Aku menuruni tangga dengan lemas, tungkai kakiku seperti kehilangan tulang-tulangnya. Untuk berjalan aku bahkan harus berpegangan pada Zionino karena khawatir "Bukan ini," protesku yang menepis tangannya. "Apa?" Zionino tampak bingung. "Nikah," sahutku. "Oh itu," katanya. Oh itu? Reaksi macam apa ini. Menyebalkan! "Lebih cepat lebih baik 'kan?" jawabnya. "Tapi enggak bulan depan juga dong pak," kataku. "Kenapa?" Aku tergagap, bingung harus beralasan apa. "Kita 'kan belum minta restu ibu," jawabku saat menemukan alasan. === "Serius?" tanya ibu. Matanya terbuka lebar, yeah ibu pasti bakal mencecar Zionino karena dengan tiba-tiba melamarku. "Iya bu, saya cukup mengenal Rifanka, kalau ibu setuju…" "Setuju dong," sela ibu dengan wajah sumringah. Aku yang duduk disebelahnya

