“Aku mau tahu tapi enggak sekarang,” putus Gendis sambil menatap ke arah Gyan yang masih dipenuhi dengan emosi. Wanita itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gaffi yang bahunya sudah jatuh lemas.
“Gaffi harus diobatin dulu,” lanjut Gendis sambil memasang senyum lembutnya ke arah Gaffi, ingin membuat anak itu berpikir bahwa keselamatannya lebih penting dari masa lalu itu. “Ayo kita obatin,” ajak wanita itu membawa bahu putra sulungnya masuk ke dalam rumah. Gavin yang masih takut dengan amarah Gyan, mengikuti kemana ibu dan kakaknya pergi.
Saat ini di teras rumah hanya tersisa Gyan yang sedang mengehela nafasnya dengan kasar. Pria itu mengusap wajahnya lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tidak kembali ke kantor, Gyan sudah meminta izin kepada atasannya tadi walau harus dimarahi terlebih dahulu.
Ketika dia sampai di sekolah Gaffi tadi, Gyan benar-benar sangat malu saat orang tua dari siswa yang menjadi lawan Gaffi memerahinya di depan para guru, pria itu hanya bisa diam sambil memendam kemarahan kepada putra sulungnya. Menghela nafasnya lagi, pria itu segera masuk ke dalam rumah.
Gendis yang sudah mengambil kotak p3k, mulai membersihkan dan mengobati luka Gaffi. Wanita itu menoleh sedikit ke arah Gyan yang masuk ke dalam rumah, pria itu nampaknya tidak kembali ke kantor lagi. Saat pandangan Gendis kembali ke arah putranya, ia bisa merasakan Gaffi sedang menahan rasa sakit.
“Sakit, Kak?” tanya Gendis yang dijawab gelengan oleh Gaffi.
Gendis menghela nafasnya, tatapannya lalu beralih ke arah Gavin yang setia duduk di samping Gaffi dan memegang tangan kakaknya itu. Wanita itu tersenyum melihatnya, apalagi saat ekpresi wajah Gavin yang berubah jadi cemberut. “Bang Apin, buruan ganti bajunya terus makan. Ibuk juga punya agar-agar di kulkas.”
“Abang mau nunggu Kakak aja, Buk,” tolak Gavin sambil menggelengkan kepalanya.
“Ibuk mau bicara sama Kakak berdua dulu, jadi Abang deluan aja, oke?” pinta Gendis yang diangguk setuju oleh Gavin.
“Kalo sakit, Kakak bilang aja,” ucap Gendis yang prihatin melihat Gaffi yang berusaha menahan sakit di tubuhnya plus sakit di hatinya.
“Enggak sakit kok, Buk,” geleng Gaffi lagi yang tidak mau membuat Gendis yang sudah mengobatinya jadi kesal karena ringisan kesakitannya. Gendis tidak bisa mengatakan apa-apa lagi sampai selesai mengobati luka Gaffi.
“Udah ibuk obatin, semoga cepat sembuh,” doa Gendis meletakan obat-obatan ke meja. Wanita itu lalu merentangkan tangannya sambil tersenyum ke arah Gaffi. “Mau peluk?” tawarnya.
“Boleh, Buk?” tanya Gaffi dengan suara yang bergetar.
Gendis mengangguk dan satu detik kemudian tubuhnya langsung ditabrak oleh Gaffi. Awalnya hanya pelan namun makin lama, isakan Gaffi semakin kencang membuat hati Gendis yang mendengarnya tercubit. Nampaknya bocah itu sudah lama sekali menyimpan rasa sakit di hatinya.
“Ssst, enggak papa, Kak. Ibu percaya sama Kakak,” ujar Gendis sambil mengusap punggung anaknya.
“Hiks—ibukk…” mungkin karena sudah terlalu lelah memendam tangis, isakan Gaffi sampai membuat anak itu kesulitan napas dan membuat Gendis khawatir. “Tenang, Kak. Tenang…”
“Enggak ada yang percaya sama Gaffi, Buk—hiks.”
“Ada, ada yang percaya sama Gaffi. Ibuk, Gavin bahkan Gema percaya sama Gaffi,” kata Gendis yang tidak bisa menahan air matanya lagi saat menghadapi Gaffi. Apa yang dialami anak laki-laki itu mengingatkan Gendis apa yang terjadi padanya saat kecil.
Gendis yang saat itu tengah bermain dengan saudara tirinya, dituduh melukai saudara tirinya itu. Sayangnya tidak ada yang percaya, bahkan ayah kandungnya sendiri lebih membela anak tirinya dan ikut menyalahkan Gendis. Tidak ada yang mempercayainya saat itu, ibu kandungnya sama sekali tidak peduli. Dia hanya bisa memendam semua kesedihannya sendiri hingga dewasa dan menjadi seorang yang tidak berhati.
“Ayah enggak percaya sama Gaffi,” lirihnya penuh kesedihan.
“Biarin aja, Ayah pasti bakal nyesal,” balas Gendis yang tidak terlalu yakin. Sampai sekarang, dia tidak tahu apakah ayahnya menyesal saat kejadian itu terbukti bukan Gendis yang melakukannya. Tapi, walaupun ayahnya itu meminta maaf, Gendis tidak akan mudah memaafkannya.
Gendis menunggu Gaffi samlai tangisnya selesai, ia pernah membaca bahwa anak-anak tidak perlu diberhentikan saat menangis, biarkan mereka mengeluarkan emosi mereka. Sepuluh menit kemudian, tangis putra sulungnya itu akhirnya berhenti.
“Kakak mau ceritain semuanya?” tanya Gendis sambil mengusap dahi putranya yang penuh keringat.
“Kakak berantem sama dia karena bekal Kakak diambil, Buk,” cerita Gaffi sambil terbata-bata. “Dia boleh ambil buku PR kakak kayak biasa, dia boleh ambil jajan kakak atau apapun. Tapi dia enggak boleh ambil bekal buatan ibuk!”
“Siapa yang menang?” tanya Gendis kemudian membuat Gaffi mendongak bingung. “Siapa lukanya yang paling banyak?” tanya wanita itu lagi.
“Dia, Buk,” jawab Gaffi takut sang ibu akan memarahinya.
“Bagus,” puji Gendis tiba-tiba membuat Gaffi tercengang. Maaf saja, urusan seperti ini Gendis tidak bisa bertingkah baik. Kenapa dia tidak minta Gaffi melaporkan hal itu pada guru? Karena dari apa yang dikatakan Gaffi, putranya sudah lebih dari sekali bahkan mungkin sudah menjadi langganan dan tidak ada perbuatan apapun dari pihak sekolah.
Bukan hanya anak itu yang bermasalah, sekolah itu juga sama.
“Apa orang tua nanti disuruh ke sekolah?” tanya Gendis.
“Be—besok, Buk,” jawab Gaffi tergagap, di masih bingung kenapa Gendis memujinya.
“Kak, dengerin yang ibuk bilang. Kakak disini enggak salah, dia yang mulai deluan. Apa yang kakak lakukan itu benar, itu namanya pembelaan. Mungkin kakak baru menemuinya di sekolah tapi saat dewasa nanti, kakak mungkin menemukannya lagi dan itu lebih parah. Caranya hanya satu, lawan!”
Banyak hal serupa yang terjadi di kehidupan Gendis dulu, dia bahkan pernah diancam untuk dibunuh karena karirnya yang saat itu sangat cemerlang sampai membuat orang silau. Gendis yakin itu hanyalah karyawan-karyawan yang tidak senang dengan pengangkatannya.
“Tapi, Buk, dia…”
“Sst, Kakak tenang aja. Ibuk yang besok akan datang ke sekolah,” ujar Gendis sambil tersenyum sinis membuat Gaffi sedikit merasa takut.
“Sekarang Kakak ganti baju terus makan, temenin si Abang kalo enggak nanti dimakan semuanya.” Gaffi mengangguk walau perasaannya masih penuh kekhawatiran, ia takut saat ibunya mengetahui bahwa dialah penyebab penderitaan mereka membuat sang ibu membencinya.
Gendis tahu tentang kekhawatiran Gaffi namun sayangnya dia bukanlah Gendis Khlila, pemilik asli tubuh ini. Gendis tentu saja tidak peduli apa yang dilakukan Gaffi sampai membuat keduanya menderita. Gendis hanya tahu Gaffi sekarang adalah anaknya. Namun dia masih penasaran apa yang dimaksud dengan Gyan, Gendis langsung bangkit dari sofa menuju kamar.
Wanita itu meringgis ketika merasakan aura dingin Gyan yang sampai membuat Gendis merasa tidak perlu untuk memasang pendingin ruangan. Wajah pria itu benar-benar terlihat muram sampai membuat Gendis ingin geleng-geleng kepala tapi berusaha untuk menahannya.
“Aku pindahin Gema dulu ke kamar sebelah,” ujar Gendis yang merasa mereka tidak akan bisa berbicara dengan suara tinggi. Setelah mengantarkan Gema ke kamar sebelah dan meminta kedua anaknya untuk mengawasi, Gendis kembali masuk ke dalam kamar.
“Sekarang ceritakan, kenapa kamu bisa sebenci itu sama Gaffi?“ tanya Gendis yang menyender di dinding karena Gyan sudah duduk di pinggiran kasur.
“Gaffi seharusnya enggak ada, kamu dan aku seharusnya juga enggak pernah bersama, Gendis.” Gyan mendongak, menatap ke arah Gendis yang membalas tatapannya. Sayangnya, keterkejutan yang dia harapkan dari wanita itu sama sekali tidak ada. Hanya sebuah kerutan kebingungan yang tercetak jelas.
“Maksudnya?” tanya Gendis bingung.
“Saat itu acara malam kelulusan sekolah, kamu dan aku dijebak oleh orang yang sampai sekarang tidak tahu siapa. Kita melalukan itu, hal yang seharusnya enggak kita lakukan,” cerita Gyan membuat Gendis sangat terkejut, dia tidak menyangka asal-muasal hubungan pemilik asli tubuh ini dengan Gyan adalah kecelakan.
“Saat itu kamu sudah punya kekasih yang sangat kamu cintai dan aku juga akan kuliah. Akhirnya kita sama-sama anggap malam itu tidak pernah ada. Tapi dua bulan kemudian, kamu bilang kalo kamu hamil dan itu anak aku. Kita terpasak menikah, kamu putus dengan kekasih kamu dan aku harus kerja dan berhenti kuliah.“
“Kalo aja Gaffi enggak ada, saat ini aku enggak mungkin cuman jadi karyawan biasa,” gumam Gyan yang merasa tidak puas dengan hidupnya sekarang. Sejak sekolah dia selalu mendapat juara dengan nilai bagus, dia juga sering menjadi langganan juara lomba dan dia akhirnya mendapatkan beasiswa penuh saat kuliah. Tapi karena kehadiran Gaffi, semuanya hancur!
“Kamu yakin bakal jadi sukses walaupun Gaffi enggak ada?” tanya Gendis membuat yang membuat pria itu mengerutkan dahinya bingung. “Apa kamu pernah mikir, kalo kehadiran Gaffi mungkin adalah penolong kamu?”
“Gyan, ekspetasi kamu untuk sukses terlalu besar. Bagaimana kalo kamu udah kuliah dan ternyata kamu tetap jadi karyawan biasa? Kamu mungkin bakal bunuh diri, karena itu enggak sesuai dengan apa yang kamu inginkan.” Gendis sudah banyak bertemu dengan orang-orang seperti Gyan. Mimpi yang membuat mereka terbang tapi lupa bahwa mereka sejak lahir tidak pernah memiliki sayap untuk terus bisa diatas. Mereka mungkin bisa jatuh dengan mudah, tanpa tersisa.
“Lalu pertanyaa aku, kenapa kamu enggak ninggalin aku saat Gaffi lahir? Dengan itu kamu bisa kuliah kan?” tanya Gendis yang heran, bukannya berpisah dengan pemilik asli tubuh ini tapi pria itu malah menambah dua anak. Gendis jadi bingung.
“Aku enggak mau jadi seperti wanita itu yang meninggalkan anaknya,” balas Gyan dengan tatapan penuh kebencian, sakit dan kesedihan.
Gendis tahu yang dimaksud Gyan adalah ibunya. “Tapi, kamu pernah mikir enggak? Apa yang kamu lakukan sama Gaffi itu sama aja yang ibu kamu lakukan sama kamu.”
“Itu beda, Gendis. Aku enggak meninggalkan Gaffi!” seru Gyan berdiri dan berjalan mendekat ke arah Gendis. Bukannya takut, wanita itu juga malah maju selangkah. Ditatapnya bola mata Gyan dengan penuh keberanian.
“Kamu memang ada tapi hadirnya kamu cuman buat luka di hati Gaffi. Kamu dan ibu kamu itu sama aja, Gyan,” maki Gendis sambil menujuk ke arah d**a pria itu. “Kalian emang pasangan ibu dan anak yang paling cocok,” sindir wanita itu lagi sambil tersenyum sinis.
Gyan membeku ketika mendengar apa yang dikatakan Gendis, apa betul dia seperti ibunya? Tapi, bukannya dia tidak meninggalkan Gaffi seperti ibunya dulu yang meninggalkannya?
“Gyan, berhenti menyalahkan orang lain karena kamu enggak bisa seperti apa yang kamu inginkan. Kalo kamu sadar, waktu yang kamu habiskan untuk menyalahkan orang lain itu sia-sia, kamu enggak dapat apa-apa selain rasa benci dari Gaffi.”
Gendis lalu menghela nafasnya panjang sambil geleng-geleng. “Gyan, kalo kamu mau berubah. Kamu masih punya waktu, jangan sampai kamu terlambat dan kehilangan Gaffi selamanya.” Setelah mengatakan hal itu, Gendis langsung keluar dari kamar untuk menemui ketiga anaknya yang sedang menunggu.
Apa Gyan terlalu menyalahkan orang lain karena dia tidak sukses?
Gyan tidak tahu apakah semua ini kesalahannya atau karena kehadiran Gaffi. Pria itu hanya ingin sukses dan membuat ibunya menyesal karena telah meninggalkannya. Hanya itu yang sebenarnya Gyan inginkan.