae malah tertawa mendengar ucapan Han Rae. Ia tiba-tiba mencubit pipi kanan Han Rae. Tidak terlalu keras, karna ia sedang tidak punya banyak tenaga. "Bisa saja istriku ini, aku jadi semakin sayang." Ucap Yongtae sembari tersenyum. Membuat Han Rae tercengang. "Tapi bohong." Kata Yongtae sembari menjulurkan lidahnya meledek Han Rae. "Serius sekali istriku tercinta ini." Lanjut Yongtae diakhiri tawa tanpa suara. Han Rae pun dengan gemas mengusap wajah Yongtae dengan handuk yang cukup basah. Tidak bisa dibilang lembab atau basah. "Aku robek-robek bibirmu." Ucap Han Rae sembari menggeram kesal. "Sini, sini, robek bibirku menggunakan gigi-gigi kelincimu itu." Timpal Yongtae sembari mengerucutkan bibirnya ke depan, dan memejamkan matanya. Han Rae menggeram kesal. Dan berakhir bibir Yongtae sungguhan Han Rae gigit hingga bibir bawah Yongtae terluka cukup lebar. "Yak! sakit!" protes Yongtae. Giliran Han Rae yang menjulurkan lidahnya sembari berlari ke kamar mandi dengan membawa baskom. *** Han Rae duduk di depan tv sembari mengetik pada laptopnya. Ya, dia hanya duduk di sofa panjang yang berhadap dengan tv, namun tidak menyalakan tvnya. Woojung masih bekerja, Edward masih sekolah, dan Yongtae tidur siang sehabis minum obat. Han Rae diminta tolong Woojung membuat laporan dan dikirim lewat email. Akhirnya meskipun ia sudah dipecat, Woojung tetap minta bantuan padanya. Karna tulisan Han Rae rapih menurut Woojung, jadi ia yang dipercaya membuat laporan dibanding sekretarisnya. Woojung bilang sekrestarisnya masih bau kencur, dan tidak bisa apa-apa. Dia terpaksa dipekerjakan di perusahaan Woojung dan langsung mendapat posisi tinggi, karna dia anak teman Ayah Woojung, baru selesai kuliah tapi tidak dapat-dapat pekerjaan, dan Woojung baru saja memecat sekretarisnya yang lama karna ketahuan mengoprek brangkas di ruangan Woojung. Jadi Ayah Woojung memerintah Woojung untuk menerimanya bekerja dan langsung dijadikan sekretaris. Kalau tidak salah namanya Lucas. Setelah mengirimkan laporan yang Woojung mau. Han Rae beralih menulis cerita untuk sebuah website. 'Matanya sangat indah, bulat, dengan lipatan kelopak yang alami. Bisa menatapmu dengan tajam ataupun lembut. Surainya berwarna coklat terang, dengan hidung kecil dan bibir tipis. Yang lebih spesial darinya adalah rahangnya yang tegas. Membuatku terpana saat pertama kali melihatnya, namun dia terlalu kurus. Hingga sedikit terlihat mengkhawatirkan. Namun itu tidak mengurangi pesonanya. Yah... berkat pesonanya yang terlalu tinggi itu pula, aku hanya merasa seperti sampah disampingnya. Saat melihatnya dari jauh, aku ingin mendekatinya, namun saat aku sudah berada didekatnya, aku rasanya ingin buru-buru pergi, karna merasa begitu buruk-' Terlalu asik menulis, ia tidak sadar seseorang telah duduk dibelakangnya, dan tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Han Rae. "Jangan begitu. Setiap orang itu punya pesonanya masing-masing." Han Rae tersentak, ia menolehkan kepalanya kesamping, dan pucuk hidungnya seketika bertemu dengan pucuk hidung milik Yongtae. Yongtae tertawa kecil sembari menggesekan pelan ujung hidung mereka. Terasa napas Yongtae masih panas, menandakan ia masih sakit. "Pria dengan mata indah, hidung kecil, bibir tipis, rahang tajam dan surai coklat terang itu akukan?" tanya Yongtae. "Kau tidak sopan membaca tulisanku!" seru Han Rae. "Tidak sopan? Bukankah saat kau mempublishnya nanti, semua orang juga akan baca?" kata Yongtae. "Pergilah sana! Kau mengangguku menulis! Kau mau apa?" tanya Han Rae dengan diselingi gerutuan kesal. "Aku mau memelukmu." Balas Yongtae sembari memeluk Han Rae semakin erat. Han Rae mendengus, sembari menatap kosong layar laptopnya. Rasanya ingin langsung menutup benda berwarna merah itu. Namun laptopnya bisa-bisa rusak, tulisannya juga belum disimpan. Yongtae tak lama menyandarkan pipinya pada bahu Han Rae, sesekali menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Han Rae, untuk menghirup aroma tubuh wanita itu. "Aku minta maaf, untuk semua yang aku katakan padamu." Ucap Yongtae tiba-tiba. "Aku mengatakannya dibawah alam sadarku. Mungkin yang ada dipikiranku saat mengataimu, aku berharap kau jadi minder, dan tidak berani berdekatan dengan pria lain. Yah itu alasan. Padahal sejak awal aku memang mengataimu sampah dan tidak pantas untukku. Tapi dari kejadian kau melakukan vla kiss dengan Woojung, perasaanku sudah berubah. Aku sudah hampir minta maaf saat itu, dan ingin kita menjalani kehidupan rumah tangga yang normal. Tapi karna kejadian itu semua rencanaku gagal. Hhhhh... aku berani bersumpah, jika saat itu perasaanku sudah berubah." Yongtae akhirnya mulai berani mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Han Rae hanya terdiam mendengar penjelasan panjang lebar Yongtae, ia yakin penjelasan yang hendak Yongtae lontarkan masih berlanjut. "Jadi setelah kejadian itu. Apa yang aku lakukan dan katakan padamu, semata-mata hanya untuk mengekpresikan rasa cemburuku. Aku berharap kau jadi minder dan berjauhan dari semua pria yang ada di dunia ini. Aku tahu caraku salah, padahal tidak mungkin aku mengekang juga membatasi pertamananmu. Aku harusnya percaya padamu. Aku sudah melecehkanmu. Dimulai dari mengataimu w************n, sampai membatasi pertamananmu karna tidak percaya. Aku tahu tidak percaya termasuk melecehkan, karna aku sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku minta maaf. Aku tahu pasti aku sulit dimaafkan. Karna aku sudah membuat luka yang cukup dalam untukmu. Aku juga sudah terlalu angkuh dan egois." Han Rae menggigit bibir bawahnya, ia rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia jadi berpikir yang sedang memeluknya sembari berkata panjang lebar tadi bukanlah Yongtae, atau Yongtae sedang kerasukan? "Yongtae." Panggil Han Rae. "Mmmh?" sahut Yongtae sembari menatap Han Rae dengan mata sayu khas orang sakit. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Setelah mendengar semua penjelasanmu?" tanya Han Rae. "Aku tahu ini terdengar aku seperti tidak tahu diri. Tapi aku ingin kau memaafkan aku meskipun itu perlahan, mencoba mencintaiku, karna aku juga akan melakukan, malah aku sudah. Dan kita pulang, untuk membuka lembaran hidup yang baru, bersama anak kita-" Kalimat Yongtae terpaksa terpotong karna pintu tiba-tiba dibuka dengan cara didobrak. Cklek. Brak. "Astaga Edward! kau kenapa?!" seru Han Rae sembari melepas pelukan Yongtae dipinggangnya, dan beranjak berdiri dari sofa, saat melihat kondisi Edward yang mengenaskan. Hingga Yongtae hampir terjatuh dari sofa. "Kak Han Raeeeeeee!!! Aku dijaili teman! Lihat! Aku disiram terigu, telur dan air! Mereka bilang itu karna aku sudah merebut semua gadis di sekolah! Kenapa jadi orang tampan itu susah?! Hwaaaaa!!! Rambutku lengket dan bau amis!" Yongtae mendengus kesal saat melihat Han Rae menenangkan Edward dan menuntunnya ke kamar mandi. "Han Rae! Dia harusnya dimasukan ke oven! Kan sudah jadi adonan!" teriak Yongtae, namun tidak ditanggapi oleh Han Rae.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN