Gaffi yang tengah membaca buku di kamarnya langsung berlari menuju kamar orang tuanya saat mendengar teriakan sang adik. “Gavin, jangan berisik. Ibuk baru keluar dari Rumah Sakit, masih butuh istirahat. Emangnya Apin mau Ibu masuk Rumah Sakit lagi?” tanya Gaffi lembut sekaligus memberi sang adik pengertian.
“Mau!” angguk Gavin bersemangat. “Apin senang karena dapat banyak kue dari Nenek yang tempat tidurnya di samping Ibuk!” tuturnya polos sambil tersenyum dengan lebar, menampilkan gigi-gigi kecilnya yang begitu rapi.
Gendis yang melihat interaksi keduanya terkekeh. Gaffi benar-benar anak sulung idaman setiap keluarga, anak itu baik dengan perkataannya yang lembut sedangkan Gavin adalah tipe anak yang membuat suasana menjadi ramai, walau sedikit membuatnya menghela nafas.
“Tapi, Apin mau s**u kayak adek Gema!” tunjuknya pada Gema yang masih asik mengenyot.
Tatapan kedua anak laki-laki itu kemudian jatuh ke arah bagian d**a ibunya, Gendis seketika merasa pipinya memanas saat ditatap oleh laki-laki. Tapi, akhirnya dia menyadari bahwa tatapan kedua anak itu begitu polos. Mereka adalah anak-anaknya.
“Itu susunya khusus untuk adek Gema,” tutur Gaffi lagi membuat Gavin mengerucutkan bibirnya.
Anak laki-laki sembilan tahun itu lalu semakin mendekat ke arah pinggiran kasur, menatap iri ke arah adik kecilnya. Seolah menyadari bahwa sedang ditatap kedua kakaknya, Gema semakin kuat menyedotnya.
“Tapi, Apin mau s**u,” pintanya lagi.
“Gimana kalo Kakak buatin s**u? Gema juga kan juga punya s**u yang ada di dapur.”
“Gema punya s**u formulanya, Gaffi?” tanya Gendis pada si sulung.
“Iya, Buk. Gema punya s**u formula, adek kan minum susunya kuat banget. Terus juga kadang...” Gaffi menggantungkan ucapannya karena takut. Ia menatap ke arah Gendis yang terlihat biasa saja. “... Ibu enggak mau nyusuin Gema.”
Gendis yang mendengar itu terdiam. Ia lalu menatap ke arah Gema yang masih asik menyusu, tidak ada tanda-tanda nampak kenyang seolah diperutnya masih tersimpan banyak ruang.
Ia ingin mengutuk Gendis Khalila karena tidak mau menyusui anaknya sendiri tapi seketika ia sadar, menyusui ternyata juga tidak segampang itu. Ia bahkan masih merasakan sakit saat lidah Gema yang kasar mengenai putingnya.
Menjadi seorang ibu tidak mudah. Dan dulu, Gendis tidak menginginkan hal itu.
“Yuk ikut Kakak, kita buat s**u untuk Apin!” ajak Gaffi menggandeng adiknya menuju keluar kamar yang langsung disambut dengan gembira.
Gendis yang melihat Gavin sedikit merasa iri, andaikan di kehidupan sebelumnya ia memiliki seorang Kakak seperti Gaffi. Ia pasti tidak akan merasa kesepiaan.
Anak seperti Gaffi pasti menjadi kesayangan di keluarga. Ia yakin si sulung itu juga pintar, karena orang yang cerdas terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Gendis kembali menundukan pandangannya, menatap ke arah Gema yang ternyata sudah tertidur lelap. Perempuan itu menghela nafasnya, perlahan melepas putingnya dari mulut sang bayi.
Menyusui ternyata membuat lapar, Gendis perlahan bangun lalu meletakan guling dikiri dan kanan Gema yang tertidur nyenyak agar bisa menahan tubuh bayi satu bulan itu.
PRANG!
“DASAR ANAK BODOH!”
Gendis yang mendengar suara itu dari dapur merasa terkejut, ia lalu menatap ke arah Gema yang sedikit terganggu walau hanya sebentar. Wanita itu lalu buru-buru menuju ke arah dapur dan melihat kekacauan.
Gyan tengah menatap Gaffi dengan wajah memerah. Di bawah lantai, ada pecahan gelas dan tumpuhan s**u. Gavin menangis, nampaknya karena terkejut dan Gaffi memegang bahu kanannya sambil menanahan tangis.
Sekali lihat saja, Gendis bisa tahu apa yang terjadi. Gaffi mungkin tak sengaja menjatuhkan gelas kaca hingga s**u itu tumpah lalu mengenai Gavin dan membuat Gyan marah.
“Kamu enggak bisa lihat pake mata apa?!” seru Gyan merasa emosi, hampir saja Gavin terkena s**u yang panas itu karena kelalaian anak sulungnya.
Gaffi menggigit bibir bawahnya, menatap ke arah Gendis sebentar—namun tahu sang Ibu tidak akan peduli padanya seperti biasa. Ia lalu menundukan kepala, di saat seperti ini ia menginginkan seorang ibu untuk membelanya. “Maafin Gaffi, Yah.”
“Kamu ngapain anak aku, hah?!” sembur Gendis tiba-tiba masuk ke dapur menatap balik tajam ke arah Gyan.
“Kamu enggak usah ikut campur!” balas Gyan.
“Gimana aku enggak ikut campur? Anak aku kamu marahin dan pukulin?!” tanya Gendis sambil menarik Gaffi ke dekatnya. Ia lalu menarik lengan baju si sulung dan melihat kemerahan disana.
“Aku ayahnya!” seru Gyan.
“Kamu ayahhnya? Jadi berhak untuk mukul anak kamu sendiri?” tanya Gendis membuat Gyan terdiam.
“Aku yang ngelahirin dia, susuin dia, besarin dia, kamu enak banget mukulnya!” tambah Gendis yang berapi-rapi. Ia sudah merasakan bagaimana perihnya menyusui dan itu ternyata berlangsung dua tahun, belum lagi saat sakitnya melahirkan dan membesarkan anak.
Ia yang sekarang menggunakan tubuh Gendis Khalila akan memarahi Gyan.
“Aku minta maaf sama kamu, entah apa yang aku lakukan sama kamu dari awal kita menikah sampai sekarang. Mungkin ini emang pernikahan yang buruk tapi aku berterima kasih sama kamu. Aku tahu kamu menderita disini, jadi gimana kalo kita berpisah?”
Bak dihantam meteor, Gyan terkejut ketika mendengar perkataan Gendis. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar, bahwa ia merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini. Namun, saat bersama wanita itu di motor dan melihat perlakuannya pada Gaffi, Gyan dalam hatinya berharap segera perubahan pada sang isteri.
“Kamu pikir bisa hidup tanpa aku?” tanya Gyan menganggap permintaan Gendis hanya sebuah gertakan biasa. Wanita lemah itu mana tahu susahnya mencari uang sekarang.
“Mungkin akan susah tapi itu lebih baik daripada melihat Gaffi dipukul oleh Ayahnya sendiri, orang yang harusnya melindungi dia.” Gendis terdiam sebentar, menatap ke arah anak sulungnya yang nampak menahan tangis. Pasti menyakitkan. “Saya mungkin enggak bisa buat Gaffi menikmati hidup yang luae biasa tapi setidaknya anak saya tidak membenci kehidupannya sendiri.”
Gyan yang mendengar itu merasa cemas, ia seketika merasa bersalah pada anak sulungnya. Tapi, setiap kali ia mencoba untuk berdamai dengan masa lalu, ia tidak bisa. Gaffi yang menyebabkan hidupnya menderita seperti ini.
“Kamu bisa cara isteri yang enggak minta uang sama kamu dan anak yang enggak akan bikin kamu marah,” sindir Gendis menatap pria itu marah.
Gendis tidak tahu kenapa ia bisa semarah ini pada Gyan saat melihatnya memperlakukan Gaffi. Ia hanya mengikuti kehendaknya sendiri. Ah, apa ini dorongan dari Gendis Khalila yang dulu tidak sempat menyayangi anaknya?
Bercerai adalah hal yang masuk akal untuk Gendis. Ia bisa mencari kerja dan menghidupi ketiga anak itu, setidaknya itu lebih baik kan? Ia juga tidak mencintai Gyan, jadi untuk apa dipertahankan?
“Aku tidak akan menceraikan kamu!” putus Gyan sambil menyunggingkan senyum miringnya. Ia tahu, kenapa wanita itu bisa berani meminta cerai sekarang, padahal sebalas tahun yang lalu tidak pernah.
Gendis bertemu dengan kekasih masa lalunya yang ternyata seorang calon pempimpin perusahaan besar. Dia tidak akan membiarkan wanita itu bahagia. Gyan merasakan hidupnya telah hancur saat menikahi Gendis Khalila, itu artinya perempuan itu juga harus merasakan yang sama.
“Kali ini aku maafkan tapi sekali lagi, mungkin tidak.” Gendis lalu menggandeng tangan Gaffi menuju kamarnya. Anak itu hanya diam saja, tidak mengatakan apa-apa.
Gyan yang menatap punggung isterinya, mulai merasa keanehan lagi pada Gendis. Tapi, mendengar kata-kata wanita itu nampaknya dia sudah sadar. Ck, apa karena mantan kekasihnya yang kaya itu?
Gendis menghela nafasnya, menatap ke arah Gema yang masih tertidur lelap. Wanita itu lalu duduk di pinggiran kasur sambil membawa Gaffi ke hadapannya.
“Bahunya masih sakit?” tanya Gendis menatap ke arah Gaffi.
“Enggak sakit kok, Buk,” jawab Gaffi dengan bibir bergemetar.
“Ibuk minta maaf selama ini udah mengabaikan Gaffi, Gavin dan Gema. Ibu akhirnya sadar, hanya kalian harta yang paling berharga ibu miliki. Gaffi mau kan maafin Ibu?”
Anak laki-laki itu mengangguk.
“Sekarang kalo ibu tanya, harus jawab jujur ya. Dimana yang sakit?” tanya Gendis lagi dengan lembut.
Air mata yang ditahan Gaffi akhirnya luruh, ia menerjang tubuh Gendis dan memeluknya dengan erat. Anak laki-laki itu menangis dengan kuat namun masih berusaha ia tahan agar tidak membangunkan adik kecilnya.
Gaffi menangis bukan karena sakit namun bahagia karena sang ibu akhirnya telah sadar. Mulai detik ini, ibunya itu akan menyayangi anak-anaknya layaknya seperti seorang ibu.
“Enggak papa, nangis aja. Kalo Kak Gaffi mau nangis, Ibu bakal selalu peluk,” ucap Gendis lembut. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan untuk bisa menenangkan orang lain, padahal dulu ia saja tidak bisa menenangkan dirinya sendiri.
“Ibuk,” lirih Gaffi menangkat wajahnya agar menatap Gendis.
“Apa, Kak?” tanya Gendis mengusap wajah anaknya yang basah.
“Jangan pisah sama Ayah,” pinta Gaffi membuat Gendis terdiam. Kenapa anak ini masih memikirkan orang yang menyakitinya?
“Walau Ayah kadang-kadang mukul Gaffi, tapi Ayah sayang sama Apin dan Gema. Gaffi enggak mau adek-adek kehilangan sosok Ayah.”
Gendis seketika ingin beteriak pada Gyan, lihat anak yang baru saja pria itu sakiti, masih memikirkan adik-adiknya walau ia mendapatkan perlakuan yang tidak adil.
“Ibuk aja yang sayang sama Kakak,” kata Gendis sambil tersenyum.
“Apin mau disayang juga,” cicit sebuah suara yang mengintip di pintu kamar. Gavin menatap takut-takut ke arah Gendis. Ia merasa iri ketika melihat Kakaknya dipeluk karena selama ia mengenal Gendis, ibunya itu jarang memeluk anak-anaknya.
Ibunya itu sering mengabaikannya.
“Kalo sayang dipeluk dong,” ujar Gendis membuat Gavin berlari dengan cepat memeluk Gendis.
Gaffi yang melihat kehadiran adiknya hendak pergi dari pelukan Gendis. Ia terbiasa mengalah sejak lama. Tapi, sang ibu malah menahan pinggangnya agar tidak kabur. “Ibuk pengen dipeluk Kak Gaffi sama Kak Apin.”
“Aku dipanggil Abang, Ibuk,” protes Gavin membuat Gendis terkekeh lalu mengangguk.
“Ibuk mau dipeluk Kak Gaffi dan Abang Apin!” kata Gendis lagi dan langsung mendapat pelukan dua anak laki-laki itu.
Gendis tersenyum haru, ia tidak tahu alasan mengapa dibangunkan di tubuh Gendis Khalila. Tapi ketika menyadari bahwa anak-anak ini kekurangan kasih sayang, Gendis merasa ini menjadi tugasnya untuk memberikan mereka penuh dengan kasih sayang.
Wanita itu sudah memutuskan, untuk hidup keduanya ini. Gendis ingin menghabiskan waktunya menjaga ketiga anak laki-laki ini agar tak kekurangan kasih sayang seperti dirinya dulu. Ia akan menyayangi mereka dengan setulus hatinya.
Gendis sudah diberi kesempan maka akan digunakannya dengan sebaik mungkin.
Tapi, bagaimana caranya ia bisa menjadi seorang ibu yang baik?