Chapter 14 - Negoisasi Cinta

1671 Kata
“Thanks ya, Yan, udah ngerjain tugas kantor sampe lo pulang telat, habisnya udah deadline sih. Kapan-kapan nanti gue traktir lo pizza.” “Iya, Bang,” jawab Gyan dan atasannya itu segera meninggalkannya. Gyan tidak terlalu peduli dengan ajakan atasannya itu, paingan itu hanya basa-basi dari atasannya karena membuat Gyan pulang terlambat. Pria itu baru saja menyelesaikan tugas yang harusnya dikerjakan besok oleh Gyan tapi atasannya itu tiba-tiba meminta harus diselesaikan malam ini juga. Karena tidak mungkin menolak, Gyan hanya bisa menyetujuinya. Setelah selesai membereskan barang-barang di atas meja kerjanya, Gyan mendongak melihat ke arah jam dinding yang menujukan pukul 9 malam. Pria itu tidak akan pulang tergesa-gesa seperti dulu lagi jika harus lembur, karena semenjak perubahan isterinya itu, Gyan tidak lagi khawatir. Pria itu yakin sekarang anak-anaknya tengah bermain dengan perut kenyang, malah sekarang Gyan yang kelaparan. Memikirkan tentang isterinya, membuat Gyan jadi mengingat kejadian pagi tadi di restoran Jepang. Saat itu ia sedang menemani Kina untuk membeli sesuatu. Lalu saat ditengah perjalanan, adik tirinya itu mengajak Gyan untuk mencoba menu makanan di restoran Jepang, dimana ia bertemu dengan Gendis dan anak-anak bersama seorang pria—yang merupakan mantan kekasihnya. Tapi, Gyan benar-benar menyesal karena langsung marah dan mengatakan sesuatu yang jahat, perkataannya tentu saja membuat Gendis marah dan terluka hatinya. Gyan menghela nafasnya panjang mengingatnya lagi, pria itu buru-buru menuju parkiran untuk menemui motornya yang tinggal sendirian disini. Ia pun langsung memacu motornya, menyantu dengan kendaraan lain di atas jalanan. Di tengah perjalanan, Gyan menimbang-nimbang untuk meminta maaf atau tidak pada Gendis. Selama bertahun-tahun, pria itu tidak pernah meminta maaf pada isterinya karena Gendis lah yang selalu salah. Dan sekarang, Gyan sudah memutuskan untuk meminta maaf pada isterinya itu. Tidak mungkin Gyan hanya meminta maaf dengan tangan kosong, pria itu harus membelikan sesuatu seperti makanan yang disukai isterinya. Tapi, apa?! Gyan berdecak kesal ketika sedang menunggu lampu menjadi hijau. Hampir 11 tahun menikah, pria itu tidak tahu apa makanana kesukaan isternya. Gyan yakin jika teman-teman kantornya tahu, mereka akan menjadi ini gosip selama seminggu saat makan siang. Karena tidak tahu apa makanan kesukaan Gendis, Gyan mulai berpikir apa yang mungkin disukai wanita. Tiba-tiba martabak manis terlintas di pikirinnya, pria itu segera memacu motornya saat lampu menjadi hijau menuju tempat yang menjual martabak. Gyan turun dari motornya dengan percaya diri, merasa yakin pasti Gendis akan menyukainya. “Pak, martabaknya satu!” pesan pria itu. “Oke, Mas. Mau rasa apa? Pake toping? Masaknya dikeringin atau masih basah-basah sedikit?” “Hah?!” tanya Gyan tercengang, ia terkejut ketika mendengar banyapk pertanyaan penjual martabak itu. Ia tidak menyangka jika membeli martabak saja cukup rumit. Melihat kebingungan Gyan, penjual itu langsung memberikan daftar menu. Sebegitu banyak varian ini, mana yang mungkin Gendis suka? Gyan seketika kembali pusing. “Masnya mau beli untuk siapa?” tanya penjual martabak yang melihat kebingungan Gyan. “Untuk isteri saya, Pak,” ujar Gyan yang merasa agak ganjal, mungkin karena ia jarang membelikan sesuatu khusus untuk Gendis. “Lho masa Masnya enggak tahu kesukaan isterinya? Baru menikah ya?” tanya Bapak itu membuat wajah Gyan agak masam. Pria itu ingin mengatakan hahwa mereka sudah menikah 10 tahun lebih tapi ia takut bapak itu terlalu terkejut. “Coklat aja, Mas. Enggak ada yang enggak suka sama coklat,” kata penjual itu membuat Gyan berpikir sebentar sebelum mengangguk. Pria itu lalu duduk di kursi plastik untuk menunggu, mengalihkan pandangannya ke arah para pengunjung yang juga sedang makan langsung disini. Kelopak mata Gyan menyipit ketika melihat sepasang suami isteri yang sedang suap-suapan di disini. Demi apa?! Apa mereka tidak malu? Bukannya Gyan iri dengan tingkah laku mereka yang membuat jomblo sedih, hanya saja menurutnya sepasang suami itu terlalu berlebihan. Gyan kembali mengalihkan pandangannya namun beberapa detik kemudian, pria itu kembali menatap ke arah sepasang suami isteri itu lagi. Melihat mereka, Gyan merasa hubungan pernikahannya dengan Gendis tidaklah seperti pernikahan. Mereka hanyalah dua orang yang tinggal di rumah yang sama dan kadang-kadang saling membantu dalam hubungan seksual. Gyan dulu pernah bermimpi memiliki pasangan yang mencintainya. Tapi, ternyata takdir mempertemukan dan mengingkat Gyan dengan sosok Gendis yang memilili pria yang dicintainya. Semua mimpi tentang hubungan pernikahan dengan penuh dengan cintai, hilang seketika. Pria itu sebenarnya sudah mencoba beberapa kali mencintai Gendis agar pernikahan mereka bisa berubah. Tapi, setiap kali dia berusaha, ingatan tentang Gendis yang terpaksa menikah dengannya membuat Gyan mengurungkan niat. Bagaimana jika suatu saat nanti Gendis kembali dengan pria masa lalunya dan meninggalkan Gyan sudah jatuh hati? Ia akan menjadi pria yang paling menderita saat itu terjadi. “Ini, Mas, pesanannnya udah jadi.” Gyan tersentak dari lamunannya dan buru-buru membayar dan membawa pulang martabak. Pria itu kembali memacu sepeda motornya menuju rumah. Ketika sampai di gerbang perumahannya, Gyan berharap Gendis belum tidur. Tapi, mengingat hari yang sudah malam, Gyan jadi ragu seketika dan memutuskan untuk memasukannya ke dalam kuklas. Sesampainya di halaman rumahnya, Gyan tertegun ketika melihat lampu ruang tamu masih menyala. Apa Gendis menunggu kepulangannya? Sayang sekali, tebakan pria itu salah. Gendis belum tidur karena wanita itu baru saja menyelesaikan pekerjaan freelance pertamanya. Wanita itu sangat-sangat lelah dan juga lapar sekarang. Ketika mendengar suara motor Gyan, Gendis berjalan malas untuk membukakan pintu yang sebelumnya dikunci. Melihat pria itu, membuat Gendis kembali merasa emosi. Ekspresi wajahnya berubah jadi datar. “Makan malam masih ada, seterah kamu mau panasin atau enggak. Aku mau tidur.” “Gendis,” panggil Gyan saat wanita itu hendak berbalik. “Apa lagi?” sahut Gendis datar tanpa berbalik. “Aku bawain martabak rasa coklat untuk kamu,” tutur Gyan yang merasa gugup. Gendis tertegun, wanita itu memutar tubuhnya dan menatap ke arah Gyan dengan kelopak mata yang menyipit. Ia pernah mendengar cerita karyawannya dulu yang pernah ditipu setan yang berubah menjadi orang terdekatnya. Buru-buru Gendis mundur dan memasang ekpresi awas. “Kamu kenapa?” tanya Gyan bingung. “Kamu bukan jelmaan setan kan? Kok tiba-tiba bawa martabak?” tanya Gendis membuat Gyan tersenyum getir. Apa selangka itu dia membawakan sesuatu untuk isterinya? “Ini beneran aku, Gendis. Suami kamu,” jawab Gyan dengan sedikit datar membuaf Gendis langsung percaya. Siapa lagi memang yang sumbu emosinya terlalu pendek di dunia ini kecuali Gyan? “Ini beneran untuk aku martabaknya? Kamu ngabisin uang aja untuk aku,” sindir Gendis membuat hati Gyan langsung tidak nyaman. “Gendis, aku minta maaf soal kejadian tadi siang.” Gyan berjalan mendekat ke arah Gendis yang ingin mundur, sayangnya ada sofa dibelakangnya. “Aku—aku langsung merasa marah saat lihat kamu bersama Andre.” “Kamu cemburu?” tanya Gendis terkejut, bukannya Gyan tidak mendintai Gendis Khalila? “Aku anggap seperti itu,” angguk Gyan yang juga bingung dengan perasaannya. “Apa kamu cinta sama aku?” tanya Gendis yang disambut gelengan kepala oleh Gyan. “Terus kenapa kamu cemburu?” tanya Gendis yang bingung sendiri. Bukannya seseorang akan cemburu jika pasangan yang dicintainya bersama orang lain? “Ngelihat kamu bersama pria lain, buat aku ingat waktu ibu kandung aku yang meninggalkan ayah dengan pria lain,” jawab Gyan getir, sudah lebih dua puluh tahun namun luka yang ditorehkan ibunya pada hari itu membuat Gyan tidak bisa melupakannya. Gendis langsung tertegun ketika mendengarnya, lagi-lagi wanita itu terkejut dengan masa kecil Gyan yang cukup mengenaskan. Pantas saja pria itu sangat marah saat melihatnya bersama Andre yang secara tidak langsung memicu trauma Gyan. “Kamu tahu enggak, Andre pagi tadi ngelamar aku dan minta aku pisah sama kamu,” cerita Gendis yang langsung membuat bola mata Gyan seperti ingin keluar dari kelopak matanya. “Apaa?!” seru Gyan emosi. Gendis memutar bola matanya, malas. “Kamu bisa tenang sedikit enggak? Ayo masuk dulu, aku yakin nanti tetangga pada bangun kalo dengan suara kamu.” “Apa jawaban kamu?” tanya Gyan setelah duduk di sofa, pria itu tidak bisa tenang sebelum mendengar jawaban Gendis. “Aku tolak lah,” jawab Gendis santai. Wanita itu lalu membuka bungkus martabak dan memakannnya dengan santai. “Kenapa?” tanya Gyan heran, bukannya Gendis mencintai mantan kekasihnya? Tunggu. Apakah ini tanda bahwa Gyan harus berusaha mencintai Gendis lagi? “Kalo dia cinta, Andre bakal memperjuangkan aku setelah Gaffi lahir. Tapi, pria itu pergi dan enggak kembali, jadi aku anggap kami memang bukan jodoh.” Setelah mengatakan hal itu, Gendis tiba-tiba merasakan sakit di dadanya. Seperti menolak apa yang baru saja dia katakan. Apa ini sisa dari perasaan Gendis Khalila? Apakah wanita itu begitu mencintai Andre? “Gendis, apa kamu cinta sama aku?” “Hah?” tanya Gendis terkejut. “Apa kamu cinta sama aku?” ulang Gyan lagi. Cinta? Di kehidupan sebelumnya dulu, Gendis merasa tidak pernah merasakan cinta. Wanita itu bukannya tidak mau mencoba tapi setiap kali dekat dengan seseorang, ada saja yang membuat Gendis tidak menyukainya. Awalnya wanita itu mengira ada yang salah dengannya namun ia sadar, bukan Gendis atau pria itu yang salah. Mungkin ia memang tidak ditakdirkan untuk merasakan cinta. Menurut Gendis, cinta itu hanya sebuah kesedihan. Seperti orang tuanya yang berpisah dan jatuh cinta lagi dengan orang lain, saar mereka bahagia dengan cinta baru. Gendis malah merasakan kesedihan karena hal itu. “Aku enggak cinta sama kamu, Gyan,” jawab Gendis, karena memang wanita itu tidak pernah merasakannya. “Kalo gitu aku akan cinta sama kamu dan kamu juga cinta sama aku,” ucap Gyan membuat Gendis terkekeh. Ia seperti sedang mendengar negosiasi dengan klien, dimana mereka saling membutuhkan. “Aku serius, Gendis,” tutur Gyan dengan wajah datar lagi. “Kita perbaiki rumah tangga ini.” “Bukan hanya sekedar dua orang yang tinggal bersama tapi pasangan suami dan isteri yang saling mencintai!” Gyan terlihat benar-benar serius, pria itu nampak ingin memperbaki rumah tangganya. Gendis yang melihat itu tidak bisa bisa tertawa lagi. Tapi, apakah ia bisa jatuh cinta dengan Gyan yang pemarah? “Oke, kita coba,” balas Gendis yang tidak bisa menolaknya. Sedetik kemudian, ia merasakan tubuh Gyan mendekat dan sesuatu yang hangat menempel ke bibirnya membuat bola bola Gendis langsung melebar. Tunggu, apa ini?! “Manis,” bisik Gyan dengan seringai, wajahnya sekarang begitu dekat dengan Gendis. “GYAN SIALAN! DASAR MESUMMMM!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN