“Rian, kenapa bicara kayak gitu? Ibu enggak suka!” tegur Rima pada putra bungsunya yang sekarang langsung merubah wajahnya menjadi merengggut. Remaja lelaki itu ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi mengatakan apa-apa saat melihat wajah sendu ibunya.
Hanya remaja itu yang tahu jika ibunya sudah sejak lama ingin bertemu dengan kakak perempuannya. Namun karena terhalang dengan pekerjaannya, Rima harus menahan rindunya untuk tidak bertemu dengan Gendis.
“Sebenarnya ada yang mau Gendis kasih tahu, gimana kalo kita masuk dulu?” ajak Gendis pada ibu dan adiknya, membuat kedua orang itu menatap Gendis dengan dahi mengerut. Ekpresi Rima tiba-tiba menjadi khawatir, wanita itu tahu betul bahwa pernikahan putri keduanya itu sangat sulit.
“Iya, iya, ayok masuk, kasihan Gema kepanasan,” angguk Rima sambil menarik Rian untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika sudah masuk ke ruang tamu, Rima dan Rian sedikit terkejut. Pasalnya, ruangan ini sekarang berubah menjadi lebih rapi dan tertata. Rima bahkan tidak menyangka jika ruangan tamu ini dirapikan, ternyata membuatnya terlihat menjadi lega.
“Rian,” panggil Gendis. “Kamu ambil jus jeruk di kulkas, bawa kesini. Oh, iya, bawa cangkir juga,” suruh Gendis membuat Rian mengangga. Remaja itu ingin protes namun keberu disela oleh Rima yang menolak.
“Enggak usah, Gendis. Ibu air putih aja, jus jeruknya kasih sama Gaffi dan Gavin aja. Mereka pasti haus kalo pulang sekolah.”
“Ambil, Rian,” suruh Gendis lagi dengan nada sedikit memerintah, membuat Rian jadi takut untuk menolak.
Remaja lelaki itu segera pergi menuju dapur dan membuka pintu kulkas. Alangkah terkejutnya Rian saat melihat isinya, ia tahu betul bagaimana kondisi isi kulkas sebelum menjadi rapi dan penuh seperti itu. Kulkas itu kosong melompong, bahkan sampai ada bagian yang berkerak.
Rian meneguk ludahnya susah payah ketika melihat banyak cemilan dan roti di dalam kulkas, namun remaja itu buru-buru mengambil jus jeruk dan menutupnya kembali. Walau ini milik kakak kandungnya namun karena mereka sudah berpisah rumah, maka Rian tidak bisa seenaknya.
Remaja itu kembali ke ruang tamu, Gendis mengerutkan dahinya bingung. “Kenapa kamu enggak bawa cemilan?”
“Kan cuman jus jeruk yang disuruh,” jawab Rian polos namun berharap bisa mengambil sesuatu dari sana.
“Enggak usah, Gendis. Si Rian itu udah besar!” tolak Rima lagi membuat bahu Rian lemas.
“Ambil aja tapi jangan agar-agar, itu punyanya Gavin. Anak itu pasti ngambek kalo agar-agarnya habis.”
“Siap, Mbak!” angguk Rian dengan senyum lebar, buru-buru kembali menuju dapur.
Rima entah merasa tak nyaman, biasanya setiap kali datang ke rumah putrinya maka Gendis akan selalu mengabaikannya. Wanita paruh baya itu tidak merasa kesal dengan perlakuan putrinya, ia tahu bahwa itu semua karena perilaku tak adil Rima dan suaminya pada sang putri.
“Buk, mau?” tawar Rian sambil membelah roti dengan isian full coklat.
“Jangan kasih, Rian,” sela Gendis saat Rima hendak menerima belahan roti dari remaja itu. Rian langsung merubah wajahnya menjadi marah, apalagi ketika melihat wajah sendu ibunya. Apa kakaknya itu tidak mengizinkan Rima untuk makan?
“Kamu ambil lagi aja, itu enggak akan kenyang kalo dibagi,” sambung Gendis membuat Rima dan Rian tercengang.
“O—oke, Mbak,” angguk Rian kembali ke dapur.
Rima lalu menerima bungkus roti yang diberikan oleh Rian. Wanita itu meremas ujung bungkusnya saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Tapi, buru-buru ia mengingat bahwa putrinya ingin mengatakan sesuatu. “Gendis, apa yang mau kamu bilang? Kamu baik-baik aja kan dengan Gyan?”
“Gendis baik-baik aja kok, Buk,” jawab Gendis, wanita itu terdiam sebentar untuk merangkai kata bahwa Gendis kehilangan ingatannya. Namun, wanita itu sedikit penasaran bagaimana reaksi Rima saat tahu bahwa putri kandungnya sudah tiada?
“Waktu Gendis masuk Rumah Sakit kemarin, Gendis kehilangan ingatan.”
“Apa?! Mbak Gendis hilang ingatan yang kayak di sinetron itu?“ tanya Rian dengen tangan yang memegang roti. Gendis lalu mengangguk.
“Tapi, Gendis baik-baik aja kan nak? Dokter enggak bilang ada sesuatu yang buruk kan?” tanya Rima yang tidak peduli, ia hanya ingin tahu bahwa Gendis baik-baik saja.
“Selain kehilangan ingatan, Gendis baik-baik aja, Buk.”
Rian mengangguk-angguk, ia sekarang tahu alasan perubahan kakak perempuannya itu. Remaja itu juga merasakan yang sama seperti Rima, senang karena Gendis sekarang memperlakukan ibunya dengan baik. Tapi, ia sedikit penasaran dengan apa yang menyebabkan kakaknya kecelakaan. Apa jangan-jangan karena kakak iparnya?
“Mbak Gendis kenapa bisa kecelakaan?” tanya Rian yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Mbak enggak tahu, Yan,” geleng Gendis yang sebenarnya juga sangat ingin tahu penyebab bagaimana Gendis Khalila bisa meninggal. Mungkin ia bisa bertanya pada Gyan nanti.
Gendis cepat mengetahui tentang keluarga Gendis Khalila. Pemilik asli tubuh ini memiliki ayah dan ibu yang masih bersama, satu kakak perempuan dan adik laki-laki yaitu Rian yang saat ini sedang menunggu hasil kelulusan SMP-nya. Sedangkan kakak perempuan, bernama Geisha yang saat ini bekerja di perusahaan yang cukup ternama.
Entah ini karena perasaan Gendis Khalila yang masih ada, Gendis dengan cepat akrab dengan keduanya. Jika Rima cendrung lembut dan sedikit penakut, maka Rian sangat jujur dan memiliki selera humor yang bagus.
Ketika jam hampir menujukan waktu makan siang, Gendis mengajak Rima untuk memasak bersama sedangkan Rian menjaga Gema yang tidak ingin tidur siang.
Pekerjaaan Gendis membuat makan siang, lebih cepat selesainya karena ada bantuan dari Rima. Keahlian wanita paruh baya itu sangat baik, Gendis bahkan kagum. Ia tiba-tiba teringat dengan Rima dan Agung yang bekerja menjadi pelayan, kenapa mereka tidak membuat usaha makanan saja?
“Gendis, udah siang. Ibuk sama Rian pulang dulu,” ujar Rima namun Gendis menahan tangan berkerut wanita paruh baya itu untuk tidak bergerak. “Makan disini dulu, Buk.”
“Enggak usah,” geleng Rima yang nampak sedikit ketakutan.
“Ibuk takut nanti Mas Gyan pulang makan, Mbak,” celetuk Rian membuat Rima jadi meringgis.
“Emangnya kenapa, Rian?” tanya Gendis langsung pada adiknya.
“Mas Gyan kan enggak suka sama Ibuk dak Bapak karena sering minjam uang,” jawab Rian dengan ekpresi sedikit marah dan sedih. Andaikan saja Rian yang lahir lebih dulu dari kedua kakaknya, ia ingin membuat kedua orang tuanya tidak perlu bekerja dan harus terpaksa meminjam uang untuk menutupi kekurangan di rumah.
Gendis menggerutkan dahinya, serius Gyan sampai tidak menyukai keluarga Gendis Khalila karena itu? Dilihat dari jumlah pinjaman dan waktu pengembalian, tidak ada yang masalah dengan itu. Gendis rasanya ingin protes namun ia ingat jika yang mencari uang adalah Gyan, maka ia tidak bisa memerahi pria itu.
Ah, susahnya menjadi wanita tidak memiliki penghasilan.
“Jangan dengerin apa yang dibilang Rian, Gendis,” ujar Rima yang tidak ingin hubungan putrinya dan sang suami menjadi buruk. Dialah yang harus disalahkan karena menganggu keluarga putrinya.
“Ibuk sama Rian boleh pulang tapi harus bawa sayur dan lauknya. Bapak di rumah kan?” tanya Gendis yang ingin ditolak namun wanita itu menggelengkan kepalanya dan langsung menyiapkan senua yang dibawa, ia bahkan menambahkan roti dan cemilan ke dalamnya membuat Rima jadi khawatir.
“Buk, Gendis sekarang udah kerja dari rumah. Jadi ibuk enggak usah khawatir, kalo pun butuh uang, hubungin aja Gendis.”
Air mata yang sudah lama ditahan Rima akhirnya jatuh. Wanita paruh baya itu sesegukan sambil membawa Gendis ke dalam pelukannya. Gendis awalnya sedikit terkejut, tubuhnya membeku namun saat merasakan ketulusan dari Rima membuatnya memeluk balik wanita paruh baya itu.
Sejak awal, Gendis selalu mengumpat dengan kehidupan barunya. Kali ini ia mengucap syukur karena di kehidupan ini bisa merasakan kasih sayang ibu yang tidak pernah dirasakannya.
Gendis lalu mengantar Rima dan Rian sampai mereka meninggalkan rumah. Saat wanita itu hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah motor matic masuk ke dalam perkarangan rumah. Ekpresi Gendis langsung berubah menjadi buruk saat melihat Gyan yang kembali untuk makan siang. Pagi tadi pria itu bilang kalo dirinya mungkin akan kembali karena tidak memiliki pekerjaan.
“Gema mana?” tanya Gyan menatap ke arah isterinya dengan senyum hangat.
“Tidur!” ketus Gendis membuat Gyan langsung menggerutkan dahinya bingung.
“Kamu kenapa?” tanya pria itu membuat Gendis menghela nafasnya panjang.
“Ibu sama Rian tadi kesini,” tutur Gendis yang tidak ingin berbasa-basi. Saat melihat raut wajah Ryan yang berubah tidak suka, Gendis langsung tahu apa isinya.
“Ibu kamu pasti minjam uang lagi?” tanya Gyan.
“Kenapa kalo emangnya ibu aku pinjam uang lagi?” tanya Gendis langsung menantang Gyan.
“Kamu bilang kenapa? Kamu tahu kan kalo keuangan kita itu pas-pasan?” tanya Gyan sambil mendengus.
“Kalo gitu biarin aku kerja, biar kalo keluargaku mau pinjam uang, enggak akan ganggu uang kamu.”
“Anak-anak gimana, Gendis?” tanya Gyan menatap wajah isterinya dengan berkerut.
“Ya kamu juga jagalah, anak kamu juga kan?” tanya Gendis. “Apa anak-anak orang tuanya cuman aku?” tanyanya lagi sambil mendengus.
“Aku udah ngorbanin diri untuk jaga anak-anak satu harian full! Tapi, kamu merasa keberatan bantu keluarga aku?” tanya Gendis berdecih.
“Apa karena aku nikah sama kamu? Aku harus jadi enggak peduli sama keluarga aku?” tanya Gendis lagi, Gyan yang sejak tadi terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa. Jika dilhat, ia memang egois. Ia membuat Gendis selalu di rumah tapi ketika keluarga Gendis datang meminjam uang, ia tidak suka. Tapi itu karena dia punya alasan.
“Gendis, kamu tahu apa yang buat aku enggak suka minjamin uang sama ibu dan bapak kamu?” tanya Gyan sambil menghela nafasnya, suara pria itu sedikit melembut karena ia yakin Gendis tidak akan mengerti walau dengan suara besar.
“Karena kamu pelit,” jawab ketus Gendis sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Astaga, Gendis,” desah Gyan. “Aku enggak suka minjemin duit sama keluarga kamu itu semua karana uang yang dipinjem itu buat kakak kamu foya-foya!” tandas Gyan membuat Gendis yang mendengar itu tercengang.
“Bukannya kakak aku itu kerja di perusaan yang cukup terkenal?” Gendis pernah mendengar sesekali perusahaan itu walau tidak bisa dibandingkan dengan perusahaannya dulu bekerja.
“Kakak kamu itu kayaknya udah salah pergaulan, aku sebenarnya udah pernah bilang ini sama orang tua kamu. Tapi, aku enggak tahu kenapa mereka belum juga berhenti.” Mungkin karena wajahnya yang garang dan perkataannya yang sedikit pedas, orang tua Gendis mengira Gyan tidak suka.
“Wah, kalo kayak gini bukan kamu yang salah!” seru Gendis membuat Gyan yang mendengar itu langsung mengembangkan senyumnya. “Besok-besok deh aku bakal tanya ini lebih lanjut.” Jujur saja, walau Gendis ingin membantu keluarga Gendis Khalila tapi dia tidak bisa membantu jika masalah seperti ini.
“Makasih kamu udah ingatin keluarga aku,” ucap Gendis sambil menepuk-nepuk bahu suaminya.
“Apa aku enggak dapat hadiah?” tanya Gyan.
Gendis mendengus. “Emangnya kamu mau apa?” tanyanya.
“Aku mau kamu, Gendis.”