Chapter 15 - Ibu

1749 Kata
“Sssstt, lima menit aja, Gem. Ibuk ngantuk banget,” gumam Gendis sambil memejamkan kelopak matanya ketika mendengar rengekan anaknya yang terbiasa terbangun tengah malam. “Nenenen…” “Pabrik susunya tutup dulu, udah malam,” balas Gendis sambil meletakan kakinya diatas bantal gulingnya yang entah sejak kapan menjadi lebih keras. Gendis membeku ketika di dalam tidurnya saat merasakan ada yang tidak beres, ia merasakan seseorang bernafas di atas kepalanya. Wanita itu buru-buru membuka kelopak matanya dan sangat terkejut ketika melihat d**a bidang seseorang. Ini bukan bantal gulingnya tapi ini Gyan! Dalam hitungan beberapa detik, Gendis langsung melompak dan menjauh dari Gyan dengan ekpresi yang seperti baru saja dinodai kepolosannya. Sejak kapan Gendis memeluk Gyan, hah?! Gendis memejamkan matanya menahan amarah, sudah dua kali dia dilecehkan oleh Gyan. Wanita itu ingin sekali rasanya menghajar pria itu namun karena merasa tidak lucu saat orang mengetahui bahwa Gyan memar karena dihajar isterinya, wanita itu berusaha menahan kesabarannya. “Nenenen…” Gendis mengalihkan pandangannya ke arah Gema yang sudah terduduk dengan tangan mengarah padanya. Wanita itu terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, membawa Gema ke dalam pelukan. “Gem, kamu jangan ikutin kebisaan mesumnya Ayah, enggak baik!” Gema tidak menjawab, balita itu hanya menatap ke arah Gendis sambil terus menyedot sumber makanannya. Gyan yang sejak tadi jadi bahan caci Gendis perlahan terbangun saat mendengar suara-suara umpatan Gendis umtuknya. “Kamu lagi ngapain?” tanya pria itu masih setengah sadar. “Ngasih makan tuyul, ya jelas ngasih makan anak kamu!” ketus Gendis yang masih tidak terima dipeluk oleh Gyan. “Jangan duduk kayak gitu, nyandar aja,” saran Gyan saat melihat Gendis menyusui Gema sambil duduk tanpa menyandar ke dinding. Pria itu segera mengambil bantal milik Gendis dan diletakan di dinding agar isterinya itu visa menyandar. Gendis berpikir dulu apakah ini modus baru milik Gyan atau bukan, setelah mencium bahwa ini murni karena pria itu ingin dirinya tidak lelah saat menyusui, Gendis buru-buru menyandar dan sedikit menghela nafas lega. Gyan langsung merubah posisinya sejajar dengan Gendis—meletakan bantalnya di dekat dinding agar isterinya bisa meluruskan kaki. Gendis lagi-lagi curiga sebelum akhirnya melepaskan pengawasannya. “Gema nyusunya cuman yang disebelah kanan?” tanya Gyan membuat Gendis yang hendak memejamkan kelopak mata kembali terbangun. “Iya, Gema emang lebih suka di bagian kanan,” jawab Gendis yang juga sedikit bingung dengan tingkah putra Gyan yang aneh itu. Jika anaknya berprilaku baik, maka Gendis akan menganggap anaknya. Tapi kalo bertingkah aneh, sudah pasti anak Gyan. “Katanya menyusui itu harus kiri sama kanan, sini aku bantu yang kiri,” ceetuk Gyan dengan santai namun tidak Gendis yang langsung melototkan matanya ke arah Gyan. “Nyusu aja sama sapi sana, bebas kamu mau pilih kiri kanan!” seru Gendis yang kembali emosi. Gyan terkekeh melihah ekpresi isterinya yang langsung berubah seperti ingin menelan orang. “Aku bercanda, biar kamu enggak bosan nyusuin Gema.” Gendis tidak percaya kalo lelaki itu bercanda, kenapa Gendis sama sekali tidak tertawa ataupun senyum? Ia yakin itu hanya alasan Gyan saja yang mencoba mencari peruntungan. Sayang sekali, Gendis belum siap diunboxing oleh pria itu. Beberapa menit kemudian, Gema yang sudah kenyang kembali tertidur. Gendis kembali meletakan anaknya di dekat dinding, ketika hendak merebahkan tubuhnya lagi, Gendis tiba-tiba meraesa awas seolah sedang tertidur dengan serigala berbulu domba. Namun karena merasa ngantuk, Gendis akhirnya hanya bisa pasrah tidur di samping Gyan. Baru beberapa menit wanita itu memejamkan kelopak matanya namun, Gendis kembali bangun ketika merasakan tangan Gyan di perutnya. “Gyan, tangan kamu bisa sopan dikit enggak?” tanya Gendis yang apinya kembali tersulut lagi. Bukannya mengangkat tangan, Gyan malah memeluk erat pinggangnya membuat Gendis mengatur nafasnya saat merasa hendak meladak. Namun sebelum wanita itu bisa protes, Gendis tiba-tiba merasakan tubuhnya merinding ketika mendengar bisikan Gyan. “Gendis, apa kamu enggak rindu sama aku?” tanya Gyan dengan suara serak. “Eng—enggak, kita kan ketemu setiap hari,” jawab Gendis gugup karena sekarang mereka begitu dekat. Jantung wanita itu sekarang sudah tidak lagi berdetak normal, berdetak kencang dan membabi-buta. Apa ini waktunya untuk Gendis melepaskan apa yang dia jaga? Walaupun secara fisik tubuh ini sudah melakukannya, secara jiwa Gendis tidak tahu apa-apa. Jika memang ini sudah waktunya, Gendis ingin Gyan lebih pelan karena banyak cerita tak mengenakan saat peetama kali melakukannya. Cupp! “Tidur, udah malam,” bisik Gyan lagi mendepatkan tubuhnya ke tubuh sang isteri sambil memejamkan kelopak mata. Gendis kembali membeku, tunggu sebentar, apa yang terjadi? Gyab tidak jadi melakukannya? Astaga, padahal jantung wanita itu sudah hendak lepas dari tempatnya namun ternyata lelaki itu malah bercanda? Gendis seketika sedikit merasa kesal sampai ubun-ubun kepalanya ingin meledak. Tapi, Gendis sedikit senang karena sejujurnya dia belum siap. Wanita itu kembali memejamkan kelopak matanya dan tertidur lebih cepat dari biasanya, entah itu karena lelah atau karena bantal guling baru milik Gendis. ——— Rutinitas kehidupan Gendis menjadi seorang isteri dan ibu dimulai sejak pagi hari—memasak sarapan dan membereskan rumah. Untungnya, pria yang menjadi suami dadakan Gendis itu bukanlah pria yang menjatuhkan semua kerjaan rumah dan anak pada isteri. Gyan akan selalu membantu Gendis membangunkan anak-anak dan menjaga Gema selagi wanita itu sibuk di dapur. Di era ini, dimana laki-laki sekarang menganggap mengurus anak itu hanya urusan ibu, membuat Gendis cukup terkesan dengan Gyan. Banyak dulu karyawan perempuannya memiliki karir yang menjanjikan namun harus mundur karena harusmengurus rumah dan anak saat sang suami tidak menyutui isterinya bekerja. Itulah mengapa memilih suami bukanlah yang mudah. “Kamu nanti mau dibawain apa?” tanya Gyan ketika Gendis mengantarnya dan anak-anak sampai di teras rumah. “Pengen cilor yang ada di Bandung,” jawab Gendis membuat Gyan yang mendengarnya langsung memasang wajah datar. Gendis menyengir, “enggak, bercanda. Bawain aja buah-buahan aja, udah pada habis di kulkas.” Gyan mengangguk lalu memberikan tangannya kepada Gendis untuk disalim. Wanita itu tidak bisa menolak dan segera melakukan ritual suami-isteri bahagia. Gaffi dan Gavin yang melihat kedua orang tuanya agak akur, sedikit bingung namun merasa bahagia. Mereka sekarang merasakan rumah lebih ramai, tidak sepi seperti dulu. Apalagi sekarang setiap pergi sekolah, mereka mendapatkan sarapan yang enak dan bekal yang luar biasa. Dan, setiap kali pulang sekolah, mereka akan selalu menebak-nebak apa yang dibuat oleh Gendis. “Dadah Gemaaa!” seru Gavin sambil melembaikan tangannya ketika motor yang dikendarai Gyan keluar perkarangan rumah. Gendis balas melambaikan tangan Gema sambil mendengar bayi itu terkikik. “SAYUR! SAYURRR!” Gendis langsung tersenyum lebar ketika mendengar ada tukang sayur yang lewat, kebetulan ia ingin membuat sop siang nanti namun ada bahan yang kurang. “Gem, kita pergi ke tukang sayur?” “Giiii!” seru Gema yang melonjak-lonjak. “Oke, kira-kira kamu bisa ditukar sama kentang enggak ya, Gem?” tanya Gendis sambil terkekeh, wanita itu lalu keluar dari perkarangan rumahnya dan menuju tukang sayur. Setibanya Gendis disana, ada beberapa ibu-ibu yang juga sedang membeli sayuran. Mereka semua nampak terkejut ketika melihat Gendis keluar rumah dan mengunjungi tukang sayur. “Duh, ini matahari enggak terbit dari barat kan?” tanya salah satu ibu-ibu melihat ke arah Gendis. “Sebentar jeng, saya buka google dulu,” sahut salah satu ibu-ibu yang mengalungkan ponselnya di lehernya. “Aman, jeng. Rundown acaranya matahari masih kayak biasa.” Gerobak tukang sayur itu tidak panjang, tentu saja Gendis bisa mendengarnya. Namun wanita itu tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh ibu-ibu itu, ia hanya ingin membeli sayur dan pulang. Masih banyak kerjaan yang harus dikerjakannya. “Mbak Gendis mau masak apa?” tanya seorang ibu-ibu yang masih nampak muda. Gendis tidak ingin menjawb sebenarnya tapi mengingat bahwa ia bukantinggal di lingkungan apartement dimana orang-orang lebih individual, maka Gendis setidaknya menjawab pertanyaan dari ibu-ibu disini “Mau masak sop ayam,” jawab Gendis membuat wanita itu mengangguk. “Kayaknya enak ya, Mbak. Soalnya saya kedarangan terus Gavin bilang masakannya enak dari sebelah.” Gendis terkejut ketika tahu bahwa wanita itu adalah tetangganya yang persis disebelah rumah. Wanita itu mengingat-ingat apa yang biasa dilakukan tetangga kepada tetangga lain agar lebih dekat. Oh, memberi makanan kan? Mungkin sesekali Gendis akan menyuruh anaknya untuk mengantar makanan kesana. “Mbak Gendis, itu bukannya ibu sama adiknya Mbak Gendis?” tanya ibu-ibu yang yang pertama kali julid tadi. Gendis mengalihkan pandangannya ke arah rumah, ia melihat seorang remaja lelaki dan wanita paruh baya turun dari motor yang nampak butut. “Buruan balik Mbak, kayaknya mau minjem duit lagi.” “Minjam duit?” tanya Gendis bingung. “Kita-kita semua sering dengar dari mertuanya Mbak Gendis—Buk Sari, kalo ibunya Mbak Gendis sering pinjam duit.” Gendis sedikit tercengang ketika mendengar Sari juga bergosip dengan ibu-ibu disini. Tapi, melihat tingkahnya, membuat Gendis tidak terkejut. Seseorang bisa dinilai dari sikap dan perbuatannya. Setelah selesai membeli apa yang dia butuhkan, Gendis buru-buru kembali ke rumah. Ia bisa semakin jelas melihat sosok adik dan ibu dari Gendis Khalila. Gendis menebak usia dari remaja lelaki itu baru 15 tahun, tubuhnya nampak lebih kurus dan wajahnya sedikit tirus. Namun yang nampak lebih menyedihkan adalah wanita paruh baya berada disampingnya, raut wajah wanita itu nampak lelah dan guratan usianya begitu terlihat, berbeda dengan Sari yang walau terlihat sederhana namun terawat. Sekilas saja, Gendis bisa menebak bahwa keluarga Gendis Khalila nampak tidak baik-baik saja. “Gendis,” panggil wanita paruh baya itu dengan senyuman yang tulus membuat Gendis tertegun, ia belum pernah melihat seseorang tersenyum seperti ini padanya. Semua penuh rencana dan tipu muslihat. “Ini uang yang ibu pinjam kemarin, ibu sama ayah minta maaf kalo telat balikinnya. Ibu sama ayah juga minta maaf karena enggak datang waktu Gendis sakit, soalnya ibu sama ayah dapat kerjaan di luar kota. Kamu ingat kan Pak Cahyo tentangga kita? Dia ngajak ibu sama ayah kerja jadi pelayan di restorannya yang ara diluar kota. Walaupun cuman sebulan, hasilnya lumaayan.” “Ibuk beliin makanan manis kesukaan kamu, ini juga makanan untuk Gyan dan cucu-cucu ibu,” kata wanita paruh baya itu lagi yang tidak melepaskan senyum dan binar matanya. “Sini ibu yang gendong Gema. Kamu pasti capek kan? Hari ini biar ibu aja yang jaga Gema dan masak. kamu istirahat aja.” Tunggu, tunggu. Gendis tidak bisa menerima perhatian dan kasih sayang ini secara bertubi-tubi seperti ini. Hatinya tiba-tiba menghangat dan kelopak matanya memanas. Sejak pindah ke tubuh ini, Gendis salalu merasa kehidupan Gendis Khalila sangat suram namun wanita itu memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa Gendis dapatkan dengan uang dan kekuasaannya. Kasih sayang ibu. “Buk, kita pulang aja! Ini yang buat aku enggak mau ngantar ibu ke rumah Mbak Gendis. Ibu bakal dijadiin pembantu sama Mbak Gendis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN