Chapter 8 - Jangan Pernah Minta Cerai Lagi

1759 Kata
“Ibukkkk, Abang Apin pulang!” seru seorang anak laki-laki memasuki perkarangan rumahnya dengan menggenggam kedua talis tasnya. Dibelakang sang kakak menyusul sambil tersenyum kecil. Gendis yang mendengar itu terkekeh, semenjak diberi kesempatan untuk hidup kembali oleh malaikat itu dan muncul di tubuh Gendis Khalila yang memiliki tiga anak. Ia merasa hidupnya sekarang tidak akan lagi pernah sepi. Tidak seperti di kehidupan sebelumnya, seorang teman dekat pun tidak punya. Wanita itu segera keluar dari kamar sambil membawa Gema yang sudah kenyang, begitu juga dengan Gendis yang perutnya terisi penuh. “Dek Gemaaa!” pekik Gavin membuat sang adik yang melihat kakaknya langsung berubah menjadi reog, penuh semangat. “Eh, enggak boleh pegang adek dulu. Abang sama Kakak sekarang cuci tangan, ganti baju terus makan. Baru nanti main sama adek,” titah Gendis yang langsung diangguki keduanya. Sebagai seseorang yang mencintai kebersihan, Gendis perlahan akan membuat kebiasaan bersih untuk ketiga anaknya. Gendis sejak awal sudah memutuskan untuk menjalani hidup barunya, sebagai seodang ibu dan isteri. Wanita itu ingin melalukan hal yang dulu tidak sempat dia lalukan, walau sebenarnya menjadi seorang isteri dan ibu tidak termasuk daftar. Namun anggap saja ini bonus dari hidup barunya. Karena sekarang dia sudah menjadi ibu, Gendis akan mendidik ketiganya dengan caranya sendiri. Memang wanita itu tidak yakin jika ketiganya akan sukses namun setidaknya mereka tidak menderita. Adapun tentang Gyan, selama pria itu tidak melalukan sesuatu hal yang membuat Gendis ingin berpisah. Maka mereka akan tetap menjadi sepasang suami dan isteri. “Ibuk, sini adek biar Kakak yang jagain. Ibu bisa istirahat,” tutur Daffi yang datang ke arah Gendis, anak laki-laki itu sudah memakai baju rumahan. “Ibu tadi suruh Kak Daffi ngapain?” tanya Gendis dengan wajah sedikit serius. Gaffi yang melihat itu jadi takut. “Kakak udah ganti baju, cuci tangan kok, Bu,” cicitnya dengan suara yang perlahan mengecil. “Terus satu lagi apa?” tanya Gendis. “Makan,” jawab Gaffi polos. “Tapi, Kakak enggak lapar kok, Bu.” “Emang Kakak makan apa di sekolah?” tanya Gendis sambuk menarik Gaffi pelan untuk duduk di sofa. “Roti,” jawabnya pelan. “Cuman roti?” tanya Gendis sedikit terkejut. Apa itu cukup untuk seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh menjadi kenyang? “Iya, Buk,” angguk Daffi. Gendis memegang bahu anak laki-laki itu dan bisa merasakan tulangnya, sedikit meringgis. Daffi memang terlihat lebih kurus dari Gavin. “Mulai sekarang, setelah pulang sekolah. Kakak makan siang dulu, setelahnya bebas mau ngapain oke?” pinta Gendis yang diangguki oleh Gaffi walau merasa sedikit bingung. Karena biasanya Gendis akan selalu menyuruhnya untuk menjaga Gema setelah pulang sekolah. Entah saat itu dia sedang lapar atau lelah. "Kakak! Ayo buruan makan, ada nasi bungkus!" teriak Gavin dari dapur yang membuat Gendis terkekeh. Dia tahu sekarang kalo anak tengahnya itu adalah pecinta makanan. "Ibu udah makan?" tanya Gaffi yang masih sedikit ragu. "Udah, Kak," jawab Gendis lagi membuat anak laki-laki itu akhirnya bergegas menuju dapur. Gendis menghela nafasnya panjang sambil melihat punggung Gaffi. Ia tidak tahu apa yang sudah dialami anak laki-laki itu selama ini tapi dia bisa menebak bahwa kehidupan Gaffi pasti tidak mudah seperti anak seusianya. Melihat anak laki-laki itu membuat Gendis seperti melihat masa lalunya sendiri. Kedua orang tuanya bercerai, mereka memiliki hidup baru dengan keluarga baru mereka. Penuh bahagia tanpa ada Gendis di dalamnya. Gendis sudah pernah merasakan diabai sebelumnya. Dia tahu Gaffi pasti mengalami hal yang sama. Dari luar, anak itu terlihat normal. Tapi bagian dalamnya akan hancur jika tidak ada yang menolongnya. Karena ia diberi kesempatan di hidup ini untuk menjadi ibu dari Gaffi, maka dia tidak akan membiarkan anak itu menderita lebih parah. Gendis menunggu kedua anak laki-laki itu selesai makan sambil mengajak bermain Gema yang sangat receh. Lelaki kecil itu mudah sekali tertawa, padahal Gendis hanya bermain cilukba padanya. "Ibuk, Abang mau main!" seru Gavin yang sudah selesai makan. Gendis meringgis melihat keringatnya, bocah itu tidak tahan dengan makanan pedas namun masih memaksa untuk makan. "Enggak ada main jam segini, kalo mau main sore nanti,” tolak Gendis. Dia ingat dulu karyawan perempuannya yang sudah menjadi ibu sibuk mengomel tentang anaknya yang jadi demam karena sering main panas-panasan saat tengah hari. "Yah, Ibuk..." rengek Gavin mengecurutkan bibirnya. "Bang, enggak lihat hari panas gini? Mau nanti jadi gosong?" tanya Gendis, menarik tubuh Gavin untuk duduk disampingnya. Ia pun membersihkan keringat di wajah bocah itu. "Kalo mau main, sore aja. Oke?" "Jadi, Abang ngapan?" tanya Gavin yang mudah bosan. "Abang ada PR enggak? Kalo ada kerjain." "Ada, Abang ambil dulu!" seru anak laki-laki itu lalu berlari menuju kamarnya. Gendis geleng-geleng kepala, mengalihkan pandangannya ke arah Gaffi yang sedang menemani Gema merangkak. "Tatataaaa!" "Kakak ada PR juga enggak?" tanya Gendis membuat Gaffi menangguk senang. Anak lelaki itu berpikir jika hanya Gavin yang akan ditanyai. Pasalnya, baik Ayah maupun Nenek dari pihak ayahnya begitu menyayangi Gavin. "Gema ayo sinii..." panggil Gendis pada Gema yang menatap ke arahnya. Tapi, anak itu mengalihkan perhatiannya pada mainan miliknya. "Gemaaa ayo sini!" panggil Gendis yang tidak menyerah. Dia bahkan menggoyang-goyangkan mainan milik anak kecil itu. Sayangnya, tidak juga membuat Gema tertarik. "Gema, mau nenen enggak?" tanya Gendis yang langsung membuat bola mata Gema bersinar. Lelaki kecil itu langsung merangkak cepat arah Gendis. "Dasar hantu nenen," gurutu Gendis lalu perlahan membuka kancing kemejanya. Siang sampai sore itu akhirnya Gendis habiskan untuk mengenal lebih dekat tentang Gaffi dan Gavin. Si sulung saat ini sedang duduk di kelas 5 SD sedangkan si tengah berada di kelas 3 SD. Mereka berada di sekolah yang sama, biasanya jika pulang Gavin akan menunggu Gaffi sebelum mereka pulang bersama dengan angkutan umum. Gendis sebenarnya ragu membiarkan mereka berdua naik angkutan umum. Namun, tidak ada lagi kendaraan di rumah yang bisa wanita itu pakai untuk menjemput Gaffi dan Gavin. "Ibuk, Ibuk,” panggil Gavin yang sedang tiduran di lantai ruang tamu. Anak laki-laki itu tidak jadi bermain setelah hari menjadi sore, menerutnya lebih asik bersama ibu, kakak dan adiknya. "Hem, ada apa?" tanya Gendis. "Kita kapan makan ayam goreng yang ada hadiahnya itu?" tanya Gavin sambil menggigit ujung pensilnya. "Kotor, Bang," tegur Gendis. "Emangnya Abang belum pernah makan ayam goreng?" "Pernah tapi cuman yang di pinggir jalan," jawab Gaffi mengerucutkan bibirnya. "Teman Abang kemarin cerita kalo dia makan disana sama Ayah dan ibunya." Gendis tidak tahu berapa gaji Gyan tapi dia yakin itu tidak jauh dari UMR. Wajar jika memang Gyan jarang membawa anak-anaknya makan di restoran cepat saji, karena masih banyak hal yang pastinya lebih penting untuk dibeli. Gendis merasa semakin yakin bahwa dia harus segera bekerja, setidaknya jika anak-anak ingin memakan sesuatu, mereka tidak harus menunggu Gyan gajian atau sisa dari pengeluaran bulanan. "Sabar ya, Bang. Kita makan disana sama-sama nanti." "Yeay, makasih Ibuk!" seru Gavin sangat gembira membuat hati Gendis merasa hangat. "Kalo Kakak mau makan apa?" tanya Gendis menoleh ke arah Gaffi yang nampak terkejut lalu berubah ragu mengatakan apa yang dia inginkan. "Kakak mau makan ramen, Buk." "Okey, ayam goreng dan ramen kan?" tanya Gendis lagi membuat kedua anak laki-laki itu mengangguk dengan bibir tersenyum lebar. "Terus adek mau makan apa?" tanya Gendis gemas sambil mencolek pipi anaknya. "Nenenenene..." "Hahahaa adek mau makan nenen terus!" ejek Gavin yang membuat semuanya tertawa. Gyan yang baru saja melepas helmnya terkejut ketika mendengar suara tawa dari dalam rumah. Pria itu mengingat-ingat kapan dia terakhir kali dia mendengar? Tidak hanya suara kedua anaknya tapi juga suara tawa Gendis yang sedikit berbeda di hatinya. Tawa isterinya itu seperti candu, membuat Gyan merasa ingin mendengarnya lagi. "Ayah pulang!" seru Gavin saat menyadari itu adalah Gyan. Ekpresi senyum di bibir Gaffi yang mendengar itu seketika berubah hilang. Anak laki-laki itu bahkan buru-buru membereskan bukunya dan berjalan cepat menuju kamar. Gendis memperhatikan semuanya, dia lalu menatap datar ke arah Gyan. Entah apa yang sudah dilakukan pria itu sampai membuat Gaffi menjadi sangat takut padanya. Gyan yang melihat wajah datar Gendis sedikit kebingungan. Ia merasa wanita itu seperti sedang menyalahkannya karena sesuatu. Bukannya tadi Gendis tertawa, kenapa sekarang malah menatapnya seperti itu? Pria itu seketika memikirkan Gendis yang ingin bercerai darinya, wanita itu juga tidak lagi memelas mohon pada Sari saat ibunya ingin mereka cerai. Apakah Gendis benar-benar ingin berpisah dengannya? Apa ini ada hubungannya dengan mantan kekasih Gendis yang sudah kembali? Gyan terus memikirkan itu sampai waktunya hendak tidur. Namun tiba-tiba saja Gendis mengajaknya berbicara, membuat pria itu sedikit menebak-nebak apa yang diinginkan oleh Gendis. "Ada apa?" tanya Gyan resah. "Apa kamu benar-benar enggak kamu pisah sama aku, Gyan?” tanya Gendis membuat Gyan langsung mengepalkan tangannya. "Enggak," putus Gyan. "Apa kamu masih mau pisah sama aku?” "Tergantung," jawab Gendis membuat Gyan bingung. "Banyak hal yang bikin aku mau pisah, tergantung kamu melakukannya atau tidak. Salah satunya kamu kasar sama anak-anak,” ucap Gendis sambil menghela nafasnya panjang. "Tenang aja, aku enggak akan nuntut cinta yang besar atau perlakuan romantis dari kamu." "Kamu tahu kan kalo aku hilang ingatan?" tanya Gendis. "Aku kayaknya sadar kalo perilaku aku sebelumnya cukup buruk—-“ “Sangat buruk,” potong Gyan dengan ekpresi muram. Pria itu ingat saat Gendis pernah membuat anak-anak kepalaran seharian. Gendis mendesah panjang. “Oke, sangat buruk. Tapi, aku mau belajar menjadi ibu yang baik dan aku minta selama itu kamu enggak mempermasalahka apapun karena aku baru belajar.” "Tunggu," tahan Gyan yang merasa ada yang kurang dengan kalimat isterinya. "Hanya ibu yang baik? Bagaimana dengan isteri?" Gendis tiba-tiba terbatuk. Tunggu, isteri yang baik? Gendis tidak tahu caranya untuk yang satu itu, apa dia harus rela melayani Gyan setiap saat di kasur? Gyan yang menunggu jawaban Gendis jadi bingung ketika melihat wanita itu pipinya jadi memerah. "Juga," angguk Gendis. "Aku juga akan jadi isteri yang baik asal kamu memberikan hak aku. Gaji!" "Oke, enggak masalah. Asal kamu enggak menghabiskannya." Saat Gyan memberi tahu jumlah gajinya, rancana pengeluaran bulanan langsung muncul di otak Gendis. Itu memang cukup untuk keluarga tapi sayangnya mereka tidak bisa menabung. "Oh iya, satu lagi. Aku mau kerja,” ucap Gendis sambil memasang senyum lebar. "Kerja?" tanya Gyan dengan ekpresi yang berubah muram. "Santai, wajah kamu enggak usah kayak mau makan orang," ejek Gendis. "Aku bakal kerja dari rumah dan aku usahain enggak akan ganggu pekerjaan rumah." "Oke," angguk Gyan yang tidak keberatan, asal wanita itu tidak membuat yang aneh-aneh. "Karena aku udah ngasih apa yang kamu mau, aku juga mau minta sesuatu sama kamu,” pinta Gyan sambil menatap langsung ke arah Gendis. Deg. Gendis langsung merasakan detak jantungnya berubah jadi lebih kencang. Tunggu, jangan bilang kalo Gyan meminta haknya di atas kasur? "Ap--apa?" tanya Gendis gugup. "Jangan pernah minta cerai lagi," pintanya dengan wajah sendu membuat Gendis tertegun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN