Part 13 - Andre

1474 Kata
“Ibuk! Ibuk! Ini makan ramennya enggak boleh makan pake tangan? Abang enggak bisa pake sumpit!” sunggut Gavin yang menatap sedih ke arah mangkok ramen miliknya yang belum juga disentuh. “Hah? Masa pake tangan, Bang. Sini ibuk ajarin,” kata Gendis sambil menggengam tangan mungil Gavin untuk menggunakan sumpit pada ramen. “Nah, itu kan bisa. Pelan-pelan aja.” Gavin memberikan jempolnya sambil menyeruput ramennya yang cukup panjang. Gendis yang melihat itu terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Gendis, aku juga enggak bisa pake sumpit.” Gendis mendongak, menatap ke arah pria dewasa yang membuat raut wajahnya berubah datar. “Cari di internet, jangan manja!” Andre yang mendengar itu merenggut, menarik kembali mangkok ramennya dengan sedih. Kalian tidak salah menebak jika saat ini Andre sedang bersama Gendis dan anak-anaknya di salah satu restoran jepang yang sederhana. Ini semua bermula ketika Andre yang ajakan menikahnya ditolak mentah-mentah oleh Gendis. Pria itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti wanita bersera anak-anaknya sampai di pinggiran jalan, ketika mengetahui bahwa mereka membutuhkan tumpangan, Andre langsung siap menawarkan diri. Gendis sebenarnya tahu ada yang tidak beres dari Andre tapi ketika membayangkan yang yang bisa dihemat karena tak perlu mengeluarka uang ongkos, membuat Gendis dengan terpaksa harus mensetujuinya. “Enak enggak, Kak?” tanya Gendis pada Gaffi yang makan dengan senyum yang tak henti-henti mengembang sejak pertama kali masuk kesini. Gendis sebenarnya ingin mengajak Gaffi ke restoran yang lebih mewah dari ini tapi merasa bahwa suasana hati anaknya sedang tidak bagus, wanita berpikir inilah waktu yang tepat untuk mengajak Gaffi mencicipi semangkok ramen. “Enak, Buk!” seru anak laki-laki itu menyengir, membuat Gendis sedikit terpana dengan ketampanan anaknya. Sayang sekali, pasti nanti akan ada banyak hati yang dipatahkan oleh putranya. “Makasih ya ibuk, udah ajak Kakak kesini.” “Iya, sama-sama,” angguk Gendis sambil menepuk-nepuk pelan kepala Gaffi. “Jangan lupa makan ayam goreng yang itu ya, Buk!” seru Gavin yang tidak ingin ketinggalan membuat Gendis lagi-lagi mengangguk. Andre sama seakali belum menyentuh ramen yang ada di depannya. Bagi pria itu, hal yang lebih menarik adalah melihat bagaimana interaksi Gendis dengan anak-anaknya, penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Andaikan tiga anak laki-laki itu adalah putranya, maka Andrea akan jadi orang yang paling bahagia. Jangankan memiliki anak bersama Gendis, wanita itu saja tidak sudi tersenyum ke arahnya. “Masih enggak bisa juga pake sumpit?” tanya Gendis yang melihat Andre malamun, pria itu tersentak dan tak sengaja menggelengkan kepalanya. Pria itu memang tidak bisa menggunakan dua batang kayu tipis itu. Gendis mendengus, mengambil sumpit milik Andre dan meletakannya di atas dua lembar tisu dengan posisi ujung kepala yang saling berhadapan. Lalu ia menggulung tisunya dan membengkokkan di bagian ujung tisu sehingga menjadi seperti capit. “Kalo enggak bisa juga, makan pake tangan aja!” “Makasih, Gendis,” jawab Andre yang merasa hatinya sangat senang dengan perlakuan Gendis. Pria itu yakin bahwa mantan kekasihnya itu masih memiliki sisa rasa yang tertinggal. “Hem,” sahut Gendis sambi menggigit tempura miliknya dengan nikmat. Wanita itu bisa makan dengan santai karena saat ini Gema sedang tidur, walau ia harus menampung remahan tempura miliknya agar tidak mengenai wajah sang anak. Restoran Jepang ini sering Gendis kunjungi di kehidupan sebelumnya, bukan karena harganya yang murah karena Gendis tidak akan mempemasalahkan tentang uang. Tapi, karena dia menyukai suasana tenang Restoran ini yang memang jarang penuh. Saat ini mereka sedang duduk di bagian atas dimana hanya ada mereka yang ada disini. “Ibuk mau dong udangnya,” pinta Gaffi sambil menggigit bibirnya ngiler. “Ambil aja yang Om,” tutur Andreas cepat memberikan piringnya pada Gavin. “Gaffi kalo mau juga, Om pesanin lagi?” tawar pria itu yang membuat Gendis menatap Andre sedikit lama. Wanita itu tahu kalo pria di depannya ini adalah mantan kekasih Gendis Khalila, pemilik tubuh asli ini. Seperti apa yang diceritakan oleh Gyan, Gendis Khalila berpisah dengan kekasihnya karena menikah dengan Gyan. Sudah bertahun-tahun berlalu, kenapa pria itu mengejar Gendis Khalila lagi yang saat ini ditempati oleh Gendis Ruli Indiarta. “Enggak usah, Om. Gaffi udah kenyang,” tolak Gaffi sambil menggeleng, berbeda dengan Gavin yang sudah memasukan tempura kedua ke dalam mulutnya. Bunyi tangga kayu yang dipijak membuat orang-orang diatas meja itu menoleh ke arah tamu baru yang akan datang ke lantai atas. Namun, tidak ada yang mengalihkan pandangannya saat melihat tamu itu adalah Gyan yang datang bersama seorang wanita. Gendis yang pertama kali mengalihkan pandangannya, wanita itu kembali makan dengan santai seperti tidak menganggap bahwa pria yang sedang menatapnya tajam itu adalah suaminya. “Ibuk, itu ayah,” bisik Gavin yang merasa takut karena mereka tidak sekolah. “Iya, enggak papa,” sahut santai Gendis. “Gendis, apa yang kamu lakuin disini?!” tanya Gyan yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekat ke arah meja Gendis. “Kamu enggak lihat? Aku lagi makan disini,” balas Gendis ketus yang kembali memancing amarah Gyan. “Enak ya kamu, Gendis!” sinis Gyan menatap ke arah wanita itu yang sekarang mendongak. “Aku capek-capek kerja cari uang, kamu malah enak-enak makan di luar sama pria lain!” Gyan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Andre dengan tajam yang dibalas dengan tatapan tidak peduli oleh pria itu. “Kamu cuman tahu ngehabisin uang!” seru Gyan lagi yang hatinya membara melihat Gendis bersama Andre. “Pantas uang sama kamu selalu habis!” Andre yang mendengar itu melotot, pria itu sudah hendak membalas ucapan Gyan yang sangat kasar pada isterinya sendiri. Namun, nampaknya kesabaran Gendis sudah habis. Wanita itu tidak bisa tinggal diam lagi saat dicaci. “Itu karena uang kamu terlalu sedikit,” balas Gendis sambil tersenyum miring. “Coba kamu bandingkan sama Andre, dia jauh lebih kaya!” lanjut wanita itu sambil menatap Andre membuat pria itu langsung menegakan tubuhnya dengan perasaan bahagia yang membabi buta. “Gendis, kamu keterlaluan!” seru Gyan yang membuat Gendis mecibir di dalam hatinya. “Sebenarnya apa yang kamu mau, Gyan? Aku udah minta pisah sama kamu tapi kamu sendiri yang enggak mau. Aku cuman bawa anak-anak untuk coba makan disini dan kamu segitu marahnya?!” maki Gendis yang tidak habis pikir dengan Gyan yang selalu berpikiran buruk. Apa sejelek itu Gendis Khalila di matanya? “Oke, kalo kamu enggak mau aku nghabisin uang kamu!” seru Gendis. “Mulai detik ini, aku enggak akan nyentuh uang kamu. Tapi, mulai sekarang juga kamu urus diri kamu sendiri!” “Mbak Gendis, Kina rasa kalo apa yang Mbak Gendis bilang itu terlalu gegabah,” kata Kina yang sejak tadi diam dibelakang Gyan. Gendis memutar bola matanya, tidak anak ataupun ibu, dua-duanya suka ikut campur. “Kamu adik tirinya Gyan atau isteri keduanya? Enggak usah ikut campur,” ketus wanita itu membuat Kina membeku. “Gendis, jaga bicara kamu sama adik a—-“ “Jangan marahi ibuk aku!” seru Gaffi tiba-tiba membuat Gyan dan Gendis yang melihat itu langsung terdiam. “Ayah bolehi marahi aku tapi jangan pernah marahi ibuk!” “Buk, Kakak udah selesai makan. Ayo kita pulang,” ajak Gaffi yang tidak mau lama-lama disana, membuat Gendis yang menarik nafasnya sebentar sebelum mengangguk. Gavin yang juga marah karena Gendis dimarahi oleh Gyan juga langsung meninggalkan kursi walaupun makannnya masih tersisa. Andre tentu tidak akan berada disana lebih lama, pria itu ikut bangkit namun sebelum pergi dari sana, Andre berjalan mendekat ke arah Gyan. “Kalo lo enggak mampu untuk hidup sama Gendis, lepasin! Gue siap bahagian Gendis dan anak-anak!” Ekspresi wajah Gyan berubah semakin buruk mendengar apa yang dikatakan oleh Andre, pria itu seperti memberi bensin di atas tumpukan jerami. Membakar hangus hanya dalam sekejap. “Sialan!” geram Gyan yang menumpahkan kemarahannya. “Mas Gyan, tenang,” ujar Kina meminta pria itu duduk agar lebih tenang. “Mbak Gendis emang udah keterlaluan tapi jangan sampe kemarahan itu buat sesuatu yang buruk ke tubuhnya Mas Gyan.” Gyan berulang kali mengatur nafasnya agar lebih tenang, ia berusaha menjernihkan pikirannya yang tadi langsung membara ketika melihat Gendis bersama pria lain. "Kalo Kakak mau makan apa?" "Kakak mau makan ramen, Buk. Kepala pria itu seketika langsung tertuju ke arah mangkok bekas makan Gendis dan anak-anak. Itu ramen. Gyan tiba-tiba merasakan tubuhnya menegang ketika menyadari bahwa Gendis mungkin pergi kesini karena ingin membuat Gaffi merasakan semangkok ramen. Tapi, kenapa Gendis harus bersama mantan kekasihnya?! Apa wanita itu tidak bisa pergi sendirian kesini? Memikirkan wanita itu yang sendirian kesini dengan tiga anak—satunya masih balita membuat Gyan lagi-lagi terdiam. Pria itu buru-buru bangkit dari kursinya, mengabaikan panggilan dari Kina dan terus berlari hingga sampai di parkiran Restoran. Tapi sayangnya, Gyan tidak menemukan Gendis dan anak-anaknya. “Lo bego banget Gyan!” maki pria itu pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengatur emosinya sendiri yang selalu meledak, harusnya ia bertanya terlebih dahulu pada Gendis bukannya salah menyalahkan wanita itu. Sekarang pria itu yakin kalo Gendis mungkin tidak akan mudah untuk memaafkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN