Suasana di rumah Zionino sungguh berbeda dengan rumahku, rumah yang tampak besar itu kupikir hanya dihuni oleh orangtua Zionino saja mengingat Zionino anak tunggal tapi begitu masuk ke dalam rumah bergaya amerika tersebut suara ramai dari dalam sudah terdengar, semakin memasuki area tengah rumah gelak tawa semakin jelas. "Bapak, saya kok takut ya," bisikku pada Zionino. Langkah kakiku melambat sampai akhirnya benar-benar berhenti saking tegangnya aku untuk menampakkan diri pada keluarga besar Zionino. Mbak Sani dan suaminya jelas bukan salah satu yang membuatku takut, tapi keluarga Zionino yang lain apalagi orangtua lelaki ini, terutama mamanya. "Saya disamping kamu Rifa, tenang," kata Zionino. Diraihnya tanganku, aku kembali melangkah bersama Zionino dengan jemari yang saling berta

