Chapter 17 - Ketahuan! (18+)

1595 Kata
“Kamu tadi ketiduran ya di kantor? Kok jadi ngelindur gini?” tanya Gendis yang langsung menjadi salah tingkah mendengar permintaan pria itu. Gendis ingin pergi dari sana, namun wanita itu langsung membulatkan matanya ketika Gyan malah maju dan sialnya lagi-lagi Gendis tersudut karena ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bergerak. Ia sekarang berada tepat di belakang dinding yang berada di samping pintu. Dengan gerakan cepat, Gyan langsung menutup pintu rumah membuat Gendis kembali panik. “Ka—kamu mau apa, Gyan?” tanya Gendis yang tambah panik ketika pria itu memajukan wajahnya sehingga jarak mereka sangat dekat sekarang. “Apa kamu enggak mau, Gendis?” tanya Gyan lirih di dekat telinganya membuat tubuh wanita itu menegang. Gendis hendak mengatakan bahwa ia belum menginginkan hal itu namun mulutnya tertahan. Walau ia dulu sering tidak peduli dengan sekitarnya, Gendis masih mendengar sesama karyawan perempuannya yang sudah menikah bercerita tentang suami mereka yang selalu menutut untuk melakukan hal itu. Gendis sedikit takut, jika memang Gyan tidak bisa menahannya lagi. Pria itu akan mencari pelampiasan di luar sana. Wanita itu buru-buru menggelengkan kepalanya, saat pikiran itu terlintas. “Malam,” ujar Gendis cepat. “Malam aja, oke?” Setidaknya Gendis butuh waktu untuk mempersiapkan diri kan? “Oke, aku akan tagih malam nanti,” ujar Gyan dengan seringai. Pria itu mundur dan berbalik membuat Gendis akhirnya bisa menghela nafas dengan lega. Pikiran wanita itu yang awalnya tertuju untuk mengerjakan tugas, sekarang malah memikirkan untuk malam nanti. Kira-kira apa yang harus Gendis lakukan? Baju apa yang harus ia kenakan? Dan, gaya apa yang kira -kira cocok untuk malam nanti? Apa ia harus latihan mendesah dulu?! “Gendis, kamu udah makan siang?” tanya Gyan yang sudah berada di dapur. Gendis yang mendengar itu tersentak, buru-buru menggelengkan kepalanya saat pikiran kotor itu terlintas di dalam otaknya. Wanita itu langsung menuju dapur dan melihat Gyan yang sudah mengisi piringnya dengan lauk dan nasi namun belum menyentuhnya. “Kalo kamu belum makan siang, ayo makan sama-sama,” ajak pria itu membuat Gendis mengangguk. “Tapi, aku lihat Gema dulu. Kamu makan aja deluan,” kata Gendis langsung menuju kamar, ia menahan kegemasannya untuk tidak menganggu Gema saat tidur. Setelah memastikan balita itu masih terlelap, Gendis kembali ke dapur dan melihat Gyan masih belum menyentuh makan siangnya. Tanpa menunggu lagi, Gendis buru-buru mengambil nasi dan lauk. Barulah Gyan menyantap makan siangnya dengan lahap. “Gyan, aku mau nanya sesuatu,” tutur Gendis di sela-sela makannya. “Hemm?” dehem pria itu tidak melepaskan sendok dari genggaman tangannya. “Kamu tahu penyebab aku bisa kecelakaan?” tanya Gendis yang sangat penasaran. Gyan mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan isterinya. Sejujurnya, pria itu juga tidak tahu. “Aku juga enggak tahu, Gendis. Waktu itu aku tahu kalo kamu udah di Rumah Sakit. Satpan gedung kosong itu yang menemukan kamu tergeletak di ruangan kosong.” “Maksudnya aku ditemuin terluka di gedung kosong?” tanya Gendis. “Jadi kamu enggak tahu kalo aku itu luka emang enggak sengaja atau sengaja?” “Maksud kamu?” tanya Gyan heran. “Gimana kalo sebenarnya ada seseorang yang celakai aku?” tebak Gendis membuat raut wajah Gyan berubah. Pria itu langsung melepaskan sendok di tangannya dan menatap ke arah dahi Gendis, dimana area itu penuh dengan darah berapa hari yang lalu. Sangking tidak pedulinya Gyan dengan Gendis yang dahulu, ia tidak mencari tahu apa yang terjadi pada isterinya. Ia hanya menganggap itu kelalaian Gendis sendiri. Tapi, setelah isterinya berubah dan tahu bahwa kemungkinan ada yang melukai isterinya, Gyan merasa tidak nyaman. “Gimana kalo orang yang celakai aku itu enggak puas karena ternyata aku enggak mati dan dia mau bunuh aku lagi?” tanya Gendis yang sedikit tertarik, sejak dahulu wanita itu memang menyukai film yang berbau detektif. Rasanya sangat keren bisa memecahkan masalah. “Jangan bicara omong kosong,” tegur Gyan. “Gimana kalo benar? Tapi, enggak papa sih kalo memang aku kembali diincar. Kamu kan bisa nikah lagi enggak? Iya kan?” sahut Gendis membuat Gyan mendengus. “Enggak usah bicara aneh-aneh,” ulang tegur pria itu membuat Gendis mendengus. Padahal asik menjadi detektif, Gyan terlalu kaku! Setelah makan siang, Gyan menemui Gema sebentar sambil mendengar ancaman isterinya yang tidak menganggu balita itu bangun. Tidak ingin memancing emosi isterinya, pria itu hanya berbaring sebentar di samping putranya sebelum akhirnya mencium dahi Gema dan keluar dari kamar. Gyan keluar dari kamar dan menatap ke arah Gendis yang berada di depan laptop sedikit lama. Sampai sekarang, ia masih belum terbiasa dengan Gendis yang bekerja. Namun, setiap kali melihat isterinya bekerja, Gyan merasa seperti melihat sosok petinggi perusahaan yang sedang bekerja. “Kamu udah mau balik?” tanya Gendis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Iya,” angguk Gyan membuat Gendis mendongak. Wanita itu lalu bangkit dari posisinya, menemani Gyan sampai di teras rumah. “Gendis,” panggil Gyan ketika pria itu hendak memasang helm. “Jangan buka pintu kalo kamu enggak kenal.” “Iyaaaa…” sahut Gendis menyender ke dinding. “Jangan iya aja, nanti kamu buka pintu untuk orang asing,” beritahu Gyan lagi membuat Gendis gemas. Wanita itu menyesal bertanya tentang kecelakaan Gendis Khalila tadi. “Enggak akan aku buka, Gyan. Kamu tenang aja. Udah sana, buruan balik kantor!” usir dengan cerewet, Gendis masih ingin mengerjakan tugasnya. “Hati-hati di rumah, telepon aku kali ada sssuatu,” tambah Gyan lagi membuat Gendis mendengus dan langsung masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu. Gyan ingin marah karena Gendis mengabaikannya. Tapi, pria itu tiba-tiba tertegun saat merasa sesuatu yang asing padanya. Kenapa ia sangat takut akan terjadi sesuatu pada Gendis? Apa benih cinta itu sudah tumbuh atau Gyan tidak ingin kehilangan tukang masak gratisnya? “Buruan pergi Gyan Surendra!” seru Gendis dari jendela yang ternyata masih memantau pria itu. Gyan sangat terkejut ketika mendengar teriakan Gendis. Pria itu menghela nafasnya dan buru-buru memacu sepeda motornya. Gendis menghela nafasnya lega ketika Gyan akhirnya berangkat, wanita itu kembali duduk ke posisi semula saat ia bekerja. Hanya sampai setengah jam Gendis bisa fokus, sampai akhirnya wanita itu menutup semua pekerjaanya dan membuka situs dewasa. Wanita itu benar-benar tidak menyangka akan melakukan hal setidak penting itu. Selama hampir 32 tahun hidup Gendis, baru kali ini lah ia memikirkan tentang kebutuhan seksual ya yang biasa tertutupi dengan stress pekerjaaannya. Gendis menonton video dewasa itu sambil berjaga-jaga antara Gema yang bangun atau Gaffi dan Gavin yang kembali. Melihat bahwa suasana tenang, Gendis kembali fokus dengan video dewasa bak itu adalah hasil presentasi kerjanya yang akan ditampilkan besok. “Ngghh… ahhh…” Glekk! “Ibukkk, Abang pulang!” seru Gavin dari luar membuat Gendis langsung menutup laptop dan mengumpat. “s**t!” Wanita itu buru-buru mengatur nafasnya yang menggebu-gebu sebelum membuka pintu. Ia berusaha tersenyum saat melihat senyum cerah kedua anaknya. “Ibuk demam? Kok wajahnya merah?” tanya Gaffi yang membuat Gendis membeku. Jangan sampai anaknya tahu bahwa ibu mereka sedang panas karena habis menonton video dewasa. “Abang sama Kakak capek kan? Ayo buruan masuk, ganti baju dan makan siang.” Untung saja kedua anaknya sedang kelaparan membuat mereka bergegas, Gendis akhirnya bisa bernafas lega. Wanita itu segera melupakan apa yang ada di laptopnya saat Gema tiba-tiba bangun karena lapar. Gendis menyusui Gema sambil menemani kedua anaknya makan siang, barulah ia mengajak mereka tidur siang sebelum sorenya bangun untuk bermain bersama. Gyan pulang saat sorenya, pria itu langsung bergabung bermain dengan ketiga putranya. Sudah beberapa hari ini hubungan Gyan dan Gaffi tidak memiliki kemajuan seperti yang diharapkan oleh Gendis. Wanita itu ingin suami dan putra sulungnya kembali akur, namun nampaknya itu tidak mudah. Saat malam tiba, Gendis akan menyusui Gema sambil tiduran di kamar putranya untuk menemani mereka tidur. Mereka akan bercerita tentang banyak hal, kadang-kadang Gendis akan membacakan dongeng walau pada akhirnya ia mekritik cerita itu yang terlau indah. Gendis membawa Gema kembali ke kamarnya, wanita itu lalu keluar untuk mengambil minum. Saat ia melihat ke ruang tamu, alangkah terkejutnya Gendis melihat Gyan yang membuka laptop. Gendis lupa menghapus daftar pencarian video dewasanya! Wajah wanita itu kini benar-benar terasa panas karena malu. “Aku enggak tahu kalo kamu suka nonton ginian,” celetuk Gyan sambil mendongak dengan senyuman lebar. “Daripada nonton, lebih baik kita langsung praktek!” “Ah, itu tadi yang nonton…” “Siapa? Kamu nonton sama siapa?” tanya Gyan yang sudah beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke arah Gendis. Suasana lampu rumah yang sudah padam setengah membuat Gendis meneguk ludahnya. Pria itu memejamkan kelopak matanya ketika merasakan jemari Gyan mengelus wajahnya hingga berhenti di bagian bibirnya. Gendis merasakan pria itu mengelus bibirnya pelan sebelum merasakan bibir pria itu menempel. “Ugh…” Gendis mengalungkan lengannya sedikit kaki leher sang suami. “Anghh..” erang wanita itu ketika Gyan tiba-tiba meremas bongkongnya. “s**t, Gyan. Jangan berhenti!” umpat Gendis yang sudah melupakan akalnya. “Kamu mau dimana?” tanya Gyan melepaskan ciuman mereka, menatap ke arah isterinya yang sudah kacau dengan bara. “Dimana aja, asal jangan di kamar!” Gendis tidak mau menodai anak-anaknya. “Sofa?” tanya Gyan yang langsung diangguk Gendis. Jika tadi Gyan, kali ini Gendis yang menekan pria itu dengan ganas membuat sang pria sedikit terkejut namun sangat menikmatinya. “Pelan-pelan aja, malam masih panjang,” guman Gyan ketika mengecup ujung bongkahan kembar milik isterinya. “Jangan lama-lama disana, entar susunya Gema habis,” lirih Gendis yang berusaha menahan desahannya agar tidak membuat ketiga anaknya bangun akibat tingkah ayah dan ibu mereka yang sangat panas. Gyan mengabaikannya, pria itu menggigit n****e isterinya membuat Gendis menggeram. “Kali ini Gema harus bagian sama Ayahnya,” gumam pria itu sambil menyengir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN