“Kayaknya matahari terbit dari barat.”
“Emangnya kenapa?”
“Tuh, lihat si Gyan yang datang ke kantor sambil senyum-senyum.”
“Waduh, tumben banget, tuh!”
Gyan yang sedang dalam perjalanan menuju ruangannya, tidak menyadari kalo sejak motornya terpakir di parkiran, pria itu sudah menjadi bahan pembicaraan orang-orang di kantor. Namun walaupun pria tiga anak itu mengetahuinya, Gyan tidak akan peduli dengan perkataan mereka yang hanya dianggap pria itu hanya angin lalu.
Pria itu tidak mau merusak kebahagian yang diciptakan dari bekal yang dibuat Gendis.
Bahkan tumpukan dokumen yang sudah diatas mejanya, tidak membuat suasana hati pria itu buruk.
“Lo kesambet apaan, Yan?” tanya salah seorang temannya yang menghampiri meja Gyan.
“Enggak kesambet apa-apa,” jawab Gyan sambil memeriksa dokumen dan memilahnya menjadi dari yang paling cepat dibutuhkan selesai sampai yang bisa dikerjakan besok.
“Lo udah cerai sama bini lo?” tebak temannya itu membuat kepala Gyan langsung mendongak dan membalas, “ngaco lo.”
“Yah habis, anak-anak divisi kita udah tahu kali kalo setiap hari muka lo suram itu karena isteri lo,” komentar teman kerjanya itu lagi yang masih penasaran. Jika Gyan becerai, maka mereka bisa membicarakannya saat makan siang nanti.
Sayang sekali, Gyan tidak peduli dengan perkataan pria itu namun di dalam hatinya masih bertanya-tanya.
Gyan tidak tahu asal-muasal teman kerjanya tahu jika dia memiliki hubungan yang buruk dengan Gendis. Mereka tiba-tiba mengetahuinya, padahal ia sama sekali tidak pernah membicarakan hal itu. Dia masih penasaran darimana mereka mengetahuinya, sebersit pikiran Gyan tentang seseorang yang mungkin menyebarkannya. Namun buru-buru ia mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin orang itu yang melakukannya.
Jam kerja dimulai, Gyan yang hanya sebagai seorang karyawan biasa segera memulai pekerjaanya. Dia tidak mau membuatnya menempuk sehingga Gyan harus mengundur waktu pulangnya, ia tidak ingin ketinggalan acara tawa bersama Gendis dan anak-anak.
“Yan, ini kerjaain ya. Kalo bisa hari ini selesai.” Dua dokumen ditambahkan di atas meja kerja Gyan oleh atasannya membuat pria itu hanya bisa mengangguk. Dia tidak mungkin menolak, bisa-bisa pria itu akan diberi peringatan atau paling parah dipecat.
Ketika pria itu mengambil dokumen yang diberikan atasannya ith, Gyan tiba-tiba terhenyak beberapa saat. Pria itu bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah dia akan melakukan pekerjaan seperti ini sampai tua nanti?
Bagaimana dengan permintaan Gendis untuk membeli mobil? Gyan rasa itu rencana yang sangat jauh bahkan hampir mustahil.
Andaikan dulu dia bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya, mungkin Gyan tidak akan terjebak menjadi karyawan biasa yang sulit untuk naik jabatan karena hanya tamatan SMA. Gyan menghela nafasnya kasar, penyesalan ini tidak akan bisa hilang setelah bertahun-tahun.
Setidaknya hari ini ada hal yang membuat Gyan bisa tersenyum sedikit yaitu jam makan siang. Hari ini berbeda dengan sebelumnya, Gyan membawa bekal yang dibuat oleh Gendis. Pria itu tidak harus turun ke lantai bawah, berdesak-desakan dengan karyawan lain di kantin basement dan bisa menghemat uangnya. Bertepatan saat Gyan mengeluarkan tas bekalnya, beberapa temannya yang melewati mejanya untuk mengajak makan siang bersama.
“Gayn, yok makan soto di basement,” ajak temannya yang langsung ditolak Gyan.
“Gue dibawain bekal sama isteri gue,” jawab Gyan dengan sedikit menekan kata isteri. Di dalam hatinya, pria itu merasa puas saat melihat ekpresi terkejut teman-temannya. Gyan ingin memberi tahu teman-temannya kalo Gendis tidak seburuk yang mereka kira.
“Coba buka, siapa tahu isinya cuman telor mata sapi,” suruh temannya yang tidak yakin. Gyan buru-buru membuka bekalnya dan semerbak aroma dari masakan Gendis langsung membuat teman-temannya terkejut.
“Bini lo kayaknya beli online ini,” ucap temannya yang ragu.
“Gue sendiri yang temanin isteri gue ke pasar dan lihat masaknya sendiri,” balas Gyan dengan ekpresi muram membuat teman-temannya yang melihat itu langsung mundur. Gyan tidak tidak dekat dengan mereka, jadi mereka agak segan dan buru-buru meninggalkannya.
Gyan tidak terlalu marah jika Gendis dibicarakan oleh teman-temannya. Tapi, karena wanita itu adalah isterinya maka sebagai suami yang tugasnya mendidik seorang isteri, Gyan tidak mau dicap tidak becus mengurus isterinya.
“Mas Gyan!” panggil seseorang membuat Gyan menoleh. Pria itu tersenyum saat melihat perempuan mudah berjalan ke arahnya. Kina—adik tirinya.
“Mas Gyan, ini makan siang di luar, yuk?” ajak gadis itu sambil tersenyum manis.
“Kayaknya enggak, soalnya. Mas bawa bekal,” tolak Gyan pada adik tirinya yang langsung membuat bibir Kina cemberu, sang kakak seketika menjadi bersalah karena biasanya dia dan Kina akan pergi ke kantin bersama.
“Mas Gyan beli di luar?” tanya Kina saat melihat isi bekal Gyan yang nampak menarik.
“Ini buatan Mbak Gendis,” jawab Gyan dengan senyum lebar membuat Kina langsung terkejut.
“Mbak Gendis?” tanya Kina lagi, menatap ke arah Gyan. “Beneran buatan Mbak Gendis, Mas? Jangan-jangan itu dibeli di luar terus ngaku buatannya.”
Gyan langsung kehilangan senyumnya saat mendengar perkataan Kina yang secara tidak langsung menuduh Gendia. Tapi, dia tidak bisa membantah ucapan adiknya, Gendis yang mereka kenal memang tidak akan pernah merepotkan dirinya untuk membuatkan bekal untuk suaminya sendiri. Dia saja masih sedikit terkejut tentang hal ini.
“Ini beneran buatan Mbak Gendis,” ulang Gyan.
“Mbak Kina,” panggil seorang karyawan perempuan lain. “Mas Gyan enggak bisa nemenin Mbak kan? Ayo biar aku aja.”
Kina masih menatap ke arah Gyan dengan sedikit tidak rela. Hingga pada akhirnya wanita itu mengangguk pada karyawan kantor yang mengajaknya makan siang. “Oke, deh, Mas. Kina makan siang di luar dulu ya.”
Gyan mengangguk dan terus menatap adik tirinya yang tertawa manis saat karyawan perempuan itu mengobrol dengannya. Kina adalah sosok perempuan yang hampir sempurna menurut Gyan, adik tirinya itu baru berusia 25 tahun namun sudah menjadi asisten manejer pemasaran yang diyakini oleh semua karyawan jika karirnya tidak akan berhenti disana.
Dia bahagia tapi juga sedikit iri dengan adiknya yang lulus di salah satu universitas terkenal yang dulu sudah menerima Gyan. Adiknya itu berhasil mendapatkan gelar cumlaude yang banyak mahasiswa impikan. Lagi-lagi, penyesalan di hati Gyan timbul.
Tidak ingin memikirkan itu lagi, Gyan langsung menyatap makan siangnya. Dia akui bahwa Gendis tak hanya hebat soal rasa tapi juga bagus dalam penampilan makanan. Tapi, sayangnya kenapa baru ini perempuan itu memasak? Apa karena kecelakaan itu?
Gyan jadi agak yakin saat sempat koma, Gendis mungkin hampir dimasukan ke dalam neraka sehingga ketika hidup perempuan itu langsung berubah. Gyan terkekeh kecil memikirkan tebakan absurdnya.
Drtt… drtt…
Di tengah kegiatan makan siangnya, Gyan diganggu dengan suara ponselnya yang berbunyi. Pria itu melihat nomor tidak dikenal namun takut itu hal penting segera langsung mengangkatnya. “Halo, ini siapa?” tanya Gyan.
“Apa ini dengan orang tua dari Gaffi?”
———
“Gema, kamu duduk disini dengan tenang. Ibuk mau cari kerja dulu biar bisa beliin popok sama s**u kamu, okey?”
“Tatataaaa!” seru Gema yang melonjak-lonjak di pangkuan Gendis.
“Oke, oke, calm, Gem,” pinta Gendis yang agak trauma dengan posisi ini. Perempuan itu pernah merasakan sakit pada dagunya karena tak sengaja Gema yang duduk di pangkuannya melonjak sehingga kapala pria kecil itu mengenai dagunya.
“Ini, Gem-gem main ini aja,” kata Gendis sambil memeberikan mainan pada balita itu hingga membuatnya sibuk.
Gendis menghela nafasnya lega ketika melihat Gema sudah anteng, perempuan itu segera mengalihkan pandangannya pada layar laptop Gyan yang dia pinjam.
Hari ini, Gendis sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan agar mereka memiliki pintu penghasilan lain. Gendis tahu kalo itu tidak mudah, apalagi pemilik asli tubuh ini hanya tamatan SMA. Tapi, Gendis yakin dirinya masih ada peluang, masih banyak pekerjaan yang tidak butuh gelar, bahkan Gendis pernah mendengar perusahan terkenal tidak merekrut pegawainya dari gelar namun keahlian mereka.
Sebagai seorang wanita yang lulus s1 jurusan bisnis di kampus terkenal dan lulusan magister bisnis di kampus luar negeri, Gendis yakin tidak ada yang menolak pekerjaannya.
Tapi, untuk membuktikan hal itu. Gendis perlu membuat portofolio miliknya, hanya itu yang bisa membuat klien percaya padanya. Perempuan membutuhkan waktu satu jam lebih untuk membuat portofolio sederhana, hal itu yang hanya bisa dia jual kepada kliennya. Setelah itu dia mencari perusahaan di situs freelance luar negeri. Setelah menemukan tiga pekerjaan dan mengajukan apply, Gendis tersenyum dengan puas.
Wanita itu lalu menundukan kepalanya untuk melihat Gema dan terkejut saat melihat balita ternyata tertidur di pangkuannya. Gendis seketika menjadi sedih, Gema pasti bosan dan tertidur karena Gendis tidak menemaninya. “Maafin ibuk ya, Gem-gem,” lirih Gendis sambil mengubah posisi Gema agar lebih enak tidur.
Gendis mengusap-usap kepala Gema dengan lembut dan merasakan keringat di dahi anaknya yang cukup banyak. Wanita itu seketika memutuskan jika dia memiliki uang nanti mereka harus memasang pendingin atau paling tidak untuk kamarnya terlebih dahulu.
Melihat balita itu, Gendis seketika memikirkan tentang perkembangan Gema. Di kehidupan sebelumnya, Gendis sama sekali tidak permah berurusan dengan anak kecil jadi dia tidak tahu tahapan seorang anak. Kasarnya gadis hanya tahu seorang anak itu lahir, minum s**u, berjalan dan sekolah. Tidak tahu betapa panjangnya rute itu.
Gendis menemukan jika anak seusia Gema harusnya sudah belajar berjalan. Wanita itu melihat Gema lagi, mengingat ia pernah melihat Gyan yang mengajak Gema berjalan sambil memegang dinding saat malam hari. Itu mungkin bisa meletih agar Gema bisa berjalan.
Wanita itu lalu mencari daftar makanan yang bisa membuat kaki menjadi kuat. Menurutnya, tidak cukup hanya dilatih saja, Gema harus mendapat nurtrisi dari dalam agar membuatnya lebih cepar berjalan.
“Nanti ibuk bikinin makanan yang enak, oke?” kekeh Gendis sambil memainkan hidung Gema.
Gendis lalu mematikan laptop milik Gyan saat melihat jam di dinding yang menujukan pukul serengah satu, karena sebentar lagi Gaffi dan Gavin akan pulang maka Gendis akan mempersiapkan makan siang mereka. Ia terlebih dahulu meletakan Gema di kasur sebelum menuju dapur. Wanita itu hanya menghangatkan makanan yang dibuatnya pagi tadi.
Tidak lupa dia melihat agar-agar yang sempat dia buat tadi di dalam kulkas, Gendis merasa seratus persen yakin Gavin pasti akan sangat suka.
“DASAR ANAK BODOH, BERHENTI AJA KAMU SEKOLAH!”
Gendis terkejut ketika mendengar teriakan itu dari luar, wanita itu buru-buru keluar dari rumah dan melihat Gyan dengan wajah merah padam dan Gaffi yang terjatuh di tanah.
“Gyan kamu ngapain Gaffi, hah!” murka Gendis melihat kondisi Gaffi yang menyedihkan. Kelopak mata anak itu sembab dan ada luka di bibirnya yang berdarah. “Kamu yang buat Gaffi luka kayak gini?!” tanyanya lagi.
“Ini karena dia sendiri, dia berkelahi dengan temannya!” balas Gyan yang masih nampak emosi.
“Ibuk…” Gavin yang sejak tadi ketakutan karena ayahnya segera mendekat ke arah Gendis. Bocah 9 tahun itu juga merasa kasihan dengan kakaknya.
“Kamu tahu kenapa Gaffi berkelahi?” tanya Gendis pada Gyan yang membuat pria itu bungkam.
“Apapun alasannya, dia seharusnya enggak berkelahi di sekolah!” balas Gyan. “Dia harusnya belajar dengan benar karena aku udah capek bekerja untuk dia!”
Gendis yang mendengar itu terkekeh. “Maksud kamu dia enggak boleh membela diri sekalipun dia benar? Kamu gila, Gyan.” Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan isi otak Gyan, dia rasanya perlu membedah untuk melihat. Siapa tahu isinya kosong!
“Oke, kali ini kamu cuman lihat Gaffi memar di bibirnya. Tapi kamu mungkin enggak akan tahu ke depannya, yang kamu lihat nanti anak kamu udah enggak ada karena enggak bisa bela dirinya!” Gyan menegang ketika mendengar kalimat sarkas milik Gendis. Pria itu langsung merasa takut apa yang dikatakan oleh Gendis.
Namun, karena Gaffi jugalah yang membuat hidupnya menderita.
“Kamu kenapa bisa sebenci itu sama Gaffi? Apa alasannya Gyan?” tanya Gendis yang tidak habis pikir. Dia pernah mendengar bahwa penyebab hidup Gyan menderita karena Gaffi, tapi apa emangnya yang bisa disebabkan oleh anak itu?
“Gendis, kamu mungkin melupakannya. Tapi, jika aku memberi tahunya, aku yakin kamu pasti akan membenci Gaffi juga.”
“Ayah, jangan kasih tahu ibuk…” panik Gaffi membuat Gendis semakin bingung. Anak laki-laki itu tidak mau sang ibu kembali membencinya.