Part 12 - Ibu Hebat!

2094 Kata
"Ibuk beneran mau antar Abang sama Kakak?" tanya Gavin yang nampak sangat gembira ketika mendengar Gendis akan datang ke sekolahnya. Anak itu lalu memasukan suapan besar ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat sambil menatap ke arah sang ibu yang juga sedang menyuapi Gema. "Iya, Bang. Ibuk mau kenalan sama guru-guru disana," sahut Gendis mengerlingkan matanya membuat Gaffi yang mendengar itu sedikit meringgis. Anak laki-laki itu tidak tahu apa yang akan dilakukan ibunya di sekolah nanti tapi merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi. Gyan yang juga ada di meja makan, tidak mengatakan apapun selain diam dan terus mengunyah sarapannya. Setelah kejadian kemarin, pria itu lebih banyak diam dan terus memikirkan apa yang dikatakan oleh isterinya. Gendis pun sama sekali tidak mengajak Gyan umtuk berbicara, biarlah untuk saat ini pria itu menggunakan otaknya untuk berpikir. "Sip, Dek Gem-gem udah makan. Ibuk ganti baju dulu," kata Gendis memberikan Gema pada Gyan tanpa berbicara dulu. Wanita itu hanya menyengir saat melihat wajah suaminya yang datar. Gendis sama sekali tidak menganggap Gyan sebagai orang jahat setelah mendengar ceritanya kemarin. Wanita itu merasa apa yang terjadi pada suami dadakannya itu pastilah memiliki alasan. Tapi, jika pria itu tidak kunjung berubah juga, maka Gendis akan berpikir lagi untuk tetap bersama Gyan. Toh, Gendis sama sekali tidak mencintai Gyan dan ia rasa pria itu pun sama tidak mencintainya—malah mungkin membencinya. "Ibukk, ayo cepatan kita bentar lagi masuk!" seru Gavin ketika menunggu beberapa menit Gendis yang juga belum keluar dari kamar. Clek! "Iya, ini udah selesai kok." Gendis agak kesusahan dengan pakaian milik Gendis Khalila yang menurutnya tidak up to date, di lemarinya banyak gaun polos yang membuat Gendis benar-benar tidak bisa memakainnya. Untung saja wanita itu memiliki celana jeans dan kemeja yang bisa dipakai Gendis. Saat wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah tiga—empat ditambah Gema yang sibuk mengoceh. Ketiga pria itu nampak mengangga melihat tampilan Gendis. "Ibuk mau kemana?" tanya Gavin yang masih terkejut. Ibunya tidak seperti ibu tiga anak tapi seperti anak muda. "Kan mau anterin Abang sama Kakak," jawab Gendis sambil memasang gendongan lalu membawa Gema ke dalamnya. Wanita itu agak ragu menggunakan gendongan, dia merasa itu sedikit kurang cocok dengan pakaiannya. Tak apalah, tidak ada juga pria yang akan menggodanya jika membawa tiga anak. "Kamu beneran pake itu?" tanya Gyan yang terkejut dangan cara pakaian Gendis. "Iya, kalo pake celana mudah gerak, kamu enggak lihat anak aku udah tiga?” sunggut Gendis yang kadang masih belum menerima takdirnya, jika dulu dia akan selalu mementingkan dirinya sendiri, kali ini malah wanita itu harus memikirkan tiga anak. “Terus aku pake kemaja, karena biar mudah waktu Gema mau nenen—tinggal buka kancing dan turunin bra dikit." "Jangan coba-coba menyusui Gema di tempat sembarangan!" peringat Gyan dengan tajam. "Iya, aku juga tahu kali," angguk Gendis lalu menuju rak sepatu. Karena membawa Gema, wanita itu tidak mengambil resiko memakai sepatu tinggi. Pilihannya lalu jatuh pada flatshoes bewarna abu-abu. "Aku sama anak-anak naik taski online aja, kamu berangkat sendiri," suruh Gendis. "Enggak, biar aku yang anter kalian," tolak Gyan. "Emangnya kami mau taro dimana? Ban? Stang? Atau jok?” tanya Gendis geleng-geleng kepala. "Aku bisa bolak-balik," jawab Gyan membuat Gendis menghela nafasnya panjang. Kalo ia menolak, Gyan pasti akan mengajaknya berdebat dan anak-anak akan dipastikan sudah terlambat datang ke sekolah. “Oke, ikutin apa yang kamu bilang,” pasrah Gendis. Gaffi dan Gavin buru-buru naik ke atas motor Gyan karena akan diantar lebih dulu oleh Gyan sedangkan Gendis dan Gema diantar terakhir. Di dalam perjalanan menuju ke sekolah, Gema nampak kebingungan di gendongan ibunya, balita itu beberapa kali menengok ke arah kiri dan kanan dengab wajah penasaran. Gendis merasa lucu dengan anaknya yang nampak sangat jarang jalan-jalan. "Kamu udah minta maaf sama Gaffi?" tanya Gendis mengalihkan perhatiannya ke arah Gyan. "Belum," jawab Gyan yang merasa butuh waktu banyak untuk merubah pikirannya. Motor yang dikendarai akhirnya sampai di depan gerbang sekolah anak-anak. Gendis tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya meminta pria itu hati-hati. Wanita itu segera masuk ke dalam sekolah dan menemukan Gaffi yang terlihat resah di bangku. Anak itu tak henti-hentinya bergerak dan menengok ke arah gerbang, menunggu kedatangan sang ibu dengan risau. "Abang Apin udah masuk ke kelas?" tanya Gendis yang duduk di samping anaknya. "Udah, Buk," jawab Gaffi yang nampak sangat gugup. "Kakak mau jajan dulu enggak?" tanya Gendis yang agak rindu dengan jajanan sekolah. "Enggak, Buk," geleng anak laki-laki itu, jangankan memikirkan tentang jajan. Malam tadi saja, bocah itu sudah kesusahan untuk tidur. Melihat bahwa anaknya terlalu resah, Gendis terkekeh dalam hatinya dan memutuskan untuk segera pergi. "Ayo kita ke ruangan guru bk," ajak Gendis membuat Gaffi mengangguk. Di dalam perjalanan menuju ruangan BK, kehadiran Gendis sempat membuat beberapa guru sedikit takjub. Wanita itu terlihat sangat muda disaat sudah memiliki anak yang berusia 11 tahun. "Dimana orang tua murid itu, hah?! Saya enggak bisa nunggu lagi!" Gendis terkekeh ketika mendengar teriakan saat sudah mencapi pintu ruangan BK. Ternyawa lawannya adalah ibu-ibu yang saat mengendarai motor, menghidupkan sen kanan tapi malah belok kiri. "Ada apa ibu mencari saya?" tanya Gendis membuka pintu ruangan itu lalu masuk dengan santai. "Kak, jangan masuk. Ini emang ruangan sekolah tapi orang di dalamnya belum tentu sekolah," sindir Gendis pada ibu itu karena tingkah lakunya. "Kamu kurang ajar, pantas aja anak kamu kayak gitu!" tunjuk ibu itu dengan raut penuh kebencian, seolah dia ingin mencabik-cabiki tubuh wanita itu sekarang juga. "Memangnya anak saya gimana, Bu?" tanya Gendis tidak terpancing sama sekali. "Anak kamu udah nyakiti anak saya, lihat!" tunjuknya pada seorang bocah gendut yang sudah babak belur. "Pokoknya saya mau anak kamu dikeluarkan dari sekolah atau bilaperlu saya laporan ke polisi!" "Bu, tenang dulu. Sekolah pasti akan memberikan sanksi pada siswa yang melakukan kekerasan," kata seorang guru muda yang membuat Gendis menatanya sinis. Ia seperti mendengar bahwa mereka akan menghukum Gaffi. "Sebelum ibu bicara panjang lebar, apa ibu punya bukti kalo anak saya yang salah disini?" tanya Gendis menatap ke arah ibu-ibu itu lagi. "Bu Gendis, dilihat dari lukanya sudah jelas kalo Gaffi yang bersalah," ujar guru muda itu yang menyebabkan Gendis terkekeh. "Apa Bu Guru enggak lihat kalo anak saya juga luka? Masalah luka anak itu yang jauh lebih parah dari anak saya, bisa aja dia jatuh karena enggak bisa menahan beban tubuhnya sendiri." "Kamu—-" seru ibu itu menujuk ke arah Gendis dengan mata melotot. "Bu Gendis, saya sudah bertanya dengan para siswa dan mereka sama sekali enggak mengatakan apa-apa tentang kecelakaan ini. Begini saja, saya akan carikan Gaffi sekolah lain sehingga ibu bis—" "Saya mau datang ke kelas Gaffi," putus Gendis mengabaikan perkataan wanita itu. Dia langsung keluar dan melihat anaknya yang sedang menyender di dinding dengan ekpresi termenung. Hal itu tentu saja membuat Gendis merasa semakin ingin berbuat lebih disini. "Kak, anterin ibuk ke kelas Kakak," pinta Gendis yang membuat Gaffi. Anak laki-laki itu mengangguk dan segara membawa Gendis ke kelasnya. Guru BK muda itu dan ibu serta anak yang menjadi lawan Gaffi bergegas menyusul dengan ekpresi resah. Kebetulan sekali kelas Gaffi tidak ada guru yang mengajarnya membuat Gendis langsung masuk dan membuat anak-anak terkejut. "Bu Gendis, tolong hargai saya sebagai guru disini. Kita kembali ke ruangan untuk berbicara," protes guru muda itu lagi. "Apa kalian melihat kejadian dimana Gaffi dan anak itu berkelahi?" tanya Gendis langsung, membuat anak-anak itu saling pandang lalu terdiam beberapa saat sebelum menggeleng. Gendis menyengir di dalam hatinya, wanita itu tidak menyangka juka anak-anak sekarang sudah bisa menutupi kebenaran. "Saya ibunya Gaffi, saya percaya kalo Gaffi tidak bersalah disini," ucap Gendis dengan suara lantang dan membuat semua siswa mendengarnya. "Saya jug enggak peduli kalo akhirnya Gaffi pindah dari sekolah ini, karena saya percaya dengan Gaffi." Gaffi yang mendengar itu merasakan hatinya bergetar penuh haru, anak laki-laki itu berusaha untukmenahan air matanya yang hendak keluar. Perkataan ibunya seolah air terjun saat hatinya penuh dengan kekeringan saat tidak ada yang membelanya. Dulu dia selalu ingin merasakan kasih sayang orang tuanya, terlebih lagi sang ibu. Tapi, anak laki-laki itu hampir putus asa dan berhenti berharap bahwa dirinya akan disayang penuh kasih. Namun semuanya berubah setelah sang ibu mengalami kecelakaan yang melukai otaknya. Gaffi akhirnya bisa mengerti apa itu kasih sayang seorang ibu. Gaffi berjanji, dia akan melakukan apapun membuat ibunya senang. "Sekali lagi, say tahu kalo Gaffi enggak bersalah," ulang Gendis yang sudah membuat anak-anak itu resah. "Tapi, bagaimana kalo hal terjadi sama Gaffi, terjadi sama kalian juga. Apakah ada yang bisa mempercayai kalian?" Anak-anak itu seketika berubah menjadi ketakutan, mereka tahu orang tua mereka tidak seperti Gendis yang bisa mempercayai mereka, biasanya orang tua hanya menilai dari apa yang mereka lihat, membayangkan menjadi Gaffi membuat mereka jadi takut. "Kalian masih punya kesempatan untuk berbicara," pancing Gendis lagi dengan senyum miringnya saat melihat anak-anak itu tidak bisa duduk tenang lagi. "Tante, Roni deluan yang cari masalah sama Gaffi. Dia ngerebur bekalnya Gaffi," seru seorang murid sambil mengangkat tangannya. “Iya, Tante. Roni yang salah!” seru anak-anak lain. "Mamanya Roni sama Bu Guru itu juga bilang kalo kami diam aja, nanti dikasih hadiah,” tambah seorang murid paling depan membuat Gendis yang mendengar itu tertawa. Gendis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ibu Roni dan guru muda itu yang nampak pucat. Ia buru-buru maju, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menolak fakta yang diucapkan anak-anak. "Bu Gendis, ini hanya salah paham. Tenang saja, Gaffi tidak perlu keluar dari sekolah." “Iya, kamu enggak perlu ganti rugi. Masalahnya selesai, ayo Roni kita pulang!” ajak ibu itu pada anaknya dengan terburu-buru. "Tentu saja tidak semudah itu," sebuah suara yang lantang membuat mereka semua sontak menoleh ke arah pintu dimana seorang pria dengan stelan jas mewah berdiri disana dengan wajah yang nampak marah. "Pak Andre," panggil bu guru muda itu terkejut ketika melihat penyumbang besar bantuan di sekolah ini. Andre berjalan masuk ke dalam kelas disusul dengan wakil kepala sekolah yang memang menemani pria itu, mereka kebetulan mendengar apa yang terjadi di dalam kelas saat lewat. "Kamu benar-benar memalukan sekolah!” seru wakil kepala sekolah itu nampak marah melihat guru muda itu. “Pak, tolong maafin saya. Ini semua karena ibu Roni yang menyuruh saya,” kata guru muda itu membuat ibu Roni langsung melotot mendengarnya. “Dasar! Kamu juga sudah menerima uangnya!” “Itu semua tergantung dengan Bu Gendis sebagai orang tua siswa yang dianiaya,” kata Andre sambil menatap ke arah Gendis dengan tatapan rindu yang meluap-luap. Gendis kembali menatap keduanya yang memohon belasnya. Tapi, sayangnya Gendis tidak akan peduli dengan mereka, alasan wanita itu berada disini hanya karena Gaffi. “Biarkan mereka dikeluarkan dari sekolah,” ucap Gendis sambil menatap dengan sinis ke arah keduanya. “Wanita itu muda itu terlalu berbahaya untuk menjadi guru disini atau tidak pernah cocok untuk menjadi guru!” caci Gendis yang tidak peduli dengan wanita muda itu sudah menangis. “Ibu dan anak itu juga keterlaluan, mereka harus mendapat balasan agar tidak melakukannya lagi!” “Bu Gendis tenang saja, tanpa ibu minta bahkan kami dari sekolah sudah akan mengeluarkan keduanya!” ujar wakil kepala sekolah itu mengangguk ke arah Gendis. “Kalo gitu saya ucapkan terima kasih, Pak. Hari ini saya izin untuk membawa anak saya pulang, anak saya masih shock.” Setelah disetujui Gendis langsung menggandeng Gaffi keluar dari kelas, wanita itu bisa merasakan tatapan pujian penuh kekaguman dari putranya. “Ibuk hebat,” puji Gaffi tulus membuat Gendis mengembangkan senyumnya. Hati wanita itu seketika dibanjiri dengan kebahagiaan mendengar itu, mungkin karena dikehidulan sebelumya sering mendapat pujian palsu. Gendis sangat-sangat bahagia dengan pujian Gaffi. “Iya dong, ibuknya siapa gitu?” tanya Gendis sambil menaik-turunkan alisnya. “Ibuknya Abang!” seru Gavin yang tiba-tiba muncul membuat Gendis tertawa. “Abang kenapa disini? Kenapa bawa tas juga?” tanya Gendis bingung. “Abang bilang mau pergi sama ibuk, jadinya izin deh,” cengir anak laki-laki itu membuat Gendis geleng-geleng. “Oke, untuk hari ini kita bolos sekolah dan jalan-jalan!” seru wanita itu yang membuat anak-anak berseru, bahkan Gema melonjak-lonjak di gendongan. “Gendis,” panggil seseorang membuat wanita itu menoleh. Ketika melihat Andre, senyum di bibir wanita itu seketika langsung hilang dan digantikan dengan wajah datar. Andre langsung terkejut merasakan perbedaannya, padahal sejak tadi memperhatikan Gendis, wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. “Ada apa?” tanya Gendis langsung. Andre mengepalkan tangannya, jantungnya tiba-tiba berubah berdetak kencang. Ia gugup namun ingin tetap mengatakannya sejak pertama kali bertemu dengan wanita itu lagi. Andre sudah memikirkannya matang-matang, ia tidak bisa menundanya lagi. “Ada apa, Pak Andre?” tanya Gendis lagi yang agak kesal. “Gendis, berpisahlah dengan suami kamu dan aku akan menikahi kamu. Aku siap jadi ayah yang baik dari anak-anak kamu dan anak kita nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN