Chapter 9 - Senyum Gyan

1515 Kata
"Gyan!" "Gyannnnnn!" "Gyan, buruan bangun!" panggil Gendis sambil menggoyang-goyangkan badan Gyan. "Ada apa, sih, Gendis?" tanya Gyan yang perlahan membuka kelopak matanya. "Anterin aku ke pasar!" pinta Gendis membuat Gyan yang masih dalam loading mengumpulkan nyawa langsung sepenuhnya terbangun. "Apa tadi kamu bilang?" tanya pria itu sambil mengucek-ucek matanya. "Anterin aku ke pasar, sekarang!" "Kamu enggak nginggau kan, Gendis?" tanya Gyan sambil melirik ke arah jam di dinding kamarnya. Masih pukul 5 pagi dan Gendis memintanya untuk diantar ke pasar. "Enggak, kamu buruan bangun. Aku mau bangunin Gaffi biar ada yang jaga Gema." Tanpa menoleh ke arah Gyan lagi, Gendis langsung berbalik menuju pintu keluar. Gyan mengerutkan dahinya bingung, untuk apa Gendis mengajaknya ke pasar sepagi ini? Pastinya bukan untuk berbelanja kan? Gendis yang ia kenal sama sekali tidak peduli dengan isi dapur, wanita itu biasanya hanya berada di dalam kamar dengan ponselnya. "Lho kamu belum cuci muka, cepetan nanti kita kesiangan!" seru Gendis lagi yang dibelangkannya berdiri Gaffi yang masih nampak mengantuk. Gyan akhirnya hanya bisa pasrah, bergegas mencuci muka dan mengenakan jaketnya. Pria itu lalu melihat sekilas ke arah Gaffi yang berbaring di sisi Gema, ia hendak mengatakan pada anaknya itu agar tidur saja tapi itu tertahan di mulutnya. Gyan malah keluar dari kamar dan melihat ke arah Gendis yang sedang menulis sesuatu di atas meja. "Udah siap? Ayo buruan kita pergi," ajak Gendis selesai menulis. Melipat kertas dan memasukan ke saku baju tidurnya. "Tunggu," tahan Gyan. "Kamu mau keluar sepagi ini cuman pake kayak gitu? Buruan pake jaket!" suruhnya membuat Gendis menurunkan pandangan ke arah pakaiannya. Ia yakin bisa mati kedinginan jika hanya memakai ini. Tak lama kemudian Gendis kembali keluar dengan mengenakan jaket yang cukup tebal. Gyan sudah duduk di atas motor sambil memanaskannya. "Jangan lupa pake helm," suruh pria itu membuat Gendis mengangguk cepat. Tapi, sayangnya karena di kehidupan sebelumnya jarang mengenakan helm, wanita itu kesusahan untuk memasang pengaman di helmnya. "Lama banget, sini aku bantu," decak Gyan membuat Gendis maju sambil merengut. "Gini aja susah," tambah pria itu lagi dan Gendis hanya bisa memutar bola matanya. "Buruan naik!" seru Gyan lagi. "Kamu bisa santai sedikit enggak, sih, Gyan? Kalo kamu nanti stroke, aku enggak mau lho jadi isteri kamu lagi." Gendis berdecih sambil naik ke atas motor, karena pengalaman naik motor yang brutal sebelumnya bersama Gyan membuat Gendis begitu mepet duduknya ke tubuh pria itu. Gyan hendak protes kalo wanita itulah yang membuatnya selalu emosi. Tapi, saat merasakan tubuh bagian belakangnya yang menempel dengan bagian tubuh depan Gendis, menyebabkan jadi kehilangan kata-kata untuk marah. "Udah siap?" tanya Gyan sambil melirik ke arah spion. "Udah," angguk Gendis yang sedang mengira pengeluarannya pagi ini. Motor yang dikendarai Gyan akhirnya melaju di jalanan yang masih sepi, karena hari masih sangat pagi ditambah mereka berkendara mengenakan motor membuat Gendis yang belum pernah merasakannya terus protes. "Gyan ini dingin banget!" gigil Gendis. "Siapa suruh pergi ke pasar sepagi ini?" ketus Gyan yang belum mengetahui tujuan Gendis pergi ke pasar. "Kalo enggak pagi, aku enggak bisa masak sarapan sama bekal kamu dan anak-anak. Bahan-bahan di rumah udah enggak ada," jawab Gendis sambil meringgis, merasakan tangannya menjadi sangat dingin. Gyan lagi-lagi tertegun dengan Gendis, pria itu sama sekali tidak menyangka alasan wanita itu mengajaknya ke pasar agar bisa berbelanja dan membuat sarapan dan bekal untuknya dan anak-anak. "Bentar lagi sampai," ujar Gyan sedikit mengencangkan motornya agar bisa cepat sampai dan tidak membuat Gendis kedinginan. "Gyan, kalo kamu punya banyak uang, beli mobil ya. Aku enggak sanggup kalo kayak gini terus," gumam Gendis dari belakang. Ekpresi wajah Gyan yang semulanya nampak bersemangat karena tujuan Gendis ke pasar langsung berubah sendu. Andaikan dulu dia tidak melakukan hal itu, mungkin situasinya akan lebih baik. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu pasar yang sudah buka sejak pagi sekali. Kalian tidak akan menyangka kalo di kehidupan sebelumnya Gendis sering sekali masuk ke dalam pasar, sebagai salah satu Manejer Pemasaran Perusahaan Makanan terkenal, wanita itu sering memantau harga pasar yang bisa dijadikan acuan. Pasar memang tidak sebersih supermarket tapi ini adalah tempat yang ramai sehingga Gendis yang dulu di kehidupannya sangat sepi, bisa sedikit merasakan keramaian. Gyan yang tahu Gendis tidak pernah masuk ke pasar, hendak mengajaknya membeli bahan-bahan. Tapi, dia tidak menyangka malah Gendis yang menuntutnya untuk mencari bahan-bahan rumah tangga mereka. Belum lagi kefasihan wanita itu untuk menawar dan memilih bahan yang bagus. Kadang-kadang Gyan berpikir jika di dalam tubuh isterinya ini bukan lagi Gendis yang tidak peduli terhadapnya dan anak-anak. Gendis yang selalu membuatnya menarik nafas panjang saat hendak kembali ke rumah. "Ini total belanja hari ini, mulai sekarang aku bakal ngasih rincian pengeluaran setiap bulan sama kamu," ujar Gendis sambil mengunyah risol, mereka telah selesai berbelanja dan saat ini hendak menuju ke parkiran. "Enggak usah," tolak Gyan, perjalanan mereka pagi ini membuat Gyan sadar kalo Gendis tidak lagi menghambur-hamburkan uang. "Yakin? Kalo aku tilep uangnya gimana?" tanya Gendis sambil tersenyum miring. "Kamu juga butuh beli sesuatu," jawab Gyan santai yang membuat Gendis menghentikan langkahnya. Wanita itu tertegun, perkataan Gyan membuat Gendis mengingat dirinya lagi. Pagi ini, ia ke pasar bukan karena dirinya tapi karena Gyan dan anak-anak. Entah bagaiman, Gendis yang dulu selalu mementingkan dirinya sendiri malah mementingkan orang lain. "Aku beneran boleh beli sesuatu? Kayak make-up atau baju?" tanya Gendis. "Boleh, asal kamu tahu batasnya," jawab Gyan lagi yang tidak pernah mempersalahkan tentang uang. Gendis tersenyum lebar, ia salah menilai kalo Gyan adalah orang yang pelit. Banyak suami yang senang jika isterinya berbelanja untuk suami dan anak-anak tapi kesal jika sang isteri memanjakan dirinya sendiri. Gyan berbeda, dia tahu saat ini Gendis sama sekali tidak memiliki uang selain darinya. Pria itu mau membelanjakan sesuatu untuk isterinya. Karena pria itu baik, Gendis akan menambahkan porsi makan siangnya. "Sampai rumah nanti, kamu tolong siapin anak-anak ya. Ingat, enggak usah pake otot sama Gaffi!" perintah Gendis saat di dalam perjalanan yang dijawab deheman oleh Gyan. Sesampainya di rumah, Gendis langsung masuk ke dalam dapur untuk bersiap. Untuk mengisi waktu luangnya di masa lalu, Gendis sering sekali memasak untuk dirinya sendiri. Ini pertama kalinya dia memasak untuk orang lain dan sedikit gugup. Gyan tidak menganggu Gendis, ia juga tidak heran jika Gendis bisa memasak. Karena dia pernah mendengar dari ibu Gendis bahwa isterinya itu memang bisa memasak. Pria itu segera mengajak anak-anak untuk mandi. Termasuk Gema yang ikut dimandikan dengan air hangat. Ketika Gyan sedang memakaikan pakaian untuk Gema, pria itu bisa mencium aroma masakan yang sangat wangi dari luar. Sangking menggodanya, Gyan sampe lupa memasang popok Gema hingga membuatnya harus membuka celana anak itu lagi. "Ibuk, harumnya enak banget!" Gyan kedeluan, Gavin sudah lebih dulu memuji masakan Gendis. "Oh, enggak cuman rasanya. Harumnya juga enak lho!" kata Gendis percaya diri sambi menepuk-nepuk dadanya. Gyan geleng-geleng melihat tingkat kepercayaan diri isterinya. Untuk sarapan, Gendis membuat nasi goreng udang yang membuat ketiga pria itu menambah namun buru-buru dicegah oleh Gendis. Tidak baik sarapan terlalu kenyang, ketiganya bisa saja mengantuk di kelas dan di tempat kerja nanti. Berbeda menu dengan sarapan, kota bekal ketiganya diisi Gendis dengan lima sehat dan empat sempurna. Wanita itu agak ragu kalo ketiga pria itu hampir kekurangan gizi, jadi dia sengaja membuat itu. Nasi sebagai sumber karbo, tumis bayam tomat, telur balado yang tidak pedas dan potongan buah pepaya. Gaffi dan Gavin begitu kegirangan ketika mendapat bekal makan siang mereka yang nampak sangat enak. Jika sana Gendis tidak melarang, mereka mungkin akan makan lagi, apalagi Gavin yang pecinta makanan. "Oh iya. Ini uang saku Kakak sama Abang." Gendis memberikan uang saku kedua anak laki-laki itu. "Kita masih dapat jajan, Buk?" tanya Gaffi terkejut, tidak masalah kalo dia tidak mendapat uang jajan. "Tunggu sebentar," tahan Gendis lalu mengambil sesuatu dari plastik yang ada di atas kulkas. Wanita itu lalu membawa dua buah celangan plastik. "Ibu sengaja ngasih uang jajan untuk Kakak sama Abang tapi mulai hari ini, kalo kalian mau beli sesuatu seperti mainan atau yang lain, harus menggunakan uang sendiri." "Kalo mau beli mainan terus uangnya enggak cukup? Harus nabung dulu. Tapi, untuk kebutuhan sekolah yang wajib tetap Ibu dan Ayah yang bayarin. Gimana, ngerti enggak?" tanya Gendis yang membuat dua anak itu terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Oke siap, Ibuk!" kompak Gaffi dan Gavin lalu membawa kotak makan siang mereka keluar dari dapur. "Kamu kenapa enggak siap-siap pergi juga?" tanya Gendis heran melihat Gyan masih berdiri di posisinya. "Uang jajan aku mana?" tanya pria itu dengan polos membuat Gendis terkikik mendengarnya. "Kamu pake uang jajan juga? Emangnya kamu kelas berapa?" tanya Gendis sambil membuka dompet dan memberikan uang pada Gyan yang menyengir. "Ini kebanyakan," ujar Gyan. "Ya, jangan dihabisin, kalo bisa itu untuk sebulan." "Terus aku isi bensin gimana? Jadi harus dorong gitu.l "Yah, kalo kamu bisa," balas Gendis sambil menyengir. Gyan menggelengkan kepalanya lalu berbalik untuk bersiap namun baru dua langkah, pria itu kembali berbalik menatap ke arah Gendis yang sedang membuat makanan pendamping asi Gema. "Gendis," panggil Gyan. "Ha?" tanya wanita itu tanpa menoleh. "Terima kasih sarapan dan bekalnya," ucap Gyan sambil tersenyum kecil dengan tulus. Gendis yang akhirnya menoleh dan melihat itu sedikit tersest, dia tidak tahu kalo senyum suaminya bisa seseksi itu?! Kenapa Gendis tidak meminta Gyan tersenyum padanya 24 jam?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN