“APA?!” seru Gyan terlihat marah. “Kamu ngehabisin uang sebanyak itu cuman untuk naik taksi?” tanyanya tak percaya menatap ke arah isterinya yang tengah duduk di pinggiran kasur.
Pria tiga anak itu benar-benar terlihat kesal. Isterinya menghabiskan uang 450 ribu dalam sejekap mata. Uang sebanyak itu bisa bertahan selama sebulan untuknya—jika membawa bekal dari rumah saat bekerja atau dapat membeli stock pampers anak bungsunya dan juga digunakan lagi bisa membayar spp anaknya.
“Ternyata benar kata Mama, kamu tahunya cuman nghabisin uang aja!”
Gendis yang mendengar itu benar-benar tak habis pikir. Ternyata ada orang di dunia ini yang begitu pelit. Kalian mau melihatnya? Pria itu tepat ada di depannya, sialnya suaminya sendiri.
Uang segitu hanya bertahan beberapa menit di tangannya jika pergi ke Mall, bahkan bisa dibilang tak cukup untuk dirinya yang biasa berbelanja di butik terkenal, spa dan salon serta hal lainnya.
Srek!
Tirai yang menjadi pembatas antara ranjang rawat Gendis dan lainnya terbuka, menampilkan seorang nenek-nenek yang tersenyum ke arah mereka.
“Isterinya jangan dimarahin lho, Mas,” kata Nenek itu menatap ke arah Gyan. “Itu kan isterimu sendiri, ya ndak papa nghabisin uang kamu. Dia lho yang hamil dan besarin anak-anak kalian.”
“Tuh, dengerin!” seru Gendis yang setuju dengan Nenek di sampinya. Ternyata mempunyai teman di kamar rawat tidak buruk juga.
Gyan yang mendengarnya mendengus, andai Nenek itu tahu bagaimana perlakukan Gendis sebagai seorang ibu. Mungkin isterinya itu akan dikutuk karena sering mengabaikan anaknya sendiri.
“Cepat ganti baju kamu, kita pulang hari ini!” Gendis yang mendengar perkataan itu terkejut, ia belum menyiapkan apapun untuk bertemu orang-orang yang mengenali tubuh ini. Bagaimana ini?!
“Saya kayaknya masih sakit, deh,” lirih Gendis sambil menyentuh-nyentuh kepalanya.
“Saya? Sejak kapan kamu berbicara seperti itu?” Gyan memandang ke arah isterinya dengan dahi berkerut. “Sakit? Tapi kamu bisa keluyuran enggak jelas sampai ngehabisin duit saya.”
Gendis menggigit bibir bawahnya, sial. Ia tidak bisa lagi mengelak. Ia pun segera mengganti pakaiannya dengan gaun sederhana yang diberikan oleh Gyan.
Wanita itu lalu keluar, memutar-mutar tubuhnya. Ternyata tidak buruk juga, batinnya.
Gyan yang memperhatikan kelakuan isterinya benar-benar kebingungan. Ia tidak seperti melihat sosok Gendis yang biasanya. Aneh, batinnya.
Tapi, ketika mengingat bahwa wanita itu menghabiskan uangnya, ia masih tidak bisa ikhlas. Uang sebanyak itu sangat berarti untuk pegawai kantor yang hanya bergaji UMR.
“Ayo!” ajak Gyan datar membuat Gendis mencibir. Pria itu memperlakukannya begitu buruk, apa dirinya benar-benar isteri pria itu?
Gendis mendengus, sepulang ke rumah mereka nanti. Ia harus melihat buku nikah agar ia percaya bahwa Gendis Khalila ini menikah dengan Gyan, siapa tahu pria itu hanya menipu gadis polos ini?
Lihat, bahkan pria itu bahkan tidak menunggu isterinya yang baru saja keluar dari Rumah Sakit?
“Dimana mobilnya?” tanya Gendis ketika pria itu malah memasuki parkiran motor.
“Mobil? Sejak kapan kita punya mobil?” tanya Gyan membuat rahang Gendis rasanya hendak jatuh. Pria itu jadi tidak memiliki mobil dan hanya berpergian kemana-mana menggunakan motor? Ia seketika menjadi tak sabaran melihat rumahnya.
“Ayo, kamu mau aku tinggal?” sentak Gyan kesal.
“Eh, jangan,” cegah Gendis. “Gaffi gimana? Dia enggak bareng kita?” tanyanya tak melihat anak laki-laki itu.
Gyan menyipitkan matanya, sejak kapan Gendis peduli dengan anaknya. Ia bahkan tidak peduli jika anaknya belum makan atau sakit. “Dia udah pulang naik angkot.”
“Anak sekecil itu pulang sendirian naik angkot? Kamu benar-benar keterlaluan!” Gendis jadi sedikit khawatir, wajah Gaffi itu terlalu imut dan polos untuk anak seusianya. Dan banyak predator ganas yang mengincar anak itu.
“Oke, kamu berarti ingin tinggal disini.”
“Eggak! Enggak!” seru Gendis lalu naik ke atas motor. “Udah naik, sekarang jalan!” Ia lalu menepuk-nepuk bahu Gyan.
“Kamu bisa mundur sedikit?” tanya Gyan yang menahan kesal, wanita itu begitu dekat dengannya padahal ia sudah duduk diujung agar bisa memberi jarak. Siapa menyangka wanita itu menempel dengannya.
“Kalo jatuh gimana? Saya bakal masuk Rumah Sakit lagi!” seru Gendis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau mati dua kali.
“Kalo begitu peluk pinggang saya,” suruhnya namun tidak yakin Gendis akan melakukannya. Hal baru kembali membuat Gyan terkejut saat merasakan sepasangan tangan melingkar di pinggangnya.
“Udah jalan!” seru Gendis.
Gyan lalu mengangguk, menghidupkan motor maticnya lalu keluar dari parkiran Rumah Sakit. Lelaki itu beberapa kali melirik ke arah spion, untuk menatap sang isteri. Wanita itu seperti monyet yang baru saja diberikan mainan saat naik naik motor, terlihat antusias.
Pria itu kembali fokus kembali ke arah depan sambil memikirkan keanehan dari Gendis. Gyan menyadari bahwa ketika bangun dari tidur panjangnya, wanita itu berperilaku aneh. Itu tidak seperti Gendis yang dia tahu.
Gendis Khalila yang dia tahu adalah wanita yang mengabaikan anak dan suaminya sendiri. Wanita itu seolah memiliki dunianya sendiri dan Gyan serta anak-anaknya adalah orang yang dilarang masuk ke dunia itu. Bahkan, hari ini bisa dibilang mencetak rekor Gyan berbicara dengan Gendis paling banyak, mereka biasanya akan seperti orang tak mengenal bahkan di dalam rumah.
Tapi hebatnya pernikahan mereka bisa bertahan hingga 11 tahun. Benar-benar tidak bisa diduga.
Gendis lalu memperhatikan sekitarnya ketika mereka memasuki sebuah perumahan sederhana. Semasa hidupnya dulu, ia bahkan tidak tahu ada perumahan dengan rumah kecil seperti ini di kota.
Motor yang dikendarai Gyan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana namun terlihat sangat rapi. Tebakannya ternyata salah, Gendis pikir rumahnya akan terlihat buruk. Ini terlihat cukup nyaman, walau luas apartemennya jauh lebih besar.
Baru saja turun dari motor, Gendis bisa mendengar tangis bayi membuatnya berdecak. Anak tetangganya yang mana menangis saat siang hari seperti ini? Kemana pula ibunya? Ckck.
Itulah dulu alasan Gendis memilih tinggal di apartemen yang kebanyakan dihuni oleh single. Ia tidak tahan dengan tangis anak kecil, begitu menganggu.
Tapi, Gendis menyadari ada yang aneh ketika mendengar tangis itu semakin mendekat hingga ketika pintu rumah di depannya terbuka. Ia melihat gadis yang kemarin di ruang rawatnya sambil menggendong seorang bayi.
“Itu Ibuk udah pulang, Gema jangan nangis lagi!”
SIAL. Berapa anak yang memangnya sudah dilahirkan Gendis Khalila ini?
“Kasih aja sama ibunya, Kin,” suruh Gyan yang merasa tak enak karena menyusahkan adiknya terus-menerus.
“Gema udah mau tenang kok, Mas. Takutnya nanti sama Mbak Gendis nangis lagi.”
Gendis dengan cepat mengangguk, ia tidak tahu siapa gadis ini. Tapi, berterima kasih sekali.
Gyan tidak memperdulikannya, ia mengambil Gema yang berusia satu tahun lalu membawanya pada Gendis yang langsung membulatkan matanya panik.
Tunggu dulu! Ia belum pernah menggendong bayi, bagaimana jika membuat tulangnya yang retak?
Gyan lagi-lagi tidak peduli, pria itu memberikan Gema pada Gendis yang dengan terpaksa di terimanya. Namun perempuan itu terlihat kebingungan cara untuk menggendong bayi.
Pria itu berdecak, memegang tangan Gendis lalu dibuatnya agar Gema menjadi nyaman. Wanita itu yang awalnya fokus dengan bayi itu seketika mendongak ketika mencium aroma parfum pria, ia tiba-tiba meneguk ludahnya susah payah ketika melihat wajah Gyan sedekat ini.
Gyan ternyata cukup tampan, pria itu memiliki alis yang tebal dan sepasang bola mata yang tajam. Hidungnya bagus tapi yang paling disukai Gendis adalah bibir pria itu yang terlihat penuh. Ia penasaran bagaimana rasanya menempelkan bibirnya ke bibir itu?
Seperti merasa ada yang mengancamnya, Gyan tiba-tiba mundur selangkah. Ia menatap ke arah Gendis yang menatapnya seperti hendak menerkam, apa perasaannya saja?
“Gema kayaknya rindu banget sama Ibuknya, langsung anteng!” seru Kina tiba-tiba membuat Gendis dan Gyan sontak menatap bayi itu yang tengah mendekatkan mulut kecilnya ke d**a sang wanita.
Tunggu sebentar, biarkan Gendis berpikir. Jika ia memiliki seorang bayi, maka anaknya itu harus makan dan makanan bayi adalah—OH MY GOD!
Apa dirinya bisa menyusui sekarang?
“Kamu susui Gema, aku antar Kina dulu.”
Gendis rasanya ingin memaki Malaikat itu lagi. Kenapa ia harus dibangunkan di tubuh seorang ibu dengan tiga anak, bayi pula yang terakhir. Ia tiba-tiba memiliki kemampuan untuk menyusui.
“Enggak usah, Mas Gyan. Kina naik ojek online aja, udah dipesankan kok.”
“Hati-hati,” kata Gyan menatap adiknya.
Gendis lalu masuk ke dalam rumah, ia tidak memperhatikan apapun lagi hingga akhirnya sadar sudah berada di sebuah kamar. Ruangan tidur itu tidak terlalu besar, hanya ada satu kasur ukuran queen size, lemari dan sebuah laci. Tidak ada apapun lagi.
“Tunggu apa lagi? Gema udah lapar!” kata Gyan ketika Gendis hanya menggendong Gema dengan tatapan yang menjelajahi kamar.
“Terus kamu kenapa disini?” tanya Gendis penuh selidik, apa pria itu sengaja memintanya menyusui Gema agar bisa melihat bagian beharga tubuhnya—tubuh Gendis Khalila maksudnya.
“Kenapa memangnya? Aku suami kamu, aku udah melihar lebih dari itu. Kamu pikir Gaffi, Gavin dan Gema dapatnya darimana?!” tanya Gyan membuat Gendis tercengang, ia baru sadar bahwa pria itu pasti sudah melihat semuanya.
“Aku mau masak. Kamu cepat susui Gema.”
Gendis sedikit menghela nafasnya lega. Ia lalu menutup pintu ketika Gyan telah pergi. Wanita itu lalu menatap bayi satu tahun yang tengah menarik-narik bagian dadanya.
“Nennn—-nennnnnnn!”
“Masih kecil tapi sudah m***m!” omel Gendis dengan wajah galak namun bukannya takut, bayi itu malah tertawa membuat hati wanita itu sedikit melunak.
Gendis lalu menghela nafasnya panjang, ia lalu perlahan naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya. Ia berpikir untuk menyusui sambil tiduran. Dirinya takut nanti terkejut dan malah tak sengaja menjatuh bayi ini.
“Ingat, ini rahasia kita berdua. Jangan beri tahu siapa-siapa!” kata Gendis lalu membuka kancing gaun ini, sebelum itu ia sudah melepas kaitan branya.
Gendis tidak berani melihatnya, ia membiarkan gundukan itu keluar dengan jantung berdetak kencang. Ia sedikit merasa geli ketika ujung payudaranya mengenai hidung si kecil. Tapi setelahnya wanita itu hendak berteriak sampai membuat satu komplek mendengar saat n****e-nya dihisap dengan kuat.
“Hiks—pedih,” lirih Gendis memejamkan matanya. Ia menahannya sebentar hingga lambat laun mulai mengenal rasanya walau tetap perih. Di ruangan itu hanya terdengar lirihannya dan bunyi nyot-nyot dari Gema yang begitu bersemangat menghisap s**u.
“GAVIN JUGA MAU MINUM s**u!” teriak seorang anak laki 9 tahun masuk ke dalam kamar membuat Gendis melotot.
Satu tahun saja sudah perih membuatnya menangis, apalagi yang sebesar ini!