"Mama pastikan kalo kamu bakal beneran cerai sama Gyan kali ini!" maki Sari penuh emosi, menujuk ke arah Gendis yang sedang mengayun-ayunkan Gema yang menggeliat akibat suara neneknya.
Gendis menghela nafasnya pendek. "Iya, Ma," angguknya sangat santai. "Oh iya, kalo Mama mau minum, ambil sendiri aja. Kan ini rumah anaknya Mama, jadi anggap aja rumah Mama sendiri."
"Kamu—-" geram Sari dengan tubuh yang bergemetar hebat membuat Gendis jadi sedikit takut mertuanya itu akan mengalami stroke atau serangan jantung karena terlalu marah. Takut disalahkan, Gendis buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa menguncinya.
"Ma, Gema lagi bobok. Jangan berisik," pesan Gendis dari balik pintu membuat Sari menahan amarahnya. Meski sangat membenci menantunya sendiri tapi wanita paruh itu tetap mencintai cucunya.
Gendis menghela nafasnya lega ketika Sari itu tidak lagi bersuara. Ia mendudukan tubuhnya di pinggiran kasur sambil menatap ke arah Gema yang tertidur lelap. Wanita itu membayangkan jika tidak ada Gema yang bisa dijadikan alasan untuk membuat wanita itu diam, Gendis yakin jika telinganya akan copot karena mendengar sumpah serapah Sari.
Tok! Tok!
"Gendis, Mama udah telepon Gyan untuk suruh dia pulang. Lebih baik kamu siapin semua barang kamu, biar mudah untuk angkat kaki dari sini nanti!" Sari mengatakannya dengan menggebu-gebu, ia ingin melihat Gendis menangis dan memohon sambil bersujud di kakinya kembali seperti sebelumnya.
Sari memang sudah beberapa kali ingin memisahkan Gyan dan Gendis yang mana berakhir gagal karena wanita itu memohon-mohon padanya. Kali ini, wanita paruh baya itu tidak akan tertipu dengan air mata palsu Gendis. Sari sudah tidak tahan dengan perlakuan buruk wanita itu pada anak dan cucu-cucunya.
Tapi, pagi ini cukup membuatnya wanita paruh baya itu sedikit terkejut, biasanya Gendis akan menyambut kedatangannya dengan baik, memuji atau membuatnya merasa bahagia. Dia tahu bahwa menantunya itu hanya berpura-pura baik di depannya karena takut Gyan akan menceraikannya saat Sari mengeluarkan perintah.
Kali ini Gendis nampaknya sudah mengeluarkan sifat aslinya yang selama ini dirasakan oleh anak dan cucu-cucunya yang malang. Sari pastikan kalo Gendis akan berpisah dengan Gyan hari ini juga.
Berbeda dengan Sari yang berapi-api, Gendis sedang tiduran di kasur sambil menyusui Gema. Anak laki-laki itu akhirnya terbangun akibat ketukan Sari yang begitu mengangguk. "Ugh, pipi kamu kayak mochi!" gemas wanita itu sambil menggoyang-goyang pipi Gema. Mungkin karena terganggu, bayi itu menatap ke arah Gendis.
"Kenapa? Enggak mau pipinya dimainin?" tanya Gendis sambil tersenyum jahil. "Kalo gitu kamu enggak boleh nenen, Ibuk bosan jadi perlu mainan." Setelah mengatakan itu, ajaibnya Gema menarik jari Gendis ke pipinya. "Anak pintar," sahut sang ibu sambil terkekeh.
Gendis kembali melirik ke arah pintu, dia sama sekali tidak takut jika Sari ingin dia bercerai dengan Gyan. Toh, kemarin dia sudah mengajukannya namun pria yang menjadi suaminya itu tidak setuju menyetujui.
Karena rumah ini cukup kecil, jadi suara motor yang masuk ke halaman langsung terdengar membuat Gendis menebak jika itu adalah Gyan.
"Gendis keluar kamu!" seru Sari lagi membuat kelopak mata Gema yang sudah hampir turun kembali terbuka dengan lebar. Emosi Gendis seketika memuncak, bagian lehernya sudah sakit karena tiduran dengan posisi disangga dan ini semua karena Sari!
Gendis langsung keluar dari kamar, sebelum itu dia merapikan dulu bajunya karena jangan sampai Gyan nanti menatapnya bak predator. Gema tidak lagi menyusu tapi bola matanya nampak terang, membuat Gendis mengerang kesal.
"Ma, ada apa?" tanya Gyan yang terkejut saat sang ibu saat memintanya kembali dari kantor.
"Ini Mama sudah buat cerai kamu dan Gendis, tinggal ditanda tangani!" suru Sari sambil menghempaskan map itu ke atas meja.
Gyan menoleh ke arah Gendis dengan pandangan seperti menuduh telah melakukan sesuatu. "Kamu apain Mama lagi?" tanyanya.
Keburukan dari Gendis Khalila nampaknya sudah benar-benar melekat di hati Gyan sampai membuat pria itu langsung menuduhnya tanpa bertanya apa yang terjadi. Karena tubuh ini sekarang milik Gendis, jadi dia tidak bisa membuat orang-orang berpikiran buruk tentangnya. "Mama kamu tadi datang bawa map, aku pikir orang minta sumbangan jadi ya diusir."
"Lihat Gyan! Ini isteri kamu yang kurang ajar!" seru Sari lagi. Gendis memutar bola matanya sambil menutup telinga Gema, jangan sampai anak sekecil ini mendengar perkataan buruk seperti itu.
Gyan awalnya hendak memerahi Gendis namun tiba-tiba teringat bahwa isterinya itu kehilangan ingatannya. Jadi dia hanya bisa menghela nafas sambil menatap ke arah ibunya. "Ma, Dokter bilang kalo Gendis mungkin kehilangan ingatannya."
Sari langsung mengalihkan pandangannya ke arah Gendis dengan mata yang menyipit, tidak percaya. "Mama yakin itu pasti akal-akalannya, Gyan. Kamu jangan mudah dibohongi."
"Gendis benar-benar kehilangan ingatannya, Ma," ucap Gyan lagi yang merasa percaya bahwa isterinya itu telah kehilangan ingatannya.
"Mama enggak percaya, pasti itu hanya alasan dia untuk menutupi perselingkuhannya!" maki wanita paruh baya itu dengan kejam. "Kamu pasti sudah selingkuh dari Gyan kan, Gendis?!" tuntut Sari lagi membuat ekpresi wajah Gendis yang mendengar itu menjadi datar.
Dia tidak tahu sama sekali tentang apa yang sudah dilakukan oleh Gendis Khalila namun yang membuatnya kesal, semua kesalahan wanita yang telah pergi untuk selamanya itu malah tertuju padanya. Mungkin ini ganti rugi karena dia telah hidup kembali dan menggantikan Gendis Khalila.
Tapi, apa mereka bisa menginjak-injaknya seperti Gendis Khalila? Mereka tidak tahu berurusan dengan siapa.
"Ayo, kamu mengaku sekarang Gendis. Kamu pasti sudah berselingkuhkan? Kamu melukai kepala kamu karena berkelahi dengan selingkuhan kamu kan?" tuduh Sari lagi dengan senyum sinis. Gyan yang mendengar itu akhirnya sedikit terpengaruh, sampai sekarang dia tidak tahu apa yang membuat Gendis melukai kepalanya.
"Mama punya bukti?" tanya Gendis hanya tiga kata namun bisa membuat Sari bungkam dan Gyan menghilangkan prasangkanya. "Jangan sampai Mama dituduh telah melecehkan menantunya karena prasangka palsu!"
"Kamu—kamu!" tunjuk Sari penuh kemarahan. Sejak kapan Gendis bisa membalas perkataannya?
"Mama boleh bilang apapun tapi tentunya harus ada bukti atau enggak Mama bakal dibilang berhalusinasi. Kalo udah gitu, RSJ jadi rumah baru Mama."
"Gendis," tegur Gyan yang tidak suka isterinya itu mengatakan hal yang buruk pada ibunya.
Gendis langsung menatap ke arah Gyan dan terkekeh. "Kamu bisa bela Mama kamu yang ucapannya enggak bisa terbukti tapi kenapa kamu enggak bisa bela isteri kamu yang jelas-jelas dihina?" cemooh Gendis yang menyebabkan Gyan langsung membeku.
"Kenapa memangnya? Wajar kalo Gyan bela saya, saya yang besarin dia dari kecil sewaktu ibu kandungnya pergi. Kamu cuman isterinya,” cela Sari yang merasa bangga karena tentu saja dia lebih tinggi posisinya daripada Gendis.
“Ma!” tegur Gyan, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar.
Sari tertegun ketika melihat ekpresi wajah anaknya, dia lupa bahwa kepergian ibu kandung Gyan adalah yang tabu untuk dibicarakan di depan anak tirinya itu. “Salahkan isteri kamu itu, Gyan,” kilah Sari yang tetap tidak ingin disalahkan.
“Gendis, kamu masuk ke kamar untuk istirahat. Dokter bilang kamu masih dalam tahap pemulihan,” perintah Gyan yang seperti tidak mau dibantah. Gendis yang juga sudah kesal berada disana, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dengan perasaan berapi-api.
Gendis sekarang tahu alasan beberapa karyawan perempuannya memutuskan untuk mengontrak setelah menikah walau sudah ditawari untuk tinggal dengan mertua. Tidak tinggal bersama saja, Gendis sudah hampir habis kesabaran. Bagaimana jika tinggal bersama? Gendis yakin rumah itu tidak akan lama berdiri kokoh.
Wanita itu menghela nafasnya panjang sambil merebahkan tubuhnya di samping Gema yang bermain dengan theeternya. Ketika memperhatikan wajah bayi itu, kekesalannya tiba-tiba menguap dengan ekpresi anaknya itu. Gendis jadi sadar kalo semua wajah anak-anaknya mengambil cetakan Gyan. Ketiga anak laki-laki itu—Gaffi, Gavin dan Gema hanya menumpang tinggal di perut Gendis. Sungguh menyedihkan.
Berbicara tentang Gyan, Gendis baru tahu ternyata Sari adalah ibu tiri Gyan dan ibu kandungnya telah meninggalkan suami itu sejak kecil. Nampaknya luka yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya masih belum bisa sembuh di hati pria itu sampai sekarang.
Yah, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa sembuh.
Gendis geleng-geleng, kehidupan rumah tangga ternyata juga sepusing itu. Wanita itu lalu melirik ke arah jam dinding yang menujukan pukul dua belas, nampaknya Gyan dan Sari sudah pergi dari rumah beberapa menit yang lalu.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Gema yang akhirnya tertidur nyenyak. Gendis perlahan turun dari kasur lalu memberikan bantal di setiap sisi anaknya agar aman. Gendis juga tidak lupa untuk membuka pintu kamar, agar bisa mendengar tangis Gema.
Gendis menuju dapur dengan perasaan lapar karena waktu sudah menunjukan hampir jam makan siang. Jika di kehidupan sebelumnya, Gendis saat ini pasti masih sibuk dengan kerjaannya sambil menunggu OB untuk membelikan makan siangnya. Wanita itu benar-benar tidak menyangka dia akan sesantai ini sekarang, tengah membuka kulkas yang isinya sudah kosong.
Clek!
Gendis menoleh ketika mendengar pintu rumah terbuka, ia melihat sosok Gyan yang kembali sambil membawa sebuah plastik. “Kenapa pulang lagi?” tanya Gendis heran.
Gyan agak ragu mengatakannya sebelum akhirnya meletakan bungkusan plastik itu ke atas meja. “Makan, aku beliin nasi bungkus karena di rumah enggak ada apa-apa.”
Gendis mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya ketika mendengar perkataan Gyan. “Untuk aku beneran?”
“Kalo kamu enggak makan, gimana nanti nyusuin Gema?”
Gendis langsung memasang wajah datar ketika mendengarnya, ia pikir pria itu tulus membelikan untuknya. Tapi, tidak apalah. Terpenting sekarang dia tidak kelaparan.
“Nasi bungkusnya dua? Kamu mau makan di rumah juga?“ tanya Gendis melihat nasi bungkus di dalamnya.
“Satunya lagi untuk Gaffi dan Gavin yang bentar lagi pulang. Aku makan siang di kantor aja.”
Gendis tahu kalo Gyan hanya karyawan biasa, mana mungkin dia bisa bebas makan siang? Perjalanan dari rumah ke kantor pasti sudah menghabiskan waktu banyak. “Makan sama-sama aja. Kamu pasti enggak akan sempat makan siang di kantor.”
“Oke,” jawab Gyan yang beberapa detik sebelumnya terkejut.
Baru saja Gendis hendak mulai makan, tangisan Gema sudah membuatnya mendesah. “Makan aja, biar aku yang jagain Gema,” suruh Gyan yang agak tidak tega melihat wajah kusut isterinya.
“Bawa aja Gema kesini, palingan dia mau nenen,” sahut Gendis santai yang sudah tidak memiliki rasa malu lagi. Dia hanya lapar sekarang.
Gyan dan Gendis akhienya makan bersama, satu bungkus nasi padang yang ditambah dengan nasi lagi agar porsinya lebih banyak. Jangan mengira ada adegan romantis antara keduanya, adanya suami dan isteri itu kembali cekcok.
“Jangan banyak-banyak makan ayamnya. Makan aja daun singkongnya,” suruh Gyan.
“Kamu pikir aku kambing?” tanya Gendis sensi.
“Biar s**u Gema makin banyak, Gendis,” desah Gyan karena dalam pikiran pria itu sayur-sayuran dapat meningkatkan produksi asi.
“Bilang aja kamu enggak mau aku banyak-banyak makan dagingnya. Huh.”